Hikmah Perang Bani Qainuqa (Bag 6)




Keempat

Bila discount oakley merenungkan ayat-ayat Al Qur’an berkaitan dengan konflik Muslim dan Yahudi Bani Qainuqa, kita pasti akan mengetahui bahwa seorang Muslim tidak boleh menjadikan non-Muslim sebagai wali (pemimpin) atau negocio teman setia untuk berbagi tanggung jawab dan kekuasaan, Ketentuan hukum ini tidak pernah diperselisihkan kaum Muslim. Pasalnya, ada banyak ayat Al Qur’an yang jelas-jelas menekankan hal tersebut. Pun, ada banyak hadits dengan status mutawatir maknawi yang berbicara tentang hal itu. Jadi , tidak ada celah sedikitpun untuk menyangkal dalil-dalil absolut ini.

Hanya ada satu pengecualian dalam ketentuan hukum ini, yaitu ketika kaum Muslim berada dalam kondisi lemah dan tidak berdaya sehingga mereka terpaksa memberikan loyalitasnya (wala’) kepada non-Muslim. Dalam kondisi seperti itu, Allah memberi keringanan (rukhshah) lewat firman-Nya.

“Janganlah orang beriman menjadikan orang kafir sebagai pemimpin dengan menginggalkan orang-orang beriman. Siapa saja yang berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) menjaga diri dari sesuatu yang kamu takuti dari mereka.” (QS. Ali Imran [3]: 28)




Penting dicatat, larangan menjadikan non-Musli sebagai pemimpin tidak lantas berarti bahwa kita boleh dengki terhadap mereka. Seorang Muslim dilarang dengki terhadap siapapun, apapun agamanya. Perlu diingat, ada perbedaan sangat mencolok antara marah kepada seseorang karena Allah dan dengki terhadapnya. Sikap pertama bersumber dari perbuatan mungkar yang tidak diridhai Allah dan seorang Muslim wajib marah pada pelakunya. Sementara, sikap kedua bersumber dari diri pribadi seseorang, terlepas dari apa pun tindakan dan perbuatannya. Sikap kedua inilah yang dilarang Islam.

Hakikatnya, marah karena Allah (ghadhab lillah) didasari rasa kasihan kepada si pelaku maksiat atau orang kafir. Sebab, watak seorang mukmin adalah menintai semua orang sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. oakley outlet Hasrat besar seorang mukmin adalah terbebas dari siksa Hari Kiamat dan mendapatkan kebahagiaan yang abadi. Jadi, ketika marah pada pelaku maksiat atau kekufuran, ia sebenarnya justru mengasihani mereka karena telah mengjerumuskan diri ke jurang kesengsaraan dan siksa Allah di akhirat. Sikap seperti ini, menurut pemahaman siapapu pun tidak bisa disebut dengki. Sikap ‘marah’ seperti di atas tak ubahnya seperti marahnya seorang ayah kepada anaknya, seorang saudara Baratas Replicas Ray Ban kepada saudaranya yang lain; marah demi kebaikan dan kebahagiaan anak itu sendiri.

Namun, itu semua tidak serta merta menafikan Cheap Jordan Shoes anjuran bertindak tegas dan keras terhadap kaum kafir dalam berbagai ray ban sunglasses sale kesempatan. Sering kali tindakan tegas menjadi satu-satunya jalan untuk memperbaiki mereka. Jelasnya, tindakan tegas harus didasari welas asih. Seorang penyait bertutur:

Tegaslah, agar mereka tertahan. Siapa pun yang mengasihi. Kadang harus bertindak tegas kepada siapa yang dikasihinya.

Penting dicatat, larangan menjadikan kafir sebagai pemimpin tidak lantas membebaskan kita bersikap tidak adil terhadap mereka atau tidak menghormati kesepakatan yang terjalin antara kita dan mereka. Keadilan mesti selalu ditegakkan dan dipancangkan. Benci dan marah karena Allah sama sekali tidak bileh menjadi penghalang untuk merealisasikan prinsip keadilan. Terkait ini, Allah berfirman:

“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terjadap suatu kaum mendorongmu berbuat tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. (QS. Al Maidah [5]: 8)

Kaum Muslim dan semua yang berjuang bersama mereka adalah satu umat, seperti termaktub dalam Piagam Madinah yang telah kami uraikan di awal. Jika demikian, soal kepemimpinan dan persaudaraan mestinya hanya terbatas di kalangan mereka. Dan, mereka semestinya berinteraksi terhadap semua anggota masyarakat dan beridir di atas prinsip keadlilan dan keinginan untuk membawa semua orang ke arah kebaikan dan hidayah.

Leave a Reply