Di Bawah Naungan Al Quran – Al Ma’uun (Bag 3)




Kemudian konsekuensi dari hakikat yang pertama ini disebutkan dalam salah Cheap Ray Bans satu bentuk penerapannya:

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat (4) cheap football jerseys china (Yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, (5) orang-orang yang berbuat riya (6) dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (7)

Ayat ini adalah doa atau ancaman kehancuran bagi orang-orang yang lalai dari shalatnya. Siapakah orang-orang yang lalai dari shalatnya tersebut?




Sesungguhnya mereka adalah:

“Orang-orang yang berbuat riya dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (6-7)

Mereka adalah orang-orang yang shalat, namun tidak menegakkan shalat. Orang-orang yang menunaikan gerakan shalat dan melafalkan doanya, namun hati mereka tidak hidup bersamanya ataupun menghayatinya. Ruh mereka tidak menghadirkan hakikat shalat dan apa yang terkandung di dalam bacaan, doa, dan tasbih yang dilafalkannya. Mereka shalat sesungguhnya karena riya kepada manusia, tidak ikhlas karena Allah.

Oleh karenanya, mereka lalai dari shalat yang mereka tunaikan. Lalai dari kewajiban menegakkannya. Padahal yang dituntut adalah menegakkan shalat, bukan sekedar melakukannya. Menegakkan shalat tidak akan tercapai, kecuali dengan menyadari hakikatnya, serta menunaikannya hanya karena Allah.

Maka dari itu, shalat tidak akan dapat menumbuhkan berbagai pengaruhnya di dalam jiwa orang-orang yang shalat, tapi lalai dari fungsi shalat itu sendiri. Sehingga mereka enggan menolong dengan sesuatu yang berguna. Mereka enggan memberi bantuan, kebajikan dan kebaikan kepada saudara sesama manusia. Mereka enggan memberi bantuan kepada hamba-hamba Allah. Sekiranya mereka menegakkan shalat secara benar karena Allah, niscaya mereka tidak akan enggan memberi bantuan. Karena memberi bantuan adalah batu ujian untuk menguji cheap jerseys wholesale kebenaran ibadah yang diterima di sisi Allah.

Demikianlah kita mendapati diri kita sekali lagi di hadapan hakikat aqidah ini dan di hadapan karakter agama ini. Kita menjumpai nash Al-Qur’an yang memperingatkan orang-orang yang shalat, dengan kecelakaan. Karena mereka tidak menegakkan shalat secara benar. Namun, mereka hanya menunaikan gerakan-gerakan shalat yang tidak ada ruhnya, dan tidak tidak ikhlas karena Allah semata. Mereka hanya melakukannya secara riya. cheap nfl jerseys Shalat tersebut tidak meninggalkan pengaruhnya di dalam hati dan amal perbuatan mereka. Karena itu, shalat tersebut menjadi sia-sia. Bahkan suatu kemaksiatan yang akan memperoleh balasan yang sangat buruk.

Di balik White semua itu kita melihat hakikat yang dikehendaki Allah dari para hamba-Nya, saat Dia mengutus kepada mereka berbagai risalah agar mereka beriman kepada-Nya dan replica oakleys menyembah-Nya. Sesungguhnya Dia tidak menghendaki sesuatu dari mereka untuk diri-Nya Yang Mahasuci–karena Dia Mahakaya–tapi Dia menghendaki kebaikan dan kemaslahatan mereka sendiri. Dia menghendaki kebaikan bagi mereka. Dia menghendaki kesucian hati mereka dan kebahagiaan kehidupan mereka. Dia menghendaki kehidupan yang tinggi bagi mereka. Kehidupan yang didasarkan pada perasaan yang bersih, saling bekerja sama, sifat yang mulia, rasa cinta, persaudaraan, kejernihan hati, dan perilaku.

Ke manakah ummat manusia pergi jauh dari kebaikan ini? Dari rahmat ini? Dari puncak ketinggian yang indah lagi mulia? Ke mana pergi untuk memerosokkan dan menjerumuskan diri ke dalam kesesatan jahiliyah yang gelap dan kotor, padahal di hadapannya ada cahaya di persimpangan jalan?

(Sumber: Tafsir Fi-Zhilalil Qur’an karya Ustadz Sayyid Quthb)

Leave a Reply