4. Melakukan muhasabah dan kontemplasi

Kontemplasi dengan melakukan muhasabah diri merupakan momentum perbaikan yang sangat berarti bagi setiap muslim. Muhasabah adalah menghitung kembali tindak tanduk, dengan kalkulasi kejujuran yang tak menyisakan setitik pun arogansi. Betapa tidak mudahnya manusia untuk jujur kepada dirinya sendiri. Upaya perbaikan diri juga berkait erat dengan kebutuhan seorang muslim akan bekal di hari akhiratnya kelak. Karenanya, fungsi muhasabah dan kontemplasi sangat penting. Begitulah Al Qur’an mengajarkan kepada kita, “Dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS. Al Hasyr: 18)

Para salafusshalih mengajarkan kita, betapa mereka sering membiasakan diri melakukan kontemplasi. Menghitung baik buruk perilakunya. Beberapa di antara mereka bahkan, memberi sanksi sendiri atas kesalahan yang mereka temukan, menghukum diri mereka atas kekurangan yang mereka lakukan. Proses kontemplasi yang jujur memang melahirkan kematangan jiwa dan kejujuran yang cheap football jerseys china utuh. Saat itulah, orang tidak lagi takut kecuali kepada Tuhan-nya. Tidak merasa wholesale football jerseys china kuat kecuali bersama Rabb-nya.




Kenali Tabiat Diri

Momentum-momentum di atas, sebenarnya hanya alat bantu. Bila digunakan dengan baik Insya Allah memberi hasil yang maksimal. Tetapi yang perlu disadari, bagaimana setiap muslim terus menerus mengenali tabiat dirinya sendiri. Kapan saat-saat ia mulai terasa akan bergeser dari jalan kebaikan ke jalan keburukan. Tabiat dan karakter orang berbeda-beda. Harus ada kesadaran yang hidup selalu. Karena syetan juga tidak akan diam dari menggoda manusia. Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa was-was dari syetan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS. Al A’raf: 201)

Selain itu, setiap muslim juga harus mengenali dengan cara apa biasanya ia bisa kembali Cheap nfl Jerseys ke kondisi yang normal. Momentum-momentum di holt atas bisa dipilih sesuai tabiat diri masing-masing, tapi sesudah itu perlu ditindaklanjuti dengan ibadah tertentu. Karena ibadah formal–selain doa–tetap menjadi media kontak langsung seorang hamba dengan Rabb-nya.

Ada orang yang terbiasa menjadikan puasa sebagai gebrakan awal dirinya untuk kembali ke jalan kebaikan. Ada yang menjadikan tilawah membaca Al Qur’an secara rutin sebagai pintu awalnya kembali ke jalan yang baik. Ada yang dengan shalat Oakleys Outlet malam, ada yang dengan bersedekah, ada yang dengan selalu shalat berjamaah di masjid tepat waktu, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Dengan ikhtiar-ikhtiar nfl jerseys cheap maksimal itu, kelak, seorang muslim tidak sampai harus menyesal, bila ia harus menerima balasan yang setimpal. Berupa pahala untuk segala kebaikannya, atau siksa penebus dan penghapus keburukannya. Karena Allah tidak mendzalimi hamba-Nya, sebesar dzarah pun. Seperti dinyatakan-Nya dalam hadits Qudsi, “Wahai hamba-ku, semua hanyalah amal-amal kamu yang Aku hitung, lalu Aku tunaikan pembalasannya. Maka barang siapa mendapatinya baik, hendaklah kepada Allah ia sampaikan puji. Dan barangsiapa mendapati sebaliknya, janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri.” (HR Muslim).

(Sumber: Majalah Tarbawi)