Urgensi Jihad Melawan Hawa Nafsu

Manusia harus meninggikan dan menyucikan nafsunya, serta tidak membiarkannya hingga menjadi kotor. Nafsu atau jiwa manusia disiapkan untuk bisa berbuat dosa dan bertaqwa. Nafsu akan naik nfl jerseys cheap menuju ketaqwaan dengan melakukan riyadhah (latihan), mujahadah (upaya kesungguhan), dan tazkiyah (penyucian), sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah Swt, “Dan (demi) jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Al-Syams [91]: 7-10)

Kata tazkiyah berasal dari kata zaka yang menurut bahasa berarti suci dan tumbuh. Kata tazkiyah ini mengandung dua unsur: kesucian dan pertumbuhan. Jadi, tazkiyah al-nafs artinya menyucikan nafsu dari akidah-akidah syirik, kemunafikan yang hina, dan sifat-sifat buruk, serta menumbuhkan jiwa dengan akidah-akidah tauhid, keutamaan orang-orang mukmin, dan kebiasaan yang baik. Inilah yang digambarkan oleh ulama suluk dengan takhliyyah dan tahliyyah. Takhliyyah adalah melepaskan diri dari keyakinan-keyakinan yang batil, ucapan dusta, dan oakley sunglasses sale perbuatan buruk. Sedangkan tahliyyah adalah menghiasi diri dengan keyakinan yang benar, ucapan jujur, dan perbuatan baik.

Semua ini memerlukan mujahadah (upaya kesungguhan). Jika mujahadah tersebut four telah Cheap Jerseys dilaksanakan di jalan Allah dan mengharapkan keridhaan-Nya, tentu akan membuahkan hasil sesuai dengan sunnatullah, yaitu mendapatkan hidayah rabbaniyah. Firman Allah Swt, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al Ankabut [29]: 69)




Nafsu Amarah Lebih Banyak Melahirkan throwback jerseys Amal Jelek

Al Qur’an menerangkan bahwa nafsu manusia kadang mendorongnya untuk melakukan pelanggaran hingga berakhir dengan dosa besar, salah satunya yaitu membunuh jiwa tanpa alasan yang dibenarkan. Bahkan, perbuatan kriminal pembunuhan pertama dalam sejarah manusia terjadi karena bujukan nafsu manusia yang menyuruh pada kejahatan.

Itulah nafsu putra pertama Adam a.s. yang membunuh saudaranya yang tampan tanpa dosa apa-apa. Saudaranya itu berkata kepadanya, “Sungguh, kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam.” (QS. Al Maidah [5]: 28)

Nasihat yang baik itu tidak dapat mencegah putra pertama Adam ray ban sunglasses sale a.s. bahkan terus memaksa untuk berbuat jahat, “Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi.” (QS Al Maidah [5]: 30)

Pada saat itu belum ada masyarakat, sehingga para sosiolog dewasa ini tak bisa mengatakannya sebagai korban masyarakat. Sesungguhnya Qabil adalah korban hawa nafsunya sendiri yang menyuruhnya berbuat jahat, hawa nafsunya yang menjadikan Qabil menganggap mudah membunuh saudaranya. Inilah awal kasus pembunuhan yang ditiru oleh orang-orang setelahnya. Karena itu, diterangkan dalam sebuah hadits shahih, “Tidak satu pun jiwa yang dibunuh secara dzalim melainkan anak Adam yang pertama turut bertanggung jawab atas darahnya.” (HR Bukhari)

bersambung..

(Sumber: Kita Fiqih Jihad oleh Ustadz Yusuf Qardhawi)