Katakanlah ‘Hai orang-orang kafir. (1) Aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah. (2) Dan, kalian bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. (3) Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kalian sembah. (4) Dan, kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. (5) Untuk kalianlah agama kalian, dan untukkulah agamaku. (6)

Masyarakat Arab tidak pernah mengingkari (eksistensi) Allah, namun mereka tidak mengenal-Nya secara benar sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah sendiri: Mahaesa, tempat bergantung. Mereka menyekutukan-Nya, tidak mengagungkan-Nya secara benar, dan tidak menyembah-Nya dengan sebenar-benar ibadah  kepada-Nya. Mereka menyekutukan-Nya dengan berhala-berhala yang menyimbolkan orang-orang shalih atau para tokoh pendahulu mereka. Atau menyimbolkan para malaikat. Mereka meyakini bahwa antara Allah–Mahasuci Dia–dan surga ada nasab keturunan. Atau mereka melupakan simbol-simbol tersebut dan menyembah tuhan-tuhan ini. Dalam kedua keadaan ini mereka menjadikan berhala-berhala tersebut sebagai perantara untuk mendekatkan diri mereka kepada Allah, sebagaimana Al Qur’an menceritakan perkataan mereka di dalam surat Az-Zumar:

“… Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya… “ (Az Zumar: 3)




Al Qur’an menceritakan tentang mereka bahwa mereka mengakui Allah sebagai Pencipta langit dan bumi. Mereka juga mengakui bahwa Allah-lah yang ray ban sunglasses sale menundukkan matahari dan bulan, serta menurunkan air hujan dari langit, sebagaimana yang disebutkan Al Qur’an di dalam surat Al -Ankabut:

“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, ‘Siapakah Toplama yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?’ Tentu mereka akan menjawab, ‘Allah.’” (Al-Ankabut: 61)

“Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, ‘Siapakah yang menurunkan air dari langit, lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?’ Tentu mereka akan menjawab, ‘Allah.’” (Al-Ankabut: 63)

Di dalam sumpah-sumpah mereka, mereka mengatakan, “Wallahi (Demi Allah) dan Tallahi (Demi Allah). Di nfl jerseys cheap dalam doa-doa mereka, mereka mengatakan, ‘Allahumma (Ya Allah).’”

Meskipun mereka beriman kepada Allah, namun kemusyrikan ini telah merusak persepsi mereka sebagaimana juga telah merusak tradisi-tradisi dan syiar-syiar mereka, sehingga mereka menjadikan tuhan-tuhan palsu itu–menurut anggapan mereka–memiliki bagian dalam pertanian, peternakan, dan anak keturunan mereka. Bahkan kadang-kadang bagian ini menuntut korban berupa anak-anak mereka. Berkenaan dengan hal Cheap Ray Bans ini, Al-Qur’an menceritakan tentang mereka di dalam surat Al-An’am:

“Mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka, ‘Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami’. Maka sajian-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan sajian-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu. Demikianlah pemimpin-pemimpin mereka telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang yang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan untuk mengaburkan agama mereka. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya. Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. Mereka mengatakan, ‘Inilah binatang ternak dan tanaman yang dilarang; tidak boleh memakannya, kecuali orang yang kami kehendaki’, menurut anggapan mereka, dan ada binatang ternak yang diharamkan menungganginya dan binatang ternak yang mereka tidak menyebut nama Allah di waktu menyembelihnya, semata-mata membuat-buat kedustaaan terhadap Allah. Kelak Allah akan membalas mereka terhadap apa yang selalu mereka ada-adakan. Dan mereka mengatakan, ‘Apa yang dalam perut binatang ternak ini adalah khusus untuk pria kami cheap jordan shoes dan diharamkan atas wanita kami’. Dan jika yang dalam perut itu dilahirkan mati, maka pria oakley sunglasses cheap dan wanita sama-sama boleh memakannya. Kelak Allah akan membalas mereka terhadap ketetapan mereka. Sesungguhnya, Allah Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka karena kebodohan lagi tidak mengetahui, dan mereka mengharamkan apa yang Allah telah rezekikan kepada mereka dengan semata-semata mengada-adakan terhadap Allah. Sesungguhnya, mereka telah sesat dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.” (Al-An’aam: 136-140)

bersambung…

(Sumber: Tafsir Fi-Zhilalil Qur’an karya Ustadz Sayyid Quthb)