Bertindak Sesuai Prioritas




Mengerti proritas itu penting. Agar urusan yang mendesak tak terlunta-lunta. Sementara yang bisa ditunda justru menyita perhatian dan menguras tenaga. Begitulah yang kita harapkan dari pemerintah negeri ini. Dalam menyikapi berbagai masalah bertubi-tubi yang tak kunjung selesai. Agar bangsa ini tidak kehilangan arah. Seperti perahu yang melaut tanpan layar, dan berlabuh tanpa jangkar.

Menanggapi desakan segelintir pihak asing tentang terorisme di Indonesia memang penting. Tetapi menyelesaikan bertumpuk krisis di dalam negeri tentu jauh lebih mendesak. Karena ia berujung langsung pada hajat hidup orang banyak. Sebab ia berurusan dengan kebutuhan perut dan hak-hak hidup masyarakat luas.

Masih banyak kengerian di negeri ini yang harus diurus. Kematian sia-sia di cheap nba jerseys Aceh, utang luar negeri yang mematikan tujuh turunan, tindak kejahatan yang menggelembung, permainan politik yang busuk, atau kemiskinan yang mengurat. Berdasarkan catatan, Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index/HDI) Indonesia Cheap Ray Ban Sunglasses  selama tahun 2002 turun menjadi urutan ke 110, dibanding sebelumnya di posisi 102 pada tahun lalu. Itu sangat bisa dilihat dengan mata telanjang, pada pilar-pilar yang menentukan tingkat HDI, yaitu melalui kesehatan yang dinyatakan dengan angka harapan hidup, melalui pendidikan yang dinyatakan dengan angka melek huruf, dan melalui ekonomi yang dinyatakan cheap jerseys wholesale lewat tingkat daya belim masyarakat.




Memang, tahun ini pemerintah berencana mengalokasikan dana Rp. 5,12 trilyun untuk pembangunan kesehatan nasional pada 2003. Namun, dana tersebut diperkirakan tidak cukup untuk mendongkrak HDI Indonesia. Apalagi, dana tersebut, 85 persennya akan habis untuk pemberantasan penyakit menular.

Memahami prioritas itu mesti. Karena pengetahuan manusia itu terbatas. Sehebat apapun. Bilapun dengan dukungan teknologi dan rekayasa sosial ada yang merasa tahu banyak hal, tetap saja manusia bukan Tuhan dan bukan malaikat. Seluas apapun ruang tahu yang dimilikinya, ruang tidak tahunya masih jauh lebih lebar.

Bukti sederhananya, ketika minggu lalu dengan serius Amerika mengingatkan warga asing yang berada di Jogjakarta tentang serangan teror, toh beberapa dari mereka mengaku sudah seminggu merasa lebih aman. Mereka bisa dengan santai menyaksikan Festival Drum Band bertopeng di Jalan Malioboro, atau menimang anak balita mereka di arena bermain Kid Fun.

Memahami prioritas itu harus. Agar kita tidak menjadi orbiter sebuah norma  tertentu yang definisinya telah dimonopoli secara paksa. Seperti soal terorisme Cheap Ray Bans itu sendiri, yang sumber informasi, makna, dan penyikapannya telah ditinggalkan. Amerika seakan menutup telinga rapat-rapat dari second opinion, meski itu datang dari sekutunya sendiri.

Padahal menurut hasil jajak pendapat yang dilakukan Chicago Council on Foreign Cheap Jerseys Relations bersama dengan German Marshal Fund dari AS belum lama ini, 55% masyarakat Eropa meyakini serangan ke WTC dan Böreği Pentagon merupakan akibat dari kebijakan luar negeri Amerika. Hanya seperlima dari responden yang beranggapan Bush telah bekerja dengan baik dalam menangani konflik Arab Israel. Jajak pendapat besar-besaran yang melibatkan 9.000 warga Eropa dan Amerika itu diyakini sebagai jajak pendapat paling komprehensif terhadap sikap kebijakan luar negeri AS dan Eropa.

Atau seperti ketika beberapa waktu lalu diadakan konferensi di Berlin dengan topik ‘Terorisme sebagai Tantangan Global di abad 21’. freimut Duve, seorang peserta yang juga tokoh Jerman memprotes judul konferensi tersebut. “Kita tidak hidup di dunia di mana hanya ada teror,” katanya. Lalu tambahnya, “Tiba-tiba kita sekarang seakan-akan hanya punya satu masalah, yakni terorisme. Masalah lain dinaggap tidak penting.”

Mengerti prioritas itu harus. Agar kita tidak menjadi bangsa yang buruk rupa dan buruk rasa.

Leave a Reply