Di Bawah Naungan Al Qur’an – Al Kaafirun (Bag 3)




“Katakanlah, ‘Hari orang-orang kafir.” (1)

Allah memanggil mereka dengan hakikat yang melekat pada diri mereka dan memberi sifat kepada mereka dengan discount oakley sifat yang ada pada diri mereka. Mereka sesungguhnya bukan penganut agama dan mereka juga bukan orang-orang yang beriman. Mereka hanyalah orang-orang kafir, sehingga tidak ada titik temu antara kamu dan mereka di Cheap Jordan Shoes suatu jalan.

Demikianlah permulaan surat dan pembukaan pembicaraan ini memberikan isyarat tentang hakikat pemutusan yang tidak dapat diharap bisa tersambung.




“Aku tidak akan menyembang apa yang kalian sembah.” (2)

Karena ibadahku tidak sama dengan ibadahmu, dan Tuhan yang aku sembah tidak sama dengan tuhan yang kamu sembah.

“Dan kalian bukan penyembah Tuhan yang aku sembah” (3)

Karena ibadahmu tidak sama dengan ibadahku dan Tuhan yang kamu sembah tidak sama dengan Tuhan yang aku sembah.

“Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah.” (4)

Ayat ini menegaskan pernyataan yang pertama dalam bentuk jumlah ismiyah (nominal clause) yang lebih kuat dalam memberikan kesan kelekatan dan kelanggengan sifat.

“Dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.” (5)

Ini adalah pengulangan untuk menegaskan pernyataan yang kedua, agar tidak ada lagi keraguan dan prasangka. Setelah penegasan yang diulang dengan menggunakan sarana pengulangan dan penegasan ini tidak ada lagi ruang untuk ragu dan prasangka.

Lalu disampaikan secara umum mengenai hakikat perpisahan yang tidak bisa dipertemukan, perbedaan yang tidak dapat disamakan, pemutusan yang tidak dapat disambung, dan ciri khas yang tidak dalam dicampur aduk.

“Untuk kalianlah agama kalian, dan untukkulah agamaku.” (6)

Aku di sini dan Cheap Jordans kau di sana. Tidak ada seberangan, tidak ada jembatan, dan tidak ada jalan. Pemisahan total dan menyeluruh. Ciri khas yang jelas dan detil.

Pemisahan ini begitu diperlukan guna menjelaskan rambu-rambu perbedaan yang mendasar dan menyeluruh, yang tidak memungkinkan adanya sesuatu yang dijadikan sebuah titik pertemuan di persimpangan jalan. Yaitu perbedaan dalam esensi keyakinan, dasar persepsi, hakikat manhaj, dan karakter jalan.

Tauhid sesungguhnya merupakan manhaj sebagaimana kemusyrikan adalah juga manhaj yang berbeda. Keduanya tidak mungkin dapat bertemu. Tauhid merupakan manhaj yang membawa manusia–bersama alam wujud–menuju Allah semata tanpa sekutu bagi-Nya, dan menentukan sumber yang darinya manusia menerima aqidah dan syariatnya, nilai-nila dan tolok ukurnya, adab dan akhlaknya, serta seluruh persepsi mengenai kehidupan dan alam Cheap nfl Jerseys wujud.

Sumber yang darinya seorang mukmin menerima cheap jerseys wholesale semua hal tersebut adalah Allah. Allah semata tanpa sekutu. Karena itu, seluruh kehidupan tegak dan berjalan di atas landasan ini, tanpa tercampur dengan kemusyrikan, apapun bentuknya–yang nyata maupun bersembunyi.

Pemisahan yang demikian jelas For ini sangat dibutuhkan oleh para da’i (penyeru) dan para mad’u (orang-orang yang diseru dan dida’wahi).

bersambung…

(Sumber: Tafsir Fi-Zhilalil Qur’an karya Ustadz Sayyid Quthb)

Leave a Reply