Mayoritas ulama fiqih berpendapat bahwa hukum jihad adalah fardhu kifayah, meskipun ada sebagian dari mereka yang berpendapat fadhu ‘ain. Sebagaimana diriwayatkan dari sebagian ulama salaf, bahwa jihad termasuk ke dalam bab sunnah (tathawwu’), bukan wajib.

Dalam muhktashar-nya, Al Khiraqi menulis, “Jihad adalah fardhu kifayah. Apabila sudah dilakukan oleh sebagian orang, orang yang lain tidak wajib melakukannya.” Dalam Al-Mughni, Ibn Quddamah menjelaskan maksud perkataan Al-Khiraqi tersebut dengan menyatakan:

***




Makna fadhu kitayah adalah, jika cheap nfl jerseys tidak dilakukan oleh seorang pun, seluruh manusia akan berdosa. Akan tetapi, jika ada yang melakukannya, kewajiban seluruh manusia lainnya terhadap hal tersebut menjadi gugur. Pada awalnya, perintah tersebut mencakup seluruh orang fardhu kifayah ini mirip dengan fardhu ‘ain. Namun, keduanya kemudian menjadi berbeda: fardhu kifayah menjadi gugur karena ada sebagian orang yang melakukannya, sedangkan fardhu ‘ain tidak gugur jika ada orang lain yang melakukannya. Menurut mayoritas ulama, jihad termasuk ke dalam fardhu Year kifayah.

Sa’id ibn Al-Musayyab berpendapat bahwa jihad adalah fardhu ‘ain, sebagaimana diriwayatkan dari Abu Thalhah Al-Anshari dan Abu Ayyub Al-Miqdad ibn Al-Aswad dari sahabat. Pendapat ini berdasarkan ayat yang berbunyi, “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, serta berjihadlah dengan harta dan jiwa di jalan Allah.” (QS. At Taubah [9]: 41)

Firman-Nya dalam ayat yang lain, “Diwajibkan atas kamu berperang…” (QS. Al Baqarah [2]: 216)

Dalam sebuah riwayat dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa yang meninggal, tetapi belum berperang dan tidak memiliki Wholesale Jerseys niat (untuk berperang), ia mati dengan membawa satu cabang kemunafikan.” (HR Abu Daud)

Pendapat tersebut dibantah dengan ayat, “Tidaklah sama antara orang beriman yang duduk (tidak ikut berperang) dan tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah cheap football jerseys dengan harta mereka serta jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka, Allah menjanjikan pahala yang baik.” (QS. An Nisaa [4]: 95)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa orang-orang yang duduk–tidak berjihad–sedangkan yang lain berjihad, tidaklah berdoasa. Allah Swt juga berfirman, “Tidak sepatutnya bagi orang-orang beriman pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama.” (QS. At Taubah [9]: 122) Rasulullah Saw pun pernah mengutus pastukan batalion (saraya), sedangkan beliau dan sebagian sahabat tidak ikut pergi.

Adapun ayat yang dijadikan hujjah oleh para ulama, “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, serta berjihadlah dengan harta dan jiwa di jalan Allah.” (QS. At Taubah [9]: 41), Ibn Abbas berpendapat bahwa ayat tersebut telah di-naskh oleh ayat, “Tidak sepatutnya bagi orang-orang beriman pergi semuanya (ke medan perang).” (QS. At Taubah [9]: 122). Hal tersebut diriwayatkan oleh cheap jordans online Al-Atsram dan Abu Daud.

Mungkin juga ayat tersebut berarti bahwa ketika Rasulullah Saw mengirimkan para sahabat ke Perang Tabuk, maka memenuhi perintah tersebut adalah wajib. Karena itu, Rasulullah Saw menjauhi Ka’ab ibn Malik dan yang lainnya yang tidak ikut berperang hingga Allah memaafkan mereka.

Jihad juga menjadi wajib dilakukan jika pemimpin memerintahkannya. Sebab, Rasulullah Saw bersabda, “Jika kalian diminta untuk pergi berperang, pergilah.” (HR Bukhari)

***

Penjelasan Ibn Quddamah adalah benar, karena ayat yang dijadikan Cheap Oakleys argumentasi justru menerangkan perintah Rasulullah Saw untuk pergi berperang. Ayat tersebut adalah, “Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kalian, ‘Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah,’ kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu?” (QS. At Taubah [9]: 38)

Para ulama fiqih sepakat bahwa ketika pemimpin memerintahkan seseorang atau kelompok untuk berperang, maka jihad hukumnya menjadi fardhu ‘ain.

(Sumber: Kita Fiqih Jihad oleh Ustadz Yusuf Qardhawi)