Dalam saat yang demikian, bertambah nyaring pulalah suara ‘lebih baik pendidikan agama itu ditukar saja’. Ada yang minta ditukar dengan apa yang mereka namai “Moral Pancasila”.

Sedangkan, pendidikan dan pelajaran agama yang garis-garisnya yang harus ditempuh sudah ada, cuma pelaksanannya yang kurang, lagi belum sempurna berjalan, bagaimanalah kalau ditukar dengan apa yang mereka namai moral Pancasila, yang belum seorang juga dapat memberikan kata sepakat tentang apakah ia.

Apakah serupa atau berbeda dengan filsafat pendidikan John Dewey di Amerika atau Pestalozzi di Eropa? Atau, Taman Siswa-nya Ki Hajar Dewantara yang sangat kental bau kejawennya, atau INS-nya Syafei yang berbau ‘Sumatera’?




Apakah mudah mengumpulkan dua kata, ‘Moral’ dan ‘Pancasila’ jadi satu, lalu dijadikan dekrit? Namun, tidak seorang pun yang tahu apa hakikatnya, dan bagaimana menjalankannya. Apakah itu dicoba menyelundupkan Moral Pancasila yang telah mulai mengadakan dakwahnya di televisi, yang terkadang diselingi dengan tembang Jawa yang dinamai kebatinan.

Kalau bukan itu, apakah asal jangan berbau Islam sudah boleh dinamai Moral Pancasila? Atau, bertambah hanyut dibawa oleh modernisasi-westernisasi.

Menurut keyakinan kita, suatu kemajuan, pembangunan, ketinggian, dan martabat yang mulia di antara bangsa-bangsa, bagi kita umat Islam, tidaklah dapat cheap jordans for sale dicapai kalau tidak berdasar kepada aqidah dan jordans for cheap akhlak Islam!

Orang Barat bisa saja berjuang mempertahankan tanah airnya tampil ke medan perang, bertempur melawan musuh, sambil minum vodka dan wiski, sambil bernyanyi dan berdansa, dan sambil istirahat pergi ke tempat perempuan lacur yang sudah disediakan untuk pelepasan dahaga mereka.

Kisah yang kita dengar tentang servis yang disediakan bagi serdadu Amerika di medan Perang Vietnam adalah saksi yang hidup. Bagi mereka yang demikian itu tidak apa-apa sebab akhlak yang berdasar materialisme tidak jordan retro 1 memandang bahwa semuanya itu dosa.

Namun, orang Islam tidak dapat menerima itu sebab sejak kecil mereka telah diajar dan dididik mengatakan bahwa semua itu perbuatan haram. Kalau mereka kerjakan itu, mereka merasa berdosa. Mereka telah melanggar peraturan Allah dan Rasul.

Ada beberapa pemuda yang memakai nama Islam di Indonesia ini mencarikan jalan buat oakley sunglasses cheap menghalalkan itu; kata mereka semuanya itu boleh, lantaran darurat! Namun, suara yang demikian hanyalah angin lalu dan orang-orang yang laksana daun kayu, telah berangsur terlepas dari tampuknya!

Coba lihat serdadu Turki yang bergabung dalam tentara sekutu di Perang Korea tahun 1950, sampai Jenderal Mc. Arthur menyatakan kagum dan hormat kepada mereka. Mengapa mereka tidak ada  yang pergi bergila-gila dengan perempuan of malam yang disediakan buat mereka? Mengapa di waktu istirahat yang kedengaran di kamp mereka hanya orang membaca Al Qur’an, bukan tari-tarian gila? Mengapa di tempat tidur mereka yang bertemu hanya sajadah dan tasbih bukan foto Marylin Monroe yang telanjang? Mengapa sehabis perang yang tinggal di bekas kamp mereka ialah sebuah masjid dari kayu lengkap dengan menaranya?

Bahaya minuman keras terhadap tubuh dan jiwa manusia sama, tidak berbeda kerusakan yang dibawanya kepada orang kafir atau orang Islam. Namun, karena minuman keras tidaklah haram dan tidak berdosa menurut agama ‘materialisme’ barat, yang rusak hanya badannya dan jiwanya, dan mereka tidak merasa ada pengaruhnya kepada agamanya.

Namun, bagi seorang muslim, mulai saja tercecah gelas minuman keras ke bibirnya, jiwanya berontak kepada dirinya mengatakan bahwa ia telah melanggar hukum Allah dan telah mendurkahai Rasul. Apabila pintu dosa itu satu kali telah dimasukinya, sukar buat menarik diri, sampai segala ajaran agama yang tadinya ia pandang suci ia injak-injak, barulah ia merasa bebas. Artinya, ia sendiri mengaku bahwa telah durhaka! Sejak itu hilanglah ia atau merasa dirinya jadi kecil dan hina.

Dengan menyebutkan dalil seperti ini dan bukti-bukti yang nyata dalam masyarakat dan kepribadian Islam saya hidangkan (paparkan) kepadamu, hai Pemuda Islam yang menjadi tumpuan harapan.

Soal yang kamu hadapi sekarang, akan tegakkah Islam ini terus? Atau akan hilangkah pengaruh kebudayaan Islam dan dasar hidup bangsa kita? Jawabnya adalah di tanganmu sendiri, Angkatan Muda!

(Salah satu tulisan Buya Hamka pada Majalah Panji Masyarakat dalam rubrik Dari Hari Ke Cheap Ray Bans Hati, 1967-1981)