Kehilangan Khadijah, tidak saja kehilangan istri tempat berlabuh dari lelah dan letih. Tidak saja kehilangan seorang perempuan mulia yang memberinya keturunan. Tetapi, ia juga kehilangan orang yang memberikan seluruh jiwa dan raganya, hidup dan jerih payahnya, untuk menopang perjuangan Rasulullah saw.

Kehilangan oakley womens sunglasses model ini, bila telah tiba, tidak akan bisa ditolak, dengan cara apapun. Seperti juga kehilangan sahabat atau kehilangan masa dan jaman tertentu. Itulah yang dirasakan para sahabat, yang usianya panjang hingga menemui jaman baru, menemukan penyimpangan-penyimpangan baru. Ada kehilangan mendalam akan sahabat-sahabat lama yang telah pergi terlebih dulu.

Seperti yang dirasakan Anas bin Malik. Ia berkata kepada para tabiin. “Sesungguhnya, boleh jadi kalian anggap kecil dari sehelai rambut, tapi kami dahulu di masa Rasulullah menganggapnya sebagai dosa besar.”




Kematian sanak saudara, kekuarangan harta, hilangnya rasa aman, itulah di antara hal-hal yang dirangkum Al-Quran tentang apa-apa yang mungkin hilang dari diri kita. “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah : 155)

Kehilangan jenis ini, tidak ada pilihan lain kecuali menghadapinya dengan kesabaran. Tetapi justru banyak yang cheap nfl jerseys gagal bertahan menghadapi kehilangan jenis ini. Hitunglah, sejenak saja. Berapa usia kita hari ini? Siapa yang telah pergi mendahului kita? Siapa yang telah berpisah dan tidak lagi bersama kita? Adakah kehilangan itu semua, telah begitu mengubah dan mengacaukan jalan hidup yang kita tempuh? Atau justru memberi kita semangat dan kekuatan baru?

4. Kehilangan kesempatan dan pilihan-pilihan hidup

Sebagian dari jalan hidup kita adalah pilihan dan kesempatan. Bahkan sebagiannya adalah selera. Dalam istilah yang lebih legal, Allah Ta’ala menjelaskannya, bahwa Dia tidak akan mengeubah keadaan suatu kaum hingga kaum itu sendiri yang mengubah dirinya sendiri.

Karena satu dan lain hal, bisa jadi kita kehilangan sebuah kesempatan berharga. Sebuah kehilangan yang mungkin baru kita sadari beberapa waktu kemudian, setelah segalanya menjadi terlambat.

Ini bisa terjadi dalam urusan apa saja. Dalam hal-hal yang sangat pribadi, bahkan yang mungkin hanya kita dan Allah saja yang tahu. Termasuk dalam kategori tu ini adalah kehilangan keberanian untuk memilih pilihan yang tepat, atau meninggalkan pilihan yang keliru. Selalu ada sisi gelap seseorang dari masa lalunya, sesederhana apapun sisi gelap itu.

Kehilangan dalam bentuk ini, tidak boleh disikapi dengan cara yang salah. Dengan menyesalinya secara berlebihan misalnya. Atau berandai-andai yang membuat kita justru tenggelam dalam trauma masa lalu. Mengakibatkan hidup seperti berhenti dan harapan serasa mati.

Sebaliknya, kehilangan model ini juga tidak pula boleh disikapi dengan acuh, atau justru Cheap nba Jerseys dengan mengulang lagi terus menerus kehilangan itu. Pilihan-pilihan yang salah itu bukannya di tinggalkan, justru malah diulang dan diulang. Seperti nfl jerseys cheap istilah Al-Quran, meniru seorang perempuan pemintal kain. “Dan jangalah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai kembali.” (QS. An-Nahl : 92)

Begitulah, selain empat hal di oakley sunglasses outlet atas. Mungkin ada dimensi-dimensi lain tentang arti sebuah kehilangan. Tetapi yang terpenting, bagaimana kemudian kita dengan tulus dan berbesar hati, bisa memetakan kehilangan-kehilangan itu untuk pijakan dan sikap yang akan kita ambil kemudian.

Bahwa roda jaman harus berputar. Bahwa hidup pasti pasang naik dan pasang surut. Tinggal bagaimana kita, secara berkala berani jujur bertanya, tentang apa yang telah hilang dari diri kita. Lalu sesudah itu, ia menjadi bagian terpenting kita, untuk belajar menjadi lebih baik dan lebih dewasa.

 

Oleh : Chairunnisa Dhiee (sumber: buku ‘Tarbawi’ edisi 69)