Hadits ini mengisyaratkan bahwa siapa saja yang membuat sunnah sayyi’ah, ia akan mendapat Fake Ray Bans dosa seperti orang yang menirunya hingga hari kiamat.

Al Qur’an pun menceritakan perkataan Nabi Ya’qub kepada anak-anaknya yang telah melemparkan saudara mereka. Nabi Yusuf a.s., ke dalam sumur. Lalu mereka datang kepada ayah mereka pada sore hari sambil menangis, dan mengaku bahwa Nabi Yusuf a.s. telah dimakan serigala. “Mereka datang membawa baju gamis Nabi Yusuf a.s. yang berlumuran darah palsu. Ya’qub berkata, ‘Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang wholesale football jerseys china baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.’” (QS. Yusuf [12]: 18)

Ketika Yusuf membuat tipuan untuk menahan salah seorang saudaranya, lalu Yusuf kembali kepada ayahnya, Ya’qub, tanpa membawa saudaranya tersebut, Ya’qub berkata, “Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (QS. Yusuf [12]: 83)




Perbuatan jahat mereka telah menyuruh mereka untuk melakukan kejahatan yang lain, meski pada kali ini mereka menjadi orang-orang yang terdzalimi. Akan tetapi, Nabi Ya’qub a.s. tidak mengetahui hal ghaib fake ray bans kecuali telah diberi tahu oleh Allah Swt.

Al Qur’an pun menjelaskan kepada kita kisah Samiri yang menyesatkan Bani Israil ketika membuat patung anak sapi dari emas. Samiri berkata, “Inilah tuhan Cheap Jerseys From China kalian, tuhan Musa.” Kaum tersebut memercayainya dan menyembah patung tersebut, sedangkah patung tersebut, “Tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka.” (QS Al A’raf [7]: 148). Ketika Musa a.s. datang dan melihat semuanya, ia berkata, “‘Apakah yang mendorongmu (berbuat demikian), hai Samiri?’ Samiri menjawab, ‘Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku из ambil segenggam dari jejak rasul, lalu aku melemparkannya, dan demikianlah nafsuku membujukku.’” (QS. Tha Ha [20]: 95-96). Jadi, nafsunya itulah yang telah membujuk Samiri melakukan kekufuran, menyesatkan umat yang bertauhid, dan membuat mereka menyembah berhala.

Demikianlah nafsu manusia, jika tidak dikendalikan dengan riyadhah, tarbiyah, muraqabah, dan muhasabah, kelak ia akan cenderung kepada dunia dan menuruti hawa nafsunya, melakukan dosa besar dan kejahatan, yang tampak maupun tersembunyi.

Kadang ada ulama yang terperosok ke dalam tingkat yang paling rendah ini, jika menuruti hawa nafsunya, sehingga ilmu dan hujjahnya tidak akan bermanfaat. Sebagaimana dikisahkan di dalam Al Qur’an tentang orang-orang yang diberi ayat-ayat, tetapi mereka malah melepaskan diri darinya dan mengikuti setan, “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)-nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan cheap nfl jerseys menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing; jika kamu menghalaunya, dijulurkannya lidahnya, dan jika kamu membiarkannya, dia menjulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (QS Al A’raf [7]: 175-176)

bersambung…

(Sumber: Kita Fiqih Jihad oleh Ustadz Yusuf Qardhawi)