Di Bawah Naungan Al Qur’an – Al Kautsar (Bag 2)




Ia akan menjumpai nikmat itu pada kenabian. Pada kontak dengan Yang Mahabenar lagi Mahabesar ini, dan dengan wujud yang Mahabesar. Wujud yang pada hakikatnya tidak ada wujud selain-Nya dan tidak ada sesuatu pun selain-Nya. Apakah kiranya yang hilang dari orang yang telah bertemu dengan Allah?

Nikmat itu akan ia jumpai pula pada Al-Quran yang telah diturunkan kepada Rasulullah ini. Satu surat dari Al Quran saja sudah mengandung nikmat yang sangat banyak, tidak memiliki batas akhir, dan merupakan sumber limpahan dan curahannya tak Baratas Ray Ban terbatas.

Ia akan menjumpai nikmat ha itu pada sunnahnya yang membentang sepanjang zaman di seluruh penjuru bumi, di antara jutaan manusia Ray Ban sale yang mengikutinya, di antara jutaan lidah yang menyebut namanya, serta jutaan hati yang mencintai kisahnya dan mengenangnya hingga kiamat.




Ia akan menjumpai nikmat itu pada kebaikan yang banyak dan melimpah ruah pada ummat manusia di sepanjang generasi. Kebaikan ini dapat dinikmati ummat manusia dengan sebab beliau dan dengan perantaraan beliau. Baik orang yang mengetahui kebaikan ini lalu beriman kepadanya, maupun orang yang tidak mengetahuinya, tapi kebaikan itu tercurah kepada mereka juga.

Ia pun akan menjumpainya pada berbagai manifestasi. Upaya untuk menghitungnya justru merupakan bentuk anggapan bahwa nikmat-nikmat itu sedikit dan kecil.

Nikmat-nikmat tersebut sesungguhnya sangat banyak, melimpah ruah tak terbatas, tidak terhitung mereka yang mengetahuinya, serta tidak ada batas manifestasinya. Oleh karena itu, nash discount oakley ini membiarkannya tanpa batas, meliputi segala kebaikan yang banyak dan terus bertambah.

Terdapat beberapa riwayat dari banyak jalan yang mengatakan bahwa Al-Kautsar adalah sungai di surga yang diberikan kepada Rasulullah Saw. Namun, Ibnu Abbas menjawab bahwa sungai ini termasuk dalam Cheap Jerseys sekian banyak kebaikan yang diberikan kepada Rasulullah Saw. Maka, ia adalah kenikmatan yang sangat banyak (kautsar) di antara kenikmatan-kenikmatan yang banyak (kautsar). Hal ini lebih tepat dalam konteks dan kondisi tersebut.

“Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkorbanlah.” (2)

Setelah menegaskan pemberian nikmat yang banyak dan melimpah ruah ini, yang jauh berbeda dari pandangan para penipu dan pemakar, ayat ini mengarahkan Rasulullah Saw agar mensyukuri nikmat dengan memenuhi haknya yang pertama. Yaitu hak keikhlasan dan tajarrud (totalitas) kepada Allah cheap jerseys wholesale dalam beribadah dan berorientasi, dalam shalat dan dalam menyembelih korban, semata-mata karena Allah: “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah.” (2) tanpa menghiraukan kemusyrikan orang-orang musyrik, dan tanpa mengikuti peribadatan mereka atau penyebutan nama selain Allah dalam sembelihan-sembelihan mereka.

Pengulangan isyarat untuk menyebut nama Allah saja pada saat menyembelih, pengharaman binatang yang disembelih untuk selain Allah, dan binatang yang disembelih tanpa menyebut nama Allah, menunjukkan betapa besar perhatian agama ini dalam membersihkan kehidupan dari segala bentuk kemusyrikan dan berbagai dampaknya. Bukan hanya membersihkan dari pandangan dan hati nurani saja. Karena Islam adalah agama kesatuan, dengan seluruh pengertian dan bayangan yang melekat padanya, sebagaimana ia adalah agama tauhid yang murni, tulus, dan jelas.

bersambung…

(Sumber: Tafsir Fi-Zhilalil Qur’an karya Ustadz Sayyid Quthb)

Leave a Reply