Terlepas dari cerita tentang pemberontakan pada masa Khulafaur Rasyidin, terdapat Cheap Jerseys pula cerita tentang keberhasilan-keberhasilan umat Islam yang gemilang. Taraf hidup dan kesejahteraan buruh dan rakyat pada umumnya semakin ditingkatkan. Undang-undang ditegakkan, mulai dari urusan pengelolaan tanah hingga ke urusan pembagian harta rampasan perang.

Semua ini adalah indikator bahwa pemerintahan Khulafaur Rasyidin dijalankan dengan sistem yang demokratis, di mana upaya pemenuhan kesejahteraan  rakyat, baik yang muslim maupun non-mmuslim, menjadi perhatian pemerintah. Wilayah-wilayah Islam pun semakin meluas berkat keberhasilan melakukan penaklukan terhadap negara-negara kafir yang belum diperintah sesuai ajaran Islam, yang mengutamakan keadilan dan kesejahteraan rakyatnya.

Dalam konteks sosial politik yang demokratis inilah, pidato-pidato Khulafaur Rasyidin berikut disampaikan. Terdapat banyak tema, diantaranya : kontrol rakyat terhadap pemerintah, egaliterianisme pejabat, tanggung jawab pemerintah terhadap rakyat, hingga persoalan pemecatan pejabat Yılbaşı negara yang Cheap Jordans cacat moral dan hukum. Tema-tema ini hanya dapat dikonsumsi oleh masyarakt yang demokratis, dengan pemerintahan yang demokratis pula.




A. Kontrol rakyat terhadap pemerintah dan kekuasaan

Dalam sejarah pemerintahan Islam, khususnya era Khulafaur Rasyidin, kritisme rakyat terhadap penguasa sangat dijaga, membudaya, sehingga pemerintahan tidak anti-kritik. Seorang cheap jordans online Khalifah Utsman bin Affan membuka dirinya untuk dikritik. Bahkan, Umar bin Khattab rela membayar orang yang sanggup mengkritik dan menemukan kesalahan dirinya dalam memimpin rakyat dan negara. Kritik adalah upaya kontrol rakyat terhadap penguasa, dan ini merupakan nilai universal yang melekat pada tatanan politik demokratis.

Hal ini seperti yang tergambar dalam hadits berikut :

Salah satu dari taktik politik Utsman bin Affan ra, yang syar’i adalah menempatkan seorang pemimpin negara dan pemerintahan layaknya orang kebanyakan. Hakim boleh dikritisi dan diingatkan apabila berbuat kesalahan, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Diriwayatkan dari Alqamah bin Waqash, ia berkata; Amr bin Ash ra berkata kepada Utsman bin Affan ra, yang sedang berada di atas mimbar, “Wahai Utsman, sesungguhnya engkau telah menempuh perjalanan yang sangat berat dengan memikul amanah umat ini. Bertobatlah engkau. Ajaklah rakyatmu untuk ikut bertobat kepada Allah.”

Alqamah bin Waqash berkata; “Kemudian Utsman bin Affan segera memalingkan wajahnya menghadap kiblat. Ia mengangkat kedua telapak tangannya sambil berdoa; ‘Ya Allah, aku memohon ampun kepada-Mu, aku bertobat kepada-Mu’. Melihat Khalifah Utsman berdoa, semua orang turut mengangkat tangan” (HR. Ibu Sa’ad).

Selanjutnya, Amr bin Ash ra, mengkritik Khalifah Utsman bin Affan di hadapan para sahabat yang lain. cheap football jerseys Tidak ada seorang pun yang mengingkari dan melarang sikap Amr bin Ash. Ustman pun segera turun dari mimbarnya saat diminta oleh Amr. Utsman segera beristighfar dan bertobat kepada Allah.

Sebagian sahabat memilih cara lain dalam memberi nasihat, yaitu secara sembunyi-sembunyi. Seperti yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, bahwa Usamah menasehati Utsman dengan cara sembunyi-sembunyi.”

 

bersambung…

Oleh Oakleys Outlet : Chairunnisa Dhiee (sumber : buku ‘Pidato Para Khalifah’ karya Dr.H.Abd. Halim, M.A)