Pagi ini, tiba-tiba salah seorang teman mengirimi saya sebuah chat, “Aku lagi sedih banget. Huhu. Ada yang nusuk aku dari belakang. Aku sedih, marah, kecewa.” Lalu saya menjawab dengan nada cair, “Kok sekarang sedang musim backstabbing ya?” Teringat dengan cerita serupa dari teman saya lainnya beberapa waktu lalu.

Tentu saja kata nusuk yang dia maksud tidak dalam makna sebenarnya. Melainkan sebuah kata kiasan yang sering kita gunakan untuk menggambarkan seseorang yang berhianat. Ya, dia memang sedang merasa dihianati. Selanjutnya ia mencurahkan bahwa ia tidak hanya marah kepada orang yang bersangkutan, tetapi juga marah pada dirinya sendiri.

Sementara itu, tidak banyak yang saya sampaikan. Saya hanya mengatakan, “Banyak-banyak isitighfar, shalat sunnah, tilawah, atau apapun, buat ngusir marah yang kamu rasain. Seenggaknya kamu jernihkan pikiran dulu.”




Lalu dia membalas, “I just forgot to do that. I’m too far from Allah lately.”

Tampaknya ini sering kita alami. Iman kita memang naik turun dan kita tidak bisa memungkirinya. Karena itu sudah seharusnya kita menjaganya–agar kalaupun sedang turun–tidak Pro-Brite sampai drastis dan melemahkan. Sehingga jangan heran, jika sedang dalam kondisi seperti ini kita merasakan banyak emosi cheap nfl jerseys negatif: marah, kecewa, sedih, dan sebagainya.

“Dan sesungguhnya kepada nfl jerseys china Tuhanmulah kesudahannya (segala sesuatu). Dan sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.” (QS. An Najm [53]: 42-43)

Jika membaca ayat tersebut, maka kita dapat memahami bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah milik Allah Swt. Bahkan, hati dan perasaan kita pun milik Allah Swt. Hanya Dia yang mampu membuat kita tertawa dan menangis; senang dan sedih; bahagia dan wholesale football jerseys china merana. Kesehatan, kekayaan, dan orang-orang di sekitar kita sesungguhnya adalah berkah dari-Nya.

Bagi seorang muslim hidup ini adalah perkara memperoleh berkah dan ujian, yaitu antara bersyukur dan bersabar. Sebagaimana hadits Rasulullah Saw berikut:

“Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan fake oakleys bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya. Dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Syukur dan sabar dapat dikatakan sebagai dua penyeimbang dalam hidup. Syukur diperlukan saat kita memperoleh kesenangan, sehingga kita terhindar dari sombong dan takabur. Sementara sabar diperlukan saat kita tengah bersedih, sehingga kita terhindar dari rasa kecewa yang terlalu mendalam.

Karena itu, kita harus mengingat setiap saat bahwa segala sesuatu adalah milik-Nya. Jadi mari kembalikan semua kepada-Nya. Termasuk ketika kita ingin lepas dari perasaan negatif, maka kita pun harus kembali kepada Allah Swt. Membawa diri kita semakin dekat dengan-Nya. Memperbaiki ibadah dan banyak berkomunikasi dengan-Nya. Mendorong diri kita sendiri untuk menjadi pribadi yang bertaqwa.

“… Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (QS. Al Hujurat [49]: 14)

Teori memang seringkali terdengar mudah. Seperti nasihat yang saya sampaikan ke teman saya tersebut. Namun, dalam implementasinya tidak jarang sungguh sulit. Namun, sulit bukan berarti pula kita tinggalkan. Kita hanya perlu berusaha untuk tetap menjalankannya. Apa yang terjadi hari ini sungguh menjadi nasihat dan cheap nfl jerseys shop pengingat tersendiri untuk saya.

Allahua’lam.

Oleh: An Nisaa Gettar