Secara lisan manusia cheap oakleys mengatakan bahwa dirinya adalah Muslim dan membenarkan agama beserta cheap Air Jordans ragam persoalannya. Bisa jadi ia shalat dan menunaikan berbagai syiar lainnya, namun hakikat keimanan dan hakikat pembenarannya kepada agama ini masih sangat jauh. Karena hakikat ini memiliki banyak tanda dan bukti yang memperlihatkan keberadaan dan realisasinya. cheap nfl jerseys Selama tanda dan bukti tersebut tidak ada, maka tidak ada pula keimanan dan pembenaran itu, meskipun ia mengaku beriman dan melakukan ritual ibadah.

Sesungguhnya hakikat keimanan ketika telah menghujam di dalam hati, maka ia akan segera bergerak (sebagaimana telah kami tegaskan saat menafsirkan surat an-Nashr) untuk merealisasikan keimanan tersebut dalam bentuk wholesale nfl jerseys amal shalih. Jika tidak memunculkan gerakan ini, maka pada dasarnya ini bukti dari tidak adanya keimanan. Hal inilah yang ditegaskan oleh surat ini secara harfiyah.

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (1-3)




Surat ini dimulai dengan pertanyaan yang menuju pada setiap orang yang dapat melihat, agar menyaksikan: “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?” (1) dan menantikan orang yang mendengar pertanyaan ini untuk melihat ke mana isyarat tersebut diarahkan dan kepada siapa ditujukan? Siapakah orang yang mendustakan agama dan siapakah orang yang ditetapkan Al Qur’an sebagai pendusta agama itu. Tiba-tiba jawaban itu menyatakan:

“Itulah orang yang menghardik anak yatim.” (2)

Bisa jadi hal ini menjadi kejutan dibanding dengan pengertian keimanan yang biasa dipahami masyarakat umum. Namun, pengertian ini adalah inti persoalan dan hakikatnya. Orang yang mendustakan agama sesungguhnya adalah orang yang menghardik anak yatim denga kasar–yaitu orang yang menghinakan dan menyakiti anak yatim. Serta orang yang tidak menganjurkan memberi makan orang miskin, juga cherish tidak berpesan untuk memperhatikannya. Seandainya ia sungguh-sungguh membenarkan agama, sekiranya pembenaran ini telah menghujam di dalam hatinya. Ia pasti tidak akan menelantarkan anak yatim dan tidak akan malas menganjurkan memberi makan orang miskin.

Hakikat membenarkan agama sesungguhnya bukanlah kalimat yang diucapkan dengan lisan semata, namun juga berproses dalam hati, sehingga mendorongnya untuk melakukan kebaikan dan kebajikan kepada saudara sesama ummat manusia yang membutuhkan perlindungan dan penjagaan. Allah tidak menghendaki ucapan-ucapan semata manusia. Namun Allah menghendaki agar ucapan-ucapan tersebut disertai dengan berbagai amal perbuatan yang membuktikannya. Jika tidak diserta amal perbuatan, maka ucapan tersebut tidak berguna dan tidak berarti di sisi Allah.

Tidak ada yang lebih tegas dari ketiga ayat ini dalam menetapkan hakikat yang mencerminkan jiwa aqidah dan karakter agama ini.

Kami tidak ingin melibatkan diri dalam perdebatan fiqih seputar pengertian iman dan Islam. Karena pengertian-pengertian fiqih tersebut hanyalah menjadi landasan tegaknya muamalat syar’iyah. Sementara itu, surat ini menetapkan hakikat persoalan menurut penilaian Allah dan timbangan-Nya. Surat ini menetapkan hal lain hockey jerseys di luar bentuk-bentuk lahiriyah yang menjadi landasan tegak berbagai muamalat.

bersambung…

(Sumber: Tafsir Fi-Zhilalil Qur’an karya Ustadz Sayyid Quthb)