Catatan akhir perawat Aleppo Sebelum Memutuskan Bunuh Diri Daripada Menjadi Budak Nafsu Tentara Suriah




Derita masyarakat Aleppo Timur sudah tak bisa dibendung lagi. Perang saudara dan konflik internal antara pemerintahan dan rakyat nya ini kian menjadi seperti tak kenal ampun. Penderitaan rakyat Aleppo dirasakan oleh semua lapisan custom jerseys masyarakat, tak terkecuali wanita dan anak-anak.

Mengutip laman Dailymail, Jumat (16/12/16), seorang perawat Aleppo menuliskan catatan terakhirnya sebelum memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Cheap Jordans Hal ini bukan tanpa alasan ia lakukan, kaum wanita Aleppo telah jadi pelampiasan nafsu tentara-tentara Bashar Assad.

Dari catatan terakhir sang perawat, terlihat jelas bagaimana kondisi di Aleppo. Sangat buruk, dan mungkin tidak lebih buruk dari api neraka.




“Kondisi di Aleppo sangat buruk, mungkin tidak lebih buruk dari api neraka. Di sini sama seperti di neraka”

Kondisi Aleppo kian memburuk manakala wanita-wanita di sana seakan dijadikan budak nafsu oleh tentara rezim Bashar Assad. Hal ini pun tertulis jelas dari catatan akhir sang perawat.

“Saya lebih baik mati daripada tubuh saya dinikmati oleh ‘binatang’ tentara rezim Bashar Assad.”

Sungguh jeritan hati yang begitu menyedihkan. Saat di bagian belahan dunia lainnya, sebagian wanita begitu mudahnya memperlihatkan lekuk tubuh mereka, begitu mudahnya menjalani kehidupan tanpa harus bersembunyi di balik puing bangunan demi menjaga kehormatan dan kesucian diri. Tapi, wanita-wanita Aleppo harus sekuat tenaga semampunya menyelamatkan diri dari tentara-tentara yang telah kehilangan rasa kemanusiaannya. Wanita-wanita Aleppo harus bertengkar dengan batin mereka sendiri, antara harus bertahan hidup tapi hanya dengan menghitung waktu kehormatan dan harga diri mereka terambil paksa. Atau, mengakhiri hidupnya dengan jalan bunuh diri, tetapi yang diketahui bunuh diri adalah hal yang paling di benci Allah SWT.

Ah, rasanya entah bagaimana pergumulan batin yang dirasakan para wanita Aleppo. Seakan sedang menggenggam buah simalakama, tak ada pilihan yang menyenangkan. de Lantas, jikalau bunuh diri merupakan keputusan yang diambil, seperti apa yang dilakukan oleh perawat diatas, bolehkan kita menyebutnya sebagai pendosa?

Jangan. Jangan pernah kita salahkan dia sepenuhnya, karena ia memutuskan untuk bunuh diri. Ketahuilah wanita perawat itu bunuh diri bukan karena bosan dan putus asa dengan kehidupannya. Melainkan, ia memutuskan mengakhiri hidupnya untuk melindungi harga diri yang terakhir fake ray bans baginya. Ia memutuskan bunuh diri untuk menjaga kesucian dirinya dari tentara-tentara biadab Bashar Assad yang ingin menikmati tubuhnya. Menikmati tubuh wanita-wanita diatas penderitaan mereka. Lantas, bijakkah kita meng-judge nya ketika ia memutuskan lebih baik mati daripada harus diperkosa?

Sesungguhnya, tak ada yang ingin mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri. Tak ada. Namun, apalah daya jika ancaman kehilangan harga diri telah didepan mata. Kembali pada-Nya adalah satu-satunya jalan, bagaimana pun itu caranya, dibanding harus menjadi budak cheap Air Jordans nafsu para manusia yang seperti binatang, tentara-tentara rezim Bashar Assad.

Bukan cuma sang perawat yang telah berpulang dengan cara bunuh diri. Berdasarkan laporan yang berkembang, ada sekitar 20 wanita lainnya yang juga memutuskan bunuh diri untuk menghindari sasaran seks para tentara di sana.

“Ya Rabb, Engkau adalah satu-satunya Dzat yang Maha Pengampun dan Maha Mengetahui, hamba percaya itu. Rabb, masih bolehkah memohon? Terimalah mereka yang telah berpulang kepada-Mu dengan cara yang mungkin tidak Engkau suka Rabb.

Ya Allah, ampunilah discount football jerseys juga kami di sini yang tak bisa berbuat banyak untuk menolong saudara-saudara kami di sana, selain terus mengirim doa-doa disetiap sujud, dan doa-doa untuk mereka melalui perbincangan kita.”

 

Oleh : Chairunnisa Dhiee 

 

Leave a Reply