Di Madinah yang damai, suatu hati, Rasulullah pergi ke perkampungan orang-orang Anshar. Ini bagian yang lazim dari kepedulian Rasullullah pada rakyatnya, yang ia cintai sepenuh hati, bahkan hingga detik-detik akhir hayatnya. Sejurus kemudian Rasulullah memasuki sebuah kebun. Tiba-tiba Rasulullah melihat seekor unta yang sangat kurus. Ketika melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, unta itu menangis, merintih, dan meneteskan air cheap football jerseys mata. Maka Rasul mendekati unta itu, lalu mengusap perutnya sampai ke punuk dan ekornya. Unta itu pun tenang kembali.

Kemudian Rasulullah bertanya ke orang-orang yang ada di sekitar, “Siapa pemilik unta ini?” Maka datanglah seorang pemuda dari Anshar, kemudian berkata, “Itu nba jerseys sales milikku wahai Rasulullah.” Setelah mengetahui pemuda itu adalah pemilik unta tersebut, Rasulullah berkata kepada pemuda itu, “Tidakkan engkau takut kepada Allah dalam memelihara ternak yang telah Allah berikan kepadamu itu? Sesungguhnya ia mengeluh kepadaku bahwa engkau melaparkan dan melelahkannya.” (HR. Ahmad)

Di kali lain, ketika Rasulullah tengah duduk-duduk bersama para sahabatnya, datang seorang pemuda. Pemuda tanggung itu memohon kepada Rasulullah agar diizinkan berbuat zina. Para sahabat yang ada di sekitar Rasulullah begitu geram. Tetapi Rasulullah meminta para sahabat untuk tenang. Lantas, apa yang dilakukan Rasulullah? Rasulullah mengajak pemuda itu untuk berpikir, berdialog. Agar ia menyadari tentang perbuatan tersebut. Bahwa tak Peynirli seorang pun sesungguhnya secara fitrah yang rela dengan perbuatan itu.




Rasulullah bertanya kepada pemuda itu, “Bagaimana pendapatmu kalau itu terjadi pada ibumu?”
Pemuda itu menjawab, “Ayah dan ibuku sebagai jaminan, aku tidak akan ridha.”
Lalu Rasulullah bertanya kembali, “Bagaimana pendapatmu kalau itu terjadi pada istrimu?”
Anak muda itu menjawab, “Ayah dan ibuku sebagai jaminan! Aku tidak akan ridha.”

Demikian seterusnya, Rasulullah beliau menanyakan bagaimana Cheap Ray Ban Sunglasses kalau terjadi perzinaan itu pada keluarganya, anak perempuannya, kakak perempuannya, bibinya, ternyata dia tidak ridha. Maka Rasulullah menambahkan, “Kalau begitu orang lain pun tidak ridha perzinaan itu terjadi pada ibu-ibu mereka, istri-istri Ray Ban Sunglasses mereka, anak-anak perempuan mereka, saudara-saudara perempuan mereka, ataupun bibi-bibi mereka.”

Dua fragmen di atas, bercerita banyak tentang bermacam orang yang dihadapi Rasulullah. Bermacam kondisi, bermacam bentuk perilaku, lalu bercerita pula bagaimana Rasulullah menyikapinya.

Adakah pemimpin yang lebih peduli dari Rasulullah, yang tidak saja memberi perhatian pada nfl jerseys china kelaparan rakyatnya, tetapi bahkan kelaparan yang dialami seekor unta. Ini tidak saja kisah tentang kasih sayang Rasulullah. Tetapi ia juga bimbingan, ajaran betapa Rasulullah tidak ingin membiarkan sebuah kedzaliman terjadi di muka bumi ini.

bersambung…

sumber: Majalah Tarbawi Edisi 45 Kolom Dirosat