Bela Negara serta Pandangannya dalam Islam




Tanggal 19 Desember kemarin masyarakat Indonesia kembali memperingati Hari Bela Negara. Memang perayaan Hari Bela Negara ini tidak terasa euforianya, bahkan sepertinya masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak mengetahui hari spesial tersebut. Penetapan Hari Bela Negara sendiri baru diputuskan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia pada tanggal 18 Desember 2006, dan setiap tahunnya tidak ada perayaan gempita yang digelar.

Seremonial memang penting dilakukan. Namun, ada yang lebih penting dari sekedar seremonial dalam merayakan sebuah hari spesial: memaknai dan mengimplementasi nilai-nilai momentumnya.

Penetapan Hari Bela Negara berangkat dari peristiwa bersejarah pembentukan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, oleh Syafruddin Prawiranegara pada tanggal 19 Desember 1948. Pasca kemerdekaan, Kota Bukittinggi ditetapkan sebagai Ibukota Provinsi Sumatera pada tahun 1947 dengan Gubernur M. Teuku Muhammad Hasan. Selama masa mempertahankan kemerdekaan tersebut pula, Kota Bukittinggi berperan sebagai kota perjuangan dan ditunjuk sebagai Ibukota Negara Indonesia selepas Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda. Pada saat itulah, PDRI akhirnya dibentuk.




Hari Bela Negara sebenarnya momentum yang tepat bagi kita semua untuk menumbuhkan kembali semangat juang kita dalam melindungi negeri. Menjaga kedaulatannya Cheap Jordans dan memberikan kontribusi terbaik untuknya. Pasal 27 ayat 3 UUD 1945 mengamanatkan bahwa, “Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara.” Membela negara adalah kewajiban sekaligus hak bagi kita, sehingga yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah: bagaimana cara kita membela negara?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari kita tengok sejenak kabar negeri kita tercinta. Beberapa waktu terakhir masih hangat tentang kasus penistaan agama oleh salah seorang tokoh publik, yang dipanaskan oleh isu rasisme dan perpecahan. Di bidang pertanian, tengah heboh oleh masuknya benih cabai dan padi berbakteri yang mengancam keselamatan produksi dalam negeri. Ada lagi isu mengenai pekerja dari luar negeri (khususnya Tiongkok) yang akan membanjiri pasar tenaga kerja dalam negeri. Belum lagi isu yang esksistensinya masih ada dari dulu sampai sekarang: korupsi, narkoba, pelecehan seksual, pembunuhan, dsb.

Tanpa perlu menghafal ayat UUD yang disebutkan di atas, rasanya sudah seharusnya kita cheap oakleys sebagai warga negara mempersembahkan sebuah aksi yang mencerminkan suatu pembelaan terhadap negara kita. Agar kata merdeka yang kita sandang tidak sebatas pada simbol dan konteks formal saja, namun tetap lekat pada makna kedaulatan dan persatuan sesungguhnya. Mempertahankan status de jure dan de facto yang dulu telah diperjuangkan oleh para pendahulu kita.

Sebagai agama yang komprehensif, Islam pun menghendaki para pemeluknya untuk turut serta dalam membela negara. Meskipun sebagai Muslim kita harus bersatu padu dan tidak boleh terkotak-kotak oleh batas wilayah, bukan berarti Islam tidak menghendaki pembelaan terhadap oakley womens sunglasses negara.

“Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Al Baqarah: 148)

Dalam sudut pandang Islam, bela negara merupakan wujud dari ukhuwah wathoniyah, yaitu mencintai saudara sebangsa dan setanah air. Pembelaan negara oleh umat Islam juga telah ada sejak jaman perjuangan kemerdekaan dahulu. Sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Panglima TNI Indonesia Gatot Nurmantyo bahwa Indonesia berutang kemerdekaan kepada umat Islam. Karena demikianlah sejarah terjadi. Para penggagas dan pejuang kemerdekaan banyak lahir dari kalangan santri pesantren. Karena merekalah kelompok yang mengenal jihad—memberantas kemungkaran berbentuk kolonialisme kala itu. ‘Merdeka atau mati’ terlahir dari wholesale jerseys semangat ‘berjuang atau mati syahid’, sebuah semboyan yang hanya dimiliki oleh umat Islam. Karena itu, sebuah fakta yang tidak bisa dipungkiri bahwa Islam telah berperan besar dalam momentum bersejarah pembelaan negara Indonesia, yaitu perjuangan mengusir penjajah.

Dalam lingkup kenegaraan (termasuk politik), jihad cheap nfl jerseys memiliki konsep yang luas dan fleksibel. Pada jaman penjajahan dahulu, perang pertahanan diri (perang defensif) adalah salah satu cara terbaik dalam berjihad. Namun, jihad sendiri tidak terbatas pada игроков perang saja. Ustadz Yusuf Qardhawi bahkan berpendapat bahwa kewajiban melakukan peperangan terhadap musuh satu kali dalam setahun—sebagaimana pendapat mayoritas ulama—dapat berubah berdasarkan realitas yang terdapat dalam fiqih politik. Artinya, perang bukan satu-satunya cara dalam berjihad. Pada kondisi seperti sekarang ini jihad perlu dilakukan dengan cara-cara lain: jihad ilmu, jihad sosial, jihad ekonomi, jihad pendidikan, jihad kesehatan, atau jihad lingkungan. Di sini kita harus mengembalikan jihad dalam makna harfiyahnya, yaitu bersungguh-sungguh.

Sebagai Muslim kita dapat membentuk sudut pandang bahwa bela negara adalah salah satu wujud jihad, sehingga apa yang kita lakukan tidak sampai hanya pada aksi dan dampaknya, tetapi juga memperoleh ganjaran dari Allah Swt. InsyaAllah.

“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan buatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya.” (Al Hajj: 77-78)

Referensi:

  • Fiqh Jihad karya Ustadz Yusuf Qardhawi
  • belanegara.kemhan.go.id
  • www.republika.co.id
  • www.e-jurnal.com
  • economy.okezone.com
  • bisnis.liputan6.com

 

Leave a Reply