Coba Lihat Apa Yang Hilang Dari Diri Kita? (Bag 3)




Dalam wilayah politik dan kekuasaan misalnya, keaslian kita adalah kenyataan bahwa kita hanya manusia biasa. Meski tiba-tiba kita menjadi wakil rakyat, menteri atau pejabat apa saja, padahal sebelumnya kita hanya rakyat biasa. Tetapi alangkah banyak orang yang kehilangan keaslian, pada wilayah sosial ini. Seperti kisah beberapa selebriti tanah air yang terseret narkoba, karena kaget dengan gaji yang begitu besar. Atau para politisi sebagian partai, yang dengan ilmu pas-pasan tiba-tiba punya otoritas politik dan kekuasaan yang besar.

Begitupun dalam cabang-cabang wilayah sosial yang Cheap nba Jerseys lain. Soal ras, suku, darah biru atau darah merah, pangkat, jabatan, gelar itu bisa menjadikan orang kehilangan ‘keaslian’ nya.

Mari nfl jerseys china kita berkaca pada Umar bin Abdul Aziz, sang khalifah. Suatu hari, Roja’ bin Haiwah bermalam di tempatnya. Tiba-tiba lentera mati. Roja’ pun berdiri hendak membetulkannya. Tetapi sang khalifah melarangnya. Umar pun membetulkan sumbu lampu itu. Lalu ia berkata kepada Roja’, “Aku berdiri (membetulkan lampu) cheap nfl jerseys dan aku Umar bin Abdul Aziz. Lalu aku duduk, dan aku juga Umar bin Abdul Aziz.”




Ia ingin menjelaskan dengan bahasa lain, bahwa sejatinya dirinya hanya seorang Umar, meski ia seorang khalifah, pemimpin tertinggi. Tidak aib baginya membetulkan lampu yang penuh dengan kotoran.

Inilah makna nyata dari ‘keaslian’, kejujuran, dan kepolosan yang kita maksud. Sesuatu yang mungkin telah hilang dari sebagian kita. Padahal, kita tidak เรด dan tidak akan mencapai derajat yang dicapai Umar bin Abdul Aziz. Karenya, untuk orang-orang yang sombong, yang kehilangan keaslian, Al-Quran menggunakan bahasa yang sangat keras da ‘kasar’ : “Dan janganlah kamu berjalan dimuka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi NFL Jerseys Cheap dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al-Isra’ : 37)

Bila ada sedikit waktu untuk menyendiri, tanpa pakaian kebesaran, duduklah di kursi kayu yang bukan kursi kekuasaan, sejenak. Lalu, bertanyalah, adakah yang hilang dari ‘keaslian’ dan kepolosan kita?

3. Kehilangan hal-hal yang diluar kemampuan kita untuk menahannya agar tidak hilang

Kehilangan mode ini, sesungguhnya tak lebih merupakan bagian dari takdir-takdir hidup yang harus kita jalani. Kehilangan orang-orang yang kita cintai, ayah, ibu, anak, saudara, atau sahabat dan karib kerabat.

Kita boleh mencintai siapa saja. Tetapi kita tidak akan bisa memiliki mereka selama-lamanya. Begitulah yang dirasakan hockey jerseys Rasulullah saw. Alangkah sedihnya kehilangan istri tercinta, Khadijah ra. Ia meninggal hanya tiga bulan setelah sebelumnya Abu Thalib juga meninggal dunia.

Kehilangan Khadijah, tidak saja kehilangan istri tempat berlabuh dari lelah dan letih. Tidak saja kehilangan seorang perempuan mulia yang memberinya keturunan. Tetapi, ia juga kehilangan orang yang memberikan seluruh jiwa dan raganya, hidup dan jerih payahnya, untuk menopang perjuangan Rasulullah saw.

bersambung…

 

Oleh : Chairunnisa Dhiee (sumber: buku ‘Tarbawi’ edisi 69)

Leave a Reply