Kisah Buya Hamka Yang Membuat Polisi Menangis di Dalam Penjara




Bukankah Allah cukup sebagai pelindung hamba-Nya..”. Sehubungan dengan maksud ayat di atas, Buya Hamka menceritakan pengalaman beliau saat menjadi tahanan di Sukabumi, akhir Maret tahun 1964. Berikut kutipan lengkapnya.

Inspektur polisi yang memeriksa sambil memaksa agar saya mengakui suatu kesalahan yang difitnahkan ke atas diri, padahal saya tidak pernah berbuatnya. Inspektur itu masuk kembali ke dalam bilik tahanan saya membawa sebuah bungkusan, yang saya pandang sepintas lalu saya menyangka bahwa itu adalah sebuah tape recorder buat menyadap pengakuan saya.

Dia NFL Jerseys China masuk dengan muka garang seperti kebiasaan selama Lewisham ini. Dan, saya menunggu dengan penuh tawakkal kepada Allah swt dan memohon kekuatan kepada-Nya semata-mata. Setelah mata yang garang itu melihat saya dan saya sambut dengan sikap tenang pula, tiba-tiba kegarangan itu mulai menurun. Setelah menanyakan apakah saya sudah makan malam, apakah saya sudah sembahyang, dan pertanyaan lain tentang penyelenggaraan makan minum saya, tiba-tiba dilihatnya arlojinya dan dia berkata, “Biar besok saja dilanjutkan pertanyaan. Saudara istirahatlah dahulu malam ini.”ujarnya dan dia pun keluar membawa bungkusan itu kembali.




Setelah dia agak jauh, masuklah polisi muda (agen polisi) yang ditugaskan menjaga saya, yang usianya baru kira-kira 25 tahun. Dia melihat terlebih dahulu kiri kanan. Setelah jelas tidak ada orang yang melihat, dia bersalam dengan saya sambil menangis. Diciumnya tangan saya, lalu discount oakley dia berkata, “Alhamdulillah bapak selamat! Alhamdulillah!”

“Mengapa?” tanya saya. “Bungkusan yang dibawa oleh Inspektur M itu adalah setrum. Kalau dikontakkan ke badan bapak, cheap Air Jordans bapak bisa pingsan dan kalau sampai maksimum bisa mati.” jawabnya.

Dalam menghadapi paksaan, hinaan, dan hardikan di dalam tahanan, Buya Hamka selalu berserah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Termasuk ketika sang inspektur datang membawa bungkusan (alat setrum) oakley sunglasses outlet malam itu, Buya Hamka tetap dengan pendirian. Bukankah Allah cukup sebagai pelindung hamba-Nya?

Jangan takut jatuh, karena yang tidak pernah memanjatlah yang tidak pernah jatuh. cheap jerseys Jangan takut gagal karena yang tak pernah gagal hanya orang-orang yang tidak pernah melangkah. Jangan takut salah, karena dengan kesalahan yang pertama kita dapat menambah pengetahuan untuk mencari jalan yang benar pada langkah yang kedua.” – Buya Hamka

Leave a Reply