Sudah bulan ke tiga Bik Jum bekerja sebagai asisten di rumah Arimbi. Ia masih mempertahankan wanita paruh baya tersebut. Bersyukur akhir-akhir ini ia disibukkan dengan kegiatan mengelola toko, sehingga intensitasnya bertemu dengan Bik Jum terbilang sedikit. Hanya pagi sebelum ia berangkat. Dan ini berarti, kesempatan terlibat kegiatan bergosip bersama fake oakleys Bik Jum pun jauh berkurang.

Pagi ini, Arimbi baru saja mengantar suaminya ke depan rumah saat didapatinya Bik Jum sedang mulai menyetrika pakaian di teras belakang. “Di kulkas ada sarden, nanti yang lima kaleng Bik Jum bawa pulang ya,” ujarnya.

Bik Jum menoleh dan menganggukkan kepala. “Baik, Bu. Terima kasih.”
“Sama-sama,” sahut Arimbi tersenyum.
“Ibu nggak berangkat kerja?”
“Nanti agak siangan.”
Di dapur, Arimbi merapikan piring-piring kotor dari meja makan dan hendak mencucinya.
“Eh eh eh… biar nanti sama saya aja, Bu.” Bik Jum menyahut dari teras.
“Nggak apa-apa. Lagian cuma sedikit kok.”




Di tempatnya, sebuah senyum terbentuk di wajah Bik Jum. Dalam hati ia tengah bersyukur mendapati Arimbi sebagai majikannya. Wanita muda yang menurutnya cantik dan sangat baik hati itu tidak pernah menyuruhnya dengan kasar. Bik Jum juga sangat senang karena majikannya tersebut tidaklah cerewet. Arimbi hanya cheap ray ban sungalsses sering mengingatkan dirinya yang sering keceplosan membicarakan orang lain. Selebihnya Bik Jum sangat betah bekerja dengan Arimbi. Tanpa sadar Mann Bik Jum bahkan sudah menyayangi wanita itu.

“Kalau nanti Ibu pegel, biar saya pijitin ya,” tawar Bik Jum, masih sambil meluncurkan setrika di atas jilbab putih milik Arimbi.
Arimbi tertawa. “Bik Jum jangan lebai ah. Saya kan masih muda. Masa gini doang langsung pegel.”
Bik Jum terkikik.
“Bik Jum masih suka dipanggil orang buat mijit?”
“Masih, Bu. Lumayan nambah-nambah buat uang jajan anak. Hari Minggu kemarin saya juga habis mijit Bu Nani dari kompleks sebelah. Ceritanya dia habis ada kerjaan di Jakarta seminggu. Kena oakley outlet macet terus bikin sakit badan, makanya pengen dipijit.”

Arimbi mengangguk-angguk.
“Bu Nani ini kerjaannya enak, Bu. Sering ke luar kota. Gajinya gede lagi. Makanya sering bisa plesiran ke luar negeri.”
“Wah asyik dong ya,” sahut Arimbi.

“Iya, Bu. Tapi ya gitu… orang dikasih kerjaan enak, rejeki banyak, tetep aja punya kekurangan. Kasihan Bu Nani, Bu. Udah delapan tahun nikah, tapi belum dikasih anak. Padahal suami istri udah mapan. Satu ganteng, satu cantik lagi. Rumah? Gede bisa buat main bocah. Gaji juga cukup buat nyekolahin. Tapi yang namanya belum rejeki ya, Bu. Denger-denger sih…” Bik Jum memberi jeda di tengah kalimatnya. “…Bu Nani-nya yang nggak subur, nggak bisa punya anak. Untung aja Baratas Ray Ban suaminya bukan orang yang macem-macem, jadi nggak ditinggalin. Padahal gimana coba rasanya suami kalau punya istri nggak bisa ngasih anak? Soalnya yang wholesale football jerseys namanya lelaki kan pasti pengen punya keturunan. Biar garis keluarga nggak putus. Belum lagi rasa nggak enak sama orangtua. Duh… kalau bisa sih mending nikah lagi. Cari perempuan lain yang bisa kasih anak.”

bersambung…

Oleh: An Nisaa Gettar