Di Bawah Naungan Al Qur’an – Al Kaafirun (Bag 2)




Mereka meyakini bahwa mereka penganut agama Ibrahim dan lebih benar dari Ahli Kitab yang hidup bersama mereka di Jazirah Arabia, karena orang-orang Yahudi mengatakan, “Uzair adalah anak Allah”, sedangkan orang-orang Nasrani mengatakan, “Isa adalah anak Allah.” Padahal mereka sendiri menyembah malaikat custom jerseys dan jin yang dianggap sebagai kerabat Allah–sesuai persangkaan mereka–sehingga mereka menganggap diri mereka lebih benar. Karena penisbatan malaikat dan jin kepada Allah–menurut kepercayaan mereka–lebih dekat daripada Uzair dan Isa. Semua itu merupakan kemusyrikan. Tidak ada kebaikan dalam kemusyrikan. Namun mereka menganggap diri mereka lebih benar dan lebih lurus jalannya.

Saat Muhammad Saw datang kepada mereka seraya mengatakan, “Sesungguhnya agamanya adalah agama Ibrahim a.s.,” mereka mengatakan, “Kami pengikut agama Ibrahim sehingga kami tidak perlu meninggalkan agama yang kami anut lalu mengikuti Muhammad.” Pada oakley sunglasses sale waktu yang sama mereka berupaya mencari jalan tengah untuk dapat kompromi dengan Muhammad Saw, lalu mereka menawarkan kepada Nabi Saw supaya mau bersujud kepada tuhan-tuhan mereka dan sebagai imabalannya mereka akan bersujud kepada Tuhannya. Juga agar beliau mau diam tidak mencela tuhan-tuhan mereka dan peribadatan mereka, serta mereka siap meneriman persyaratan apa saja yang diinginkan Nabi Saw.

Bercampuraduknya persepsi mereka dan pengakuan mereka tentang Allah di samping penyembahan tuhan-tuhan lain bersama-Nya. Bisa jadi hal ini mengesankan mereka bahwa jarak antara mereka dan Muhammad itu dekat, dapat diperoleh titik temu dan saling memahami, dengan cara membagi negara menjadi dua bagian dan bertemu di jalan tengah, sehingga masing-masing pihak merasa puas.




Untuk menghilangkan keraguan ini, menutup pintu menuju usaha tersebut, dan membuat garis pemisah yang tegas antara peribadatan Islam dan peribadatan jahiliyah, antara manhaj Islam dan manhaj jahiliyah, antara pandangan Islam dan pandangan jahiliyah, antara jalan Islam dan jalan jahiliyah, maka turunlah surat ini dengan ungkapan yang sangat tegas, Cheap nfl Jerseys pasti, dan diulang-ulang. Untuk mengakhiri seluruh perkataan, menghentikan segala tawar menawar, memisahkan secara total antara tauhid dan kemusyrikan, serta menegakkan rambu-rambu secara jelas, tanpa menerima tawar-menawar dan perdebatan, sedikit atau banyak:

“Katakanlah, ‘Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah. Dan, kalian bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kalian sembah. Dan, kalian Cheap Jordans tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku products sembah. Untuk kalian lah agama kalian, dan untukkulah agamaku.” nfl jerseys cheap (1-6)

Penafian demi penafian. Ketegasan demi ketegasan. Penegasan demi penegasan. Dengan menggunakan semua ungkapan penafian, ketegasan, dan penegasan.

Qul…

“Katakanlah…”

Ini adalah perintah Ilahi yang tegas dan mengisyaratkan bahwa perkara aqidah ini merupakan perintah Allah semata. Tidak ada campur tangan Muhammad sedikit pun di dalamnya. Yang memerintahkannya hanyalah Allah Yang tidak seorangpun mampu menolak perintah-Nya, Yang Maha Menentukan hukum yang tidak seorang pun mampu menolak hukum-Nya.

bersambung…

(Sumber: Tafsir Fi-Zhilalil Qur’an karya Ustadz Sayyid Quthb)

 

Leave a Reply