Di dalam surat Al Baqarah lagi ditegaskan bahwa manusia itu adalah umat yang satu.

“Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu, Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Dan, diturunkan-Nya bersama mereka Kitab yang mengandung kebenaran, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Dan, yang berselisih hanyalah orang-orang yang telah diberi (Kitab), setelah bukti-bukti yang fake oakleys nyata sampai kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka sendiri. Maka dengan kehendak-Nya, Allah memberi petunjuk kepada mereka yang beriman tentang kebenaran yang mereka perselisihkan. Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke Cheap Oakleys jalan yang harus.” (Al Baqarah: 213)

Dalam surah Ar-Ruum: 22 dikatakan bahwa perbedaan bahasa dan kulit tidak lain merupakan tanda-tanda, seperti kejadian langit dan bumi adalah tanda-tanda kebesaran Tuhan yang patut menjadi perhatian manusia seisi alam.




“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (Ar-Ruum: 22)

Maka, datanglah orang seperti Ibnu Khaldun yang setelah menyelidiki tanda-tanda (ayat-ayat) itu, ia berkata bahwa perbedaan warna kulit dan perbedaan bahasa yang dipakai ialah pengaruh dari iklim suatu tempat atau suatu daerah karena terputus hubungan, perbedaan tempat kediaman oakley sunglasses outlet sehingga ada yang jadi hitam dan ada yang jadi putih dan ada yang kuning. Maka, dengan ajaran yang demikian itu, batallah segala teori yang dibuat-buat tentang perbedaan warna kulit dan perbedaan bangsa. Maka, tersebutlah di dalam surah Al-Hujuraat: 13, pengakuan akan adanya syu’ub (bangsa-bangsa) dan qabail (suku-suku bangsa).

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami условиях jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (Al-Hujuraat: 13)

Yang demikian itu diciptakan bukanlah untuk pertentangan dan permusuhan di antara satu dengan yang lain, melainkan supaya kenal mengenal, cari-mencari karena yang satu sangat memerlukan yang lain karena seperti telah ditegaskan di atas–manusia adalah umat yang satu. Oleh karena itu, di ujung ayat tersebut ditegaskan pula siapa yang lebih mulia. Yang lebih mulia ialah barangsiapa yang lebih taqwa kepada Tuhan.

Hubungan dengan Khaliq

Maka, timbullah perpaduan ajaran tentang tauhid, mengakui kesatuan Tuhan tadi dengan ajaran tentang kedudukan manusia di dalam alam. Setelah keduanya ini diketahui dan dipahamkan benar-benar, lalu diberikanlah ajaran yang tegas bahwa hubungan di antara manusia dengan Allah itu adalah langsung, tidak boleh ada perantara. Di dalam surah Al-Mu’min: 60 Allah Ray Ban Outlet berfirman dengan jelas tentang kelangsungan perhubungan itu,

“… berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu…” Cheap nfl Jerseys (Al-Mu’min: 60)

Di dalam surah ke-50, Qaaf, Allah menjelaskan bahwa Dia sangat dekat kepada manusia ini, laksana dekat tali urat lehernya sendiri.

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (Qaaf: 16)

bersambung…

(Salah satu tulisan Buya Hamka pada Majalah Panji Masyarakat dalam rubrik Dari Hari Ke Hati, 1967-1981)