Jiwa manusia itu ibarat pohon. Bila ia Ray Ban Outlet dipelihara, disirami, dan dipupuk dengan benar, maka ia akan tumbuh secara sehat dan memberi manfaat yang Fake Oakleys besar. Tetapi bila Cheap Jerseys ia tidak diurus dengan baik, dibiarkan terserang hama, terbakar terik matahari, maka ia bisa mati mengenaskan. Tetapi di kali lain, ia juga harus dipotong, dipangkas daun-daunnya yang kering. Bahkan diikat atau diarahkan ke tempat yang benar.

Dalam tataran sosial, seluruh proses menyiram atau memangkas itu hanyalah ungkapan lain dari cheap nfl jerseys menyeru kepada yang baik dan mencegah dari yang mungkar. Maka, memberi perhatian kepada pencegahan atas terjadinya sesuatu yang buruk, yang mungkar, sama pentingnya dengan mengajak kepada kebaikan atau menyerukan kebajikan.

Seperti juga seseorang yang ingin membangun rumah. Tidak saja ia harus menata tumpukan bata. Tapi ia juga harus menebang pepohonan yang mengganggu di lahan calon rumah itu. Menyiangi rerumputan, mengangkut bebatuan. Bahkan kemudian menggali tanah tersebut. Begitulah kehidupan sehari-hari kita. Kebaikan yang ingin kita bangun, di sektor apapun, harus pada saat yang sama diimbangi dengan upaya menjauhkan gangguan-gangguan dan penyakit yang bisa menghalangi perjalanan kehidupan sehari-hari.




Bila kita ingin membangun rumah tangga yang baik, misalnya, maka sama pentingnya antara memupuk rasa sayang dengan meminimalisir rasa benci yang tidak berdasar. Sama harusnya, antara membangun kepercayaan dengan menjauhkan buruk sangka.

Dalam sebuah organisasi, OUTFITS perkumpulan, atau komunitas apapun, menjalankan kedisiplinan, sama pentingnya dengan menjauhkan segala bentuk diskriminasi atau dilanggarnya hak-hak sesama. Dalam sebuah perusahaan, menajalankan usaha Fake Ray Bans yang sehat, menguntungkan, sama pentingnya dengan menjauhi segala bentuk penipuan, atau kerja-kerja yang tidak beraturan.

Begitulah, membangun, pada saat yang sama adalah juga meruntuhkan di sisi lain: membangun yang baik dan meruntuhkan yang buruk. Menyuruh, pada saat yang sama adalah juga harus mencegah.

Itu sebabnya, aturan, dan hukum-hukum dalam hidup ini ada yang berfungsi sebagai teras depan. Indah, menyenangkan. Tetapi juga ada yang berfungsi sebagai teras belakang. Untuk emergency, untuk kedaruratan. Bahkan untuk reparasi. Dan reparasi, secara umum tidak enak di lahirnya.

Dalam Islam, banyak dijelaskan alasan mengapa kita harus peduli pada upaya mencegah kemungkaran. Berikut, barangkali, beberapa di antaranya.

1. Agar yang benar tampak benar dan yang salah tampak salah

Hari-hari ini, begitu terasa, betapa berjuang mengenali yang baik, telah begitu luas radius prosesinya. Dahulu, ketika kebaikan bisa dicerna dengan sederhana, di sudut-sudut kehidupan yang sepi, orang hanya perlu sedikit tenaga untuk berperilaku baik dan memilih jalan yang benar.

Tetapi hari ini, menjadi baik atau pun benar, adalah juga perjuangan berat mengurai mana yang baik dan mana yang buruk. Perjuangan sangat melelahkan, untuk mengenali mana yang benar, dan mana yang salah.

Sebab, di mana-mana orang telah menjungkirbalikkan norma. Sesuatu yang baik, menjadi tidak lagi dikenali sebagai kebaikan. Sesuatu yang benar, tidak lagi dianggap sebagai kebenaran. Sebaliknya, sesuatu yang buruk, salah, dan rusak, justru dianggap sebagai norma positif dan kebenaran yang harus dilakukan.

bersambung…

sumber: Majalah Tarbawi edisi 45 Kolom Dirosat