Pelantun Buah Bibir (Bag 6)




Bik Jum berhenti, lalu menoleh ke arah dapur. Mencari-cari Wholesale NFL Jerseys apakah Arimbi masih ada di sana. Dan ternyata majikannya tersebut masih berada di sana. Duduk di salah satu kursi. Terdiam. Mungkin sedang seksama mendengar celotehnya kali ini. Bik Jum pun kembali meneruskan kegiatan menyetrikanya.

Di tempatnya Arimbi merasa udara seolah memadat. Napasnya sesak dan dadanya nyeri. Pikirannya pun langsung melayang ke kejadian lima tahun yang lalu. Kemudian, dipandangnya tubuh bungkuk Bik Jum yang duduk tenggelam di antara tumpukan baju. Kenapa ada seseorang yang tidak bisa menjaga kata-katanya seperti itu?

Bik Jum kembali menoleh untuk mencari tahu keadaan Arimbi. Kali ini wanita setengah baya itu panik, karena dilihatnya wajah Arimbi yang sejak tadi mematung berubah pucat. Bik Jum pun segera bangkit dari duduknya dan datang menghampiri Arimbi. “Ibu sakit?” wajah cemas terlihat dari raut Bik Jum. Wanita itu semakin panik karena dilihatnya mata bening Arimbi berkaca-kaca dengan tatapannya yang kosong ke depan.




“Bu? Bu Arimbi?” panggil Bik Jum lagi.
Akhirnya sebulir air mata mengalir keluar dan Arimbi membuka mulut. Suaranya parau. “Sama seperti saya, Bik. Udah lima tahun nikah, saya dan suami belum dikasih anak. Dan itu semua karena saya, Bik. Karena saya ini istri yang nggak bisa ngasih keturunan. Saya nggak bisa punya anak. Terus, apa seperti kata Bik Jum? Saya harus ngizinin suami saya cari perempuan lain?”
Tangis Arimbi pecah. Ia menenggelamkan Cheap Oakleys wajah dengan kedua telapak tangannya. Tubuhnya berguncang.

Sementara di depannya, Bik Jum menatap dengan tubuh lemas. Tangannya bergetar karena rasa iba dan sesal. Dalam hati Bik Jum membodoh-bodohi dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga ucapan. Ia tidak menyangka kalau kali ini ia telah menghunus seseorang yang disayanginya dengan lidahnya. Keterlaluan.

***

Dua hari kemudian, seperti biasa, pukul enam lewat limabelas menit, Bik Jum sudah muncul di rumah Arimbi. Bersiap untuk melakukan tugas-tugasnya. Wanita itu telah menyesal serta bersungguh-sungguh dan tulus meminta maaf pada cheap nfl jerseys shop Arimbi. Ia juga berjanji tidak akan sembarangan bercerita tentang orang lain di depan Arimbi. Setelah kejadian itu, Bik Jum telah bertekad untuk memperbaiki diri.

“Hari ini masak nasinya banyakan ya, Bik. Nanti siang sepupu saya mau dateng,” ucap Arimbi seperti biasa. Sama sekali tidak ada nada kesal. Tentu saja dalam hati ia berharap mulai hari ini Bik Jum akan menghentikan kebiasaan buruknya.
“Baik, Bu. Sepupu yang dari Jakarta ya, Bu?”
“Iya.”

“Oh iya, kemarin tetangga saya baru berhenti kerja pabrik di Jakarta. Katanya SERVİSİ gara-gara sering digodain sama bosnya. Udah gitu, Bu…” Seperti sebuah gerakan refleks, Bik Jum meneruskan ceritanya oakley outlet penuh gairah.

Arimbi hockey jerseys menelan ludah. Ia lalu menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan cepat. Ia menyadari sesuatu. Ya. Harapan paginya baru saja pupus.
Bik Jum…

Leave a Reply