Memerangi negeri kafir satu kali dalam setahun, sebagaimana disebutkan oleh para ulama fiqih dan dianggap sebagai fardhu kifayah (yang harus dilakukan oleh para khalifah dan umara), menjadi Mükemmel tidak berlaku karena perubahan situasi dan kondisi. Ketika hal tersebut ditegaskan, para ulama mengambil kesimpulan berdasarkan realitas yang terjadi saat itu. Manusia sadar bahwa menyerang adalah cara mempertahankan diri yang paling baik. Jika musuh tidak diserang terlebih dahulu, maka mereka yang akan menyerang lebih ray ban outlet dulu. Jika tidak dilawan, musuh pun akan menduduki negeri Islam.

Hal tersebutlah yang menjadi alasan para ulama fiqih. Namun, ada ulasan Ibnu Taimiyah yang menyebutkan beberapa penghalang melakukan perang, yang salah satunya adalah: jika pemimpin melihat musuh memiliki pandangan yang baik terhadap Islam, sehingga membuatnya menjadi dekat untuk kemudian masuk Islam. Juga, jika umat Islam tidak memiliki kekuatan, baik ekonomi maupun sumber daya alam, untuk melakukan kewajiban jihad, sehingga hal tersebut memengaruhi mereka untuk melakukan jihad yang baik terhadap musuh.

Kewajiban melakukan peperangan terhadap musuh satu kali dalam setahun bisa berubah berdasarkan realitas yang terdapat di dalam fiqih siyasah syar’iyyah (fiqih politik). Fiqih tersebut memiliki sifat terbuka, elastis, berkembang, dan memiliki pandangan yang berbeda. Sebab, fiqih tersebut berdiri di atas maksud-maksud (fiqh al-maqashid) dan fiqih kemaslahatan (fiqh al-mashalih), fiqih konsekuensi (fiqh al-ma’alat), fiqih komparatif (fiqh al-muwazanat), dan fiqih prioritas (fiqh al-aulawiyyat).




Seluruh fiqih tersebut memiliki cakupan yang luas untuk melakukan ijtihad inovatif (al-ijtihad al-insya’i), ijtihad selektif (al-ijtihad al-intiqa’i), ragam bentuk, ragam sudut pandang, dan ragam pendapat. Dengan demikian, setiap kelompok tidak boleh mengingkari fake oakleys kelompok lain, selama semuanya menghormati ajaran-ajaran tetap (al-tsawabit). memperhatikan dasar-dasar syariat (al-ushul al-syar’iyyah), dan batasan-batasan (al-dawabith).

Kita tahu bahwa khlifah kelima, Umar bin Abdul Aziz, menarik pasukannya yang ketika itu sedang mengepung Konstantinopel karena ia tidak memiliki alasan penerangan atau mendapatkan cheap nfl jerseys hasil yang diharapkan. Padahal, hal tersebut tentu saja membutuhkan pengorbanan yang sangat besar, baik kerja keras pasukan maupun pengeluaran dana yang menyedot cheap nba jerseys kas negara, sehingga menghabiskan sumber-sumber pendapatan yang lain.

Inilah yang ditulis oleh sejarahwan Muslim terpercaya, Dr. Imaduddin Khalil, dalam bukunya Umar ibn Al-Aziz wa Malamih Al-Inqilab Al-Siyasi fi Ahdihi. Dia menulis:

“Ketika Umar Ibn Abdul Aziz memegang jabatan Baratas Replicas Ray Ban khalifah, kekuatan umat Islam sedang mengepung Konstantinopel tanpa ada manfaat sedikitpun. Suhu musim dingin dengan udara dan saljunya menimpa pasukan yang ditugaskan di darat dan laut. Mereka pun diserang rasa lapar yang sangat hebat. Ketika itu, komandan pasukan, Masalamah Ibn Abdul Malik, tidak menerima bantuan agar bisa mendorong pasukannya untuk meruntuhkan benteng Konstantinopel yang kokoh. Ketika seorang dimulai, Kaisar Byzantium yang baru, Leo, mendekati benteng dan melemparkan arang api buatan Yunani. Perahu-perahu pasukan Islam pun terbakar. Banyak dari tentara Islam yang terbunuh, dan barisan pasukan perang pun menjadi kocar-kacir.

bersambung…

(Sumber: Kita Fiqih Jihad oleh Ustadz Yusuf Qardhawi)