Ing ngarsa sing tuladha. Ing madya mangun karsa. Tutwuri handayani. Tentu kita tidak asing lagi dengan kalimat tersebut. Di depan memberi contoh. Di tengah memberi semangat. Di belakang memberikan dorongan. Sebuah semboyan yang diserukan oleh salah satu pahlawan tanah air, Ki Hajar Dewantara, yang memberikan perhatian begitu besar pada dunia pendidikan.

Ing ngarsa sing tuladha, atau di depan memberi contoh. Konsep pertama yang tidak lain merupakan konsep keteladanan. Sebuah nasihat baik yang menunjukkan bahwa dalam mendidik, baik mendidik orang lain maupun mendidik diri sendiri, keteladanan adalah hal pertama yang perlu diterapkan. Keteladanan secara sederhana dapat dikatakan sebagai proses mempengaruhi tanpa sengaja mempengaruhi. Kita bersikap baik dan benar, lalu orang lain akan mengikuti apa yang kita lakukan. Meskipun dalam pelaksanaannya memang cheap nba jerseys tidak sesederhana pengertian versi sederhananya. Karena itu, pertanyaan penting selanjutnya yang muncul adalah keteladanan seperti apa yang perlu kita teladani? Dan oakley outlet sosok siapakah yang pantas menjadi teladan?

Pada detik ini mari kembali syukuri nikmat terbaik yang kita terima—iman dan Islam. Kenyataan bahwa karena kasih sayang Allah dan kedua nikmat tersebutlah kita masih memiliki arah dan tujuan dalam menjalani kehidupan di dunia ini, mari kembali kita syukuri. Satu lagi kenyataan bahwa sebagai muslim kita pun telah memiliki sosok teladan sempurna.




Ia adalah sosok yang lahir lebih dari seribu tahun yang lalu, Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib, yang tidak lain adalah utusan Allah Swt dan telah dijamin oleh-Nya bahwa ia adalah sosok teladan terbaik sepanjang masa.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab: 21)

Bahkan sejak belum diangkat sebagai Rasul, sosok Muhammad bin Abdullah telah digelari sebagai al-Amin, yaitu seseorang yang dapat dipercaya. Sebuah karakter mendasar yang perlu dimiliki oleh seseorang agar menjadi pribadi yang baik. Kejujuran Muhammad telah dikenal di berbagai penjuru sejak ia muda. Hingga kemudian di usianya yang ke-40, ia diangkat oleh Allah Swt sebagai Rasul-Nya, di mana sejak itu setiap sikap dan perkataannya adalah sumber keteladanan bagi umatnya sampai akhir zaman. Masya Allah.

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR Bukhari)

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran: 159)

Ya, ia adalah teladan terbaik sekaligus sempurna. Kita dapat meneladani sosoknya di setiap peran yang ia miliki. Sebagai suami, ayah, anggota masyarakat, pemimpin, serta peran-peran lainnya.

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku.” (HR Tirmidzi)

Urwah bertanya kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan Rasulullah Saw tatkala bersamamu di rumah?” Aisyah menjawab, “Beliau melakukan seperti NFL Jerseys Cheap apa yang replica oakleys dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya. Beliau mengesok sandalnya, menjahit bajunya, dan mengangkat air di ember.” (HR Ibnu Hibban)

Muhammad Saw adalah sosok ideal. Karakter dan sikapnya terhimpun secara sempurna. Seperti para rasul sebelumnya, Allah Swt telah menjamin ia terbebas dari dosa. Bahkan sebagai penutup para nabi, setiap sikap dan perkataannya menjadi sunnah yang jika diikuti oleh umatnya akan membuahkan ganjaran berupa pahala.

Kembali pada konsep ing ngarsa sing tuladha, Muhammad telah menerapkan konsep tersebut dalam mendidik umatnya. Tinggal bagaimana kita—yang sudah semestinya mendidik diri sendiri agar menjadi muslim yang baik—harus meneladaninya. Tentu kita memang tidak sempurna, tetapi mari setidaknya kita berusaha.

Tetap meneladani NOS meski tidak cheap authentic jordans sempurna.

Allahua’lam.

Oleh: An Nisaa Gettar