Di Bawah Naungan Al Qur’an – An Nashr (Bag 5)




Demikianlah cakrawala yang terang dan mulia, yang diserukan Al Qur’an kepada jiwa manusia agar mau berkonsentrasi kepadanya dan naik di berbagai jenjangnya, mengikuti iramanya yang merdu, mulia, dan baik. Cakrawala yang didalamnya manusia menjadi karena mereka membuang kesombongannya, Cheap Oakleys serta ruh di dalamnya yang menjadi bebas karena hanya tunduk kepada Allah.

Ia adalah keterbebasan dari belenggu diri supaya manusia menjadi ruh-ruh dari ruh yang ditiupkan Allah dan tidak memiliki bagian pada sesuatu, kecuali ridho-Nya. Selain keterbebasan ini, ia berjihad membela kebaikan, menegakkan kebenaran, menyejahterakan bumi, meningkatkan kehidupan, serta memimpin umat manusia dengan kepemimpinan yang benar, bersih, sejahtera, konstruktif, adil, dan baik menuju Allah.

Suatu kesia-siaan jika manusia berusaha mencapai kebebasan dan kemerdekaan, namun terikat dengan dirinya, terbelenggu oleh keinginan-keinginan, dan terpasung oleh berbagai syahwat. Sia-sia saja wholesale nfl jerseys ia berusaha, selama ia tidak terlepas dari hawa nafsunya, untuk mengingat hanya Allah saja.




Itulah Cheap nba Jerseys adab yang selalu menjadi ciri khas kenabian dan yang diinginkan Allah agar ummat manusia meningkat hingga ke cakrawalanya, cheap oakleys atau selalu berkeinginan kuat dalam mencapai cakrawala tersebut. Itulah yang menjadi adab Nabi Yusuf a.s., pada saat ia memperoleh segala sesuatu dan mimpi-mimpinya menjadi khayalan.

“Dan ia menaikkan kedua ibu bapaknya ke atas singgasana. Mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan Yusuf berkata, ‘Wahai ayahku, inilah ta’wil mimpiku yang dahulu itu. Sesungguhnya Rabb-ku telah menjadikannya suatu kenyataan. Rabb-ku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antara aku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Rabb-ku Mahalembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya DIalah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (QS. Yusuf: 100)

Pada detik-detik inilah Yusuf a.s., melepaskan dirinya dari keriangan, kesenangan, dan kegembiraan, untuk kemudian menghadap kepada Tuhannya dengan tasbih orang yang bersyukur dan ingat. Ucapan semua doanya saat ia di tengah puncak kekuasaan dan kegembiaraan memperoleh mimpi-mimpinya:

“Ya Rabbku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian ta’wil mimpi. (Ya Rabb) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang shalih.” (QS. Yusuf: 101)

Di sini kedudukan dan kekuasaan tersebut tertutupi. Di sini kegembiraan pertemuan dan berkumpulnya keluarga dan saudar-saudara tersebut tertutupi. Lalu terlihatlah pemandangan yang terakhir, yaitu pemandangan seorang manusia yang memohon kepada Tuhannya supaya Dia berkenan menjaga keislamannya, hingga Dia mewafatkannya, lalu menyatukannya dengan orang-orang shalih di sisi-Nya, dengan karunia dan kemurahan-Nya.

Hal ini pula yang menjadi adab Nabi Sulaiman saat melihat singasana ratu Saba’ berada di depannya sebelum kedua matanya berkedip:

“Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, ia pun berkata, ‘Ini termasuk karunia Rabbku untuk mencoba aku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya rabbku Mahakaya lagi Mahamulia.’” (QS. An Naml: 40)

Demikian pula adab Nabi Muhammad Saw di seluruh kehidupannya, dalam menyikapi pertolongan dan kemenangan yang dijadikan oleh Tuhannya sebagai tanda bagi ajalnya. Nabi Saw bersyukur seraya menundukkan dirinya kepada Allah di atas binatang tunggangannya saat memasuki kota Mekkah. Mekkah yang penduduknya pernah menyakitinya, mengusirnya, melukainya, dan menyikapi dakwahnya dengan sikap yang membangkang tersebut.

Saat pertolongan Allah dan kemenangan itu datang kepadanya, Nabi Saw melupakan kegembiraan atas kemenangannya, wholesale football jerseys lalu menundukkan dirinya untuk bersyukur, memuji Tuhannya, dan memohon ampunan sebagaimana apa yang diajarkan oleh Seçti Tuhannya kepadanya. Nabi Saw sejak itu semakin memperbanyak tasbih, pujian, dan istighfar, sebagaimana disebutkan dalam beberapa riwayat di atas. Hal ini pula yang menjadi sunnahnya kepada para sahabat sesudahnya. Semoga Allah meridhai mereka semua.

Demikianlah ummat manusia terangkat martabatnya dengan iman kepada Allah. Demikianlah ummat manusia bersinar, tampil, dan berkibar. Demikianlah ummat manusia mencapai keagungan, kekuatan, dan kebebasan.

(Sumber: Tafsir Fi-Zhilalil Qur’an karya Ustadz Sayyid Quthb)

Leave a Reply