Dalam Pencegahan Ada Kehidupan (bag. 2)




Perang istilah telah melanda cheap nba jerseys setiap negeri muslim, menerobos masuk ke rumah-rumah kaum muslimin. Tidak semua orang sadar, bahwa menjalani kehidupan sebagai seorang muslim secara maksimal, adalah tuntutan yang biasa. Tetapi dunia mengubahnya dengan sebutan fundamentalisme atau terorisme. Berlaku jujur, tidak menyuap, adalah hal yang semestinya dijalani para pekerja, pejabat, dan siapa saja. Tetapi dunia mengubahnya menjadi istilah untuk rasa sok bersih yang munafik. Menjaga kehormatan diri, kebersihan diri, dari segala rayuan syaitan adalah keharusan biasa sebagai seorang muslim. Tetapi dunia mengubahnya menjadi istilah untuk ketertinggalan dan keterbelakangan.

[baca sebelumnya: Dalam Pencegahan Ada Kehidupan (bag. 1)]

Maka, harus ada orang-orang yang berbicara lantang, yang mencegah segala kemungkaran tersebut. Agar yang benar dan baik, mampu muncul sebagai sebuah kebenaran dan kebaikan. Dan, agar yang buruk, juga tampak sebagai sesuatu yang buruk. Allah Subhanahu wa ta’ala secara khusus mengingatkan, “Katakanlah, tidaklah sama antara yang buruk dengan yang baik, meski banyaknya yang buruk itu menakjubkan hatimu.” (QS. Al Maidah [5]:100)




2. Agar terhindar dari azab kolektif

Hidup ini tidak bisa dijalani sendiri. Ada ketergantungan antar sesama. Maka, mencegah kemungkaran sesungguhnya merupakan pintu pertama untuk menghindari dari kehancuran bersama. Karena kedzaliman itu seperti penyakit menular. Bila tidak dicegah atau dihilangkan sejak dini, ia bisa menular, lalu menggerogoti yang lain hingga berubah menjadi wabah yang mengerikan.

Dahulu, di zaman orang-orang Yahudi, terjadi peristiwa mengerikan. Kejadiannya bermula ketika Allah menguji orang-orang Yahudi di sebuah kampung tepi pantai. Mereka tidak boleh mencari ikan pada hari Sabtu. Tetapi orang-orang Yahudi itu mengakali, dengan meletakkan penangkap ikan pada hari Jumat, lalu mengambilnya pada hari Ahad.

Tindakan itu jelas keliru. Melihat kejadian itu, ada orang-orang peduli dan mengingatkan mereka. Tetapi ada juga yang diam. Kelak, di kemudian hari, orang-orang yang memberi peringatan itu diselamatkan Allah. Sementara yang diam, meski mereka tidak turut melakukan kesalahan, diancam Allah dengan azab yang pedih. Sementara yang menipu dengan cheap jordan shoes memasang perangkap ikan, diubah Allah menjadi monyet. Begitulah, kisah tersebut diabadikan di dalam Al Qur’an, surat Al A’raf ayat 163 sampai selesai.

Itulah yang juga diingatkan Allah dalam firman-Nya, “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang dzalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras Wholesale NFL Jerseys siksaan-Nya.” (QS Al Anfal [8]:25)

Di zaman ketiak dunia menjadi begitu sempit, hidup berubah menjadi lautan limbah. Yang buruk dan yang baik tumpah ruah dari segala ujung dunia. Globalisasi menjadi aliran termudah bagi segala nilai. Maka, mencegah arus kerusakan itu, adalah juga berarti membentengi campeonato diri dan orang-orang sekitar kita dari bencana yang mengerikan.

3. Untuk menjaga kesinambungan generasi

Berjuang mencegah atau melawan kemungkaran, sangat erat kaitannya dengan kesinambungan sebuah generasi. Secara normatif maupun secara fisik, apa yang kita alami hari ini, baik atau buruknya, tak bila dilepaskan dari andil para pendahulu kita.

Dari sudut baiknya, apa yang diperjuangkan para salafusshalih dengan mengajarkan Islam, menulis buku-buku, Fake Oakleys telah menyisakan lentera cheap nfl jerseys iman dan Islam pada generasi hari ini. Begitupun, apa yang mereka cegah dari kemungkaran, menyisakan untuk kita banyak sekali manfaat di hari ini.

bersambung…

sumber: Majalah Tarbawi edisi 45 Kolom Dirosat

Leave a Reply