Mengingat Kembali Generasi Kepahlawanan




Setiap potongan zaman mempunyai pahlawannya masing-masing. Mereka adalah putera-puteri terbaik yang dilahirkan pada potongan zamannya. Mereka terpilih dari generasi mereka masing-masing, karena merekalah pemegang saham terbesar dari peristiwa-peristiwa kepahlawanan yang terjadi pada potongan zaman kehidupan mereka.

Para pahlawan itu adalah anak-anak zaman mereka. Seperti tipikal generasi umat manusia yang berbeda pada setiap zaman, demikian pula tipikal kepahlawanan pada setiap zaman berbeda. Kadang merupakan suatu kesinambungan sejarah, kadang juga merupakan fenomena cheap nhl jerseys yang bersifat diskontinyu. Kepahlawanan itu terdiri dari banyak generasi.

Ambillah contoh setting sejarah Islam. Seratus tahun pertama dari sejarah peradaban Islam diisi dengan pembangunan basis demografi dan teritorial, mulai dari pembangunan komunitas sahabat di Mekkah, penegakkan daulah di Medinah, dan penyebaran Islam ke wilayah Syam, Mesir, Parsi hingga Asia Tengah dan Selatan. Fenerasi terbaik dari etnis Arab habis dalam masa itu, maka kepahlawanan cheap nfl jerseys shop orang-orang Arab berbasis pada jihad dan politik.




Setelah khilafah Islamiyah tegak berdiri, stabil dan makmur, datanglah generasi kepahlawanan kedua, pahlawan ilmu dan peradaban. Maka pada abad kedua, ketiga, dan keempat kita menyaksikan mekarnya ilmu pengetahuan, baik pengetahuan keislaman maupun pengetahuan dan sosial humaniora dan eksakta.

Inilah zaman kepahlawan bagi generasi Islam yang berasal dari etnis Persi dan Asia Tengah. Sepuluh ahli qiroah Quran bukan dari etnis Arab. Enam perawi hadits terbesar juga bukan dari etnis Arab. Para pakar filsafat seperti Al-Kindi, Al Farobi, atau ilmuwan seperti Ibnu Sina dan Al-Khawarizmi, juga cheap football jerseys china bukan orang Arab. Bahkan, yang kemudian membukukan kaidah-kaidah bahasa Arab cheap jordans online juga bukan orang Arab. Misalnya Sibawaeh dan Al-Khalil bin Ahmad Ray Ban sale Al-Farahidi.

Itu tidak berarti bahwa bangsa Araab sangat sedikit melahirkan ilmuwan. Sebaliknya, merekalah yang membangun fondasi yang kokoh dan kuat lagi lahirnya sebuah imperium peradaban, yang bertahan di puncak kejayaannya hingga satu milenium.

Umur mereka habis dalam membangun pilar-pilar raksasa negara Islam, mereka memimpin dan berperang. Sebab itulah ‘kehendak’ zamannya. Sebab образ itulah ‘permintaan’ zamannya. Mereka hanya menuruti kehendak zaman. Mereka hanya memenuhi permintaan zaman.

Hingga tujuh abad kemudian, tidak banyak nama besar dalam dunia militer dari orang-orang yang mendiami wilayah Persi dan Asia Tengah. Hingga datang saatnya panggilan jihad pada masa Perang Tartar dan Perang Salib. Dari yang pertama ada nama Muzhaffar Qutuz dari klan Khawarizmi di Asia Tengah yang mengalahkan Tartar dalam Perang Ain Jalut. Dari yang kedua ada nama Sholahuddin Al-Ayyubi dari Etnis Kurdi yang mendiami wilayah perbatasan Iran, Irak Syiria dan Turki, yang mengalahkan pasukan Salib dalam Perang Hiththin. Penjelasannya : energi mereka terkuras memenuhi panggilan kepahlawanan ilmu dan peradaban.

Pada setiap bangsa persoalan ini terulang. Dan ini mengajarkan kita sebuah kaidah, pada akhirnya setiap pahlawan selalu menumpahkan kepahlawanannya pada muara besar yang diciptakan oleh sejarah peradaban mereka, pada akhirnya setiap pahlawan adalah anak peradabannya.

 

Oleh : Chairunnisa Dhiee  (sumber : buku ‘Tarbawi’ karya M.Anis Matta, Lc)

Leave a Reply