Sebab itu, tidaklah heran jika tidak semua orang berpikir berhasil dalam pendapat pikirannya. Dalam satu juta, tampil 1.000 orang, dan dalam 1000 yang tampil ke depan, belum tentu 10 orang yang sampai ke akhir hingga Cheap Jordans dapat memecahkan soal yang empat itu.

Sebab itu pula, tidaklah Cheap Football Jerseys kita heran jika ada ahli ilmu pengetahuan yang jera atau kapok dari berfilsafat. Itu adalah soal metafisika, soal yang di luar dari jangkauan pikiran kita. Demikian kata mereka.

Ada pula yang berkata, “Bagaimana pikiran yang terbatas kekuatannya akan dapat menguasai perkara yang tidak ada batasnya?”




Pikiran itu ada batasnya. Ada pagar larangan yang tak boleh di lampauinya. Namun, pikiran bukan pikiran kalau ia tidak mencoba hendak melampaui batas larangan itu. Nabi Adam pun telah mencoba melanggar, mendekati pohon khuldi, padahal berkali-kali telah diberi tahu jangan mendekat ke sana. Namun, ia mendekat juga cheap jordans online dan dimakannya juga buah itu. Kesudahannya, khuldi belum bisa dicapainya pada waktu CAMBRIDGE itu, hanya dirinya yang bertelanjang, dan ternyata tempat itu tak layak baginya dan istrinya.

Mereka disuruh pergi, mandi keringat dalam hidup untuk datang ke sana nanti, setelah melampui berbagai penderitaan dan halangan. Nasib malang bagi manusia!

Ada orang yang mencari, dan telah bertemu perkara itu. Namun, ia tidak tahu bahwa itulah ia. Ada yang takut hendak bertemu, padahal wholesale jerseys china ia kesana juga. Ada yang sudah sangat payah lalu ia berhenti, dan akhirnya diambilnya saja keputusan, “Tak mungkin ia tidak ada. Ini bekas adanya kulihat!”

Ada filsuf besar yang besar dalam kegagalannya. Untuk menjadi i’tibar bagi manusia lain. Tatkala Gassendi, Filsuf Prancis yang terkenal (1592-1655), terbaring di tikar kematian dan telah mengucapkan kata terakhir, “Saya telah dilahirkan ke dunia, tetapi saya tidak juga cheap jordan shoes tahu apa sebab saya dilahirkan. Saya pun telah hidup, tetapi saya juga tidak tahu apa artinya hidup itu. Sekarang saya mati, tetapi saya juga tidak mengapa saya mesti mati dan apa artinya mati itu.”

Sebagai orang beragama, sepintas lalu tuan marah kepada Gassendi. Tapi kalau tuan mempergunakan pikiran, tuan pun kadang-kadang bertanya juga dalam hati sebagaimana Gassendi bertanya.

Abul al-Ma’arry, seorang pujangga Arab, pujangga beragama Islam, demikian gelapnya ia memandang hidup sampai ketika ia akan mati ditulisnya sebait syair dan diwasiatkannya supaya dituliskan pada nisannya jika mati. Demikian bunyinya.

Ini adalah dosa ayahku atas diriku. Dan aku tidaklah berbuat dosa atas orang lain. Ini, yaitu maut sebagai akhir hidup adalah tersebab aku pernah hidup. Menjalar, merangkak, tegak, berlari, terhenyak, jatuh, dan tegak lagi. Tertawa, menangis, gelak terbahak lalu merenung. Namun, soal tidak juga dapat dipecahkan. Akhirnya, mati saja. Hanya sekian.”

bersambung..

 

Oleh :Chairunnisa Dhiee (sumber : buku ‘Pandangan Hidup Muslim’ karya Prof. Dr. Hamka)