Kehilangan memang menyakitkan. Apapun yang terlepas, baik dalam konteks pribadi atau yang lebih luas, tentu terasa menyedihkan. Karena hockey jerseys apa yang kita miliki lekat sebagai bagian dari hidup kita. Bahkan ketergantungan terhadapnya mungkin telah tercipta. Ketika itu dicabut atau hilang, kita merasa hilanglah sebagian dari diri kita.

Maka sangatlah wajar kalau kemudian ada tangis, minimal wholesale jerseys china kesedihan yang menggumpal di dada. Mungkin tangis ini bisa meringankan sebagian beban hati. Boleh jadi air mata pun bisa membasahi panas hati yang terasa tak menentu. Namun, tangis saja tidaklah cukup. Mesti ada tindakan lain yang kita lakukan ketika didera musibah kehilangan. Alternatif dibawah ini mungkin bisa menjadi beberapa solusi.

1. Ingat kembali sebab kehilangan kita




Kita bisa kehilangan suatu benda. Kita pun bisa kehilangan akhlak dan ketaatan pada Allah Ta’ala yang dulu pernah kita miliki. Kita bisa kehilangan generasi. Mungkin banyak manusia berkualitas yang telah pergi mendahului, hingga kita merindukan mereka. Atau kita merasa kehilangan teman sejati, karena The meski banyak teman di sekeliling kita, namun tak satupun yang sejalan dengan hati kita.

Masyarakat juga bisa kehilangan tokoh kharismatik yang dulu pernah mereka ray ban sunglasses sale miliki. Negara mungkin kehilangan wilayahnya, juga kehilangan pejabat-pejabatnya yang jujur. Rakyat pun boleh jadi kehilangan rasa aman dan kedamaian.

Semakin hari makin Cheap Jordans panjang daftar kehilangan ini. Maka kita perlu waktu sejenak untuk Ray Ban Sunglasses mengais masa lalu. Untuk mengetahui sebab-sebab kehilangan. Untuk melihat kembali apakah kehilangan itu karena kecerobohan, atau kelalaian kita mendidik generasi, hingga kita kehilangan pemimpin yang bisa diandalkan. Mungkin juga karena kita ceroboh memilih mereka yang memimpin negeri ini. Asal pilih, sehingga muncullah pemimpin yang asal-asalan.

Bisa jadi sebabnya dari kita sendiri. Bisa juga karena terlalu kuatnya sisi eksternal yang membuat kita “tidak berdaya”. Terlalu banyak yang merusak daripada yang membangun. Padahal seribu orang yang membangun dengan susah payah bisa dihancurkan oleh satu orang saja. Apalagi kalau yang membangun hanya kita sendirian sementara yang merusak berjumlah seribu.

Dengan melihat sebab kehilangan, kita bisa menemukan “obat” penawarnya. Bak seorang dokter yang sedang memeriksa pasiennya, yang mencoba mencari sebab pengganggu kesehatan, untuk memberikan obat yang sesuai. Dengan menemukan penawarnya, kita juga bisa memberitahu yang lainnya, agar bisa bersama-sama mencoba mengembalikan sesuatu yang hilang.

Generasi yang hilang boleh jadi disebabkan terlalu sibuknya kita dengan diri sendiri dan melupakan pendidikan mereka. Agar kita bisa mencegah terulangnya kehilangan ini, kita perlu segera menata kembali pranta itu. Kalau dulu kita kehilangan karena kurangnya perhatian atau masih ceroboh, kini kita harus lebih waspada. Kalau kehilangan itu dikarenakan kita meletakkan di tempat yang rawan, maka jauhi tempat itu. Jika kita harus berada di tempat itu, maka kewaspadaan harus dilipatgandakan.

bersambung..

 

Oleh : Chairunnisa Dhiee (sumber : buku ‘Tarbawi’ edisi 69)