Tragedi Raji’ dan Bi’r Ma’unah (Bag 1)




Peristiwa Raji’ (3 Hijriah)

Suatu ketika, utusan dari Suku Udhdhal dan Qarah datang menemui Rasulullah Saw. Mereka mengabarkan bahwa berita tentang Islam Cheap Ray Bans telah menyebar luas. Oleh karena itu, mereka membutuhkan guru yang dapat mengajari mereka tentang Islam. Mendengar tentang itu, Rasulullah Saw memenuhi permohonan mereka dengan mengutus beberapa sahabat. Mereka adalah Martsad bin Abi Martsad, Khalid bin Al-Bakir, ‘Ashim bin Tsabit, Khubaib bin ‘Adi, Ziad bin Datsnah, dan Abdullah bin Thariq. ‘Ashim bin Tsabit yang wholesale jerseys china ditunjuk oleh Rasulullah Saw sebagai pemimpin delegasi.

Al-Bukhari berdasarkan penuturan Abu Hurairah, mengisahkan peristiwa ini.

Para utusan itu pun berangkat. Setibanya di satu daerah cheap nfl jerseys wholesale antara Asfan dan Makkah, distrik milik Suku Hudzail atau lebih dikenal dengan Bani Lihyan, ternyata hampir seratus pemanah dari Bani Lihyan membuntuti mereka dari belakang. Orang-orang Bani Lihyan itu mengikuti jejak rombongan ‘Ashim hingga mereka tiba di sebuah rumah 7.000 yang pernah disinggahi rombongan ‘Ashim. Di rumah itu, mereka menemukan biji-bijian kurma yang dibekal rombongan ‘Ashim dari Madinah. “Ini kurma Yatsrib,” kata mereka. Mereka terus menelusuri jejak-jejak rombongan ‘Ashim hingga berhasil menemukannya. Saat itu, ‘Ashim dan teman-temannya berlindung di bukit yang cukup tinggi. Namun, orang-orang Bani Lihyan langsung mengepung dan berseru. “Kalian berhak mendapatkan perjanjian dan kesepakatan dari kami. Jika kalian mau turun, aku berjanji takkan membunuh seorang pun dari kalian.” ‘Ashim menyahut, “Aku tidak mau berada di bawah jaminan perlindungan orang kafir. Ya Allah, beri tahukanlah keadaan kami kepada Nabi-Mu.” Perang pun tak terhindarkan. ‘Ashim syahid dengan tujuh anak panah menancap di tubuhnya. Yang tersisia tinggal tiga sahabat, yaitu Khubaib, Zaid, dan seorang lain.




Tiga sahabat yang tersisa, akhirnya bersedia turun dari bukit karena dijanjikan akan diberi perlindungan, tetapi mereka langsung ditangkap dan diikat. Salah satu dari sahabat berkata, “Ini awal penghianatan.” Orang-orang Bani Lihyan memaksa dan menyeret sahabat itu agar mau mengikuti mereka, tetapi dia menolak. Akhirnya, dia dibunuh oleh orang-orang Bani Lihyan.

Sehingga yang tersisa hanya Cheap Oakleys Sunglasses Khubaib dan Zaid yang dibawa pergi orang-orang Bani Lihyan lalu dijual (sebagai budak) di Makkah. Bani Harits membeli Khubaib, karena pada Perang Badar dia membunuh Al-Harits. Dia tinggal bersama mereka sebagai tawanan dan baru akan dibunuh jika mereka sudah sepakat untuk melakukannya.

Suatu hari, ketika Khubaib masih menjadi tawanan Bani Harits, dia meminjam sebilah pisau cukur kepada salah seorang putri Al-Harits. Dia akan menggunakannya untuk bercukur. Lalu, putri Al-Harits menceritakan, “Saat itu, aku tidak memperhatikan anakku yang sedang merangkak ke arah Khubaib, dan Khubaib langsung mendudukannya di atas pahanya. Melihat kejadian itu, aku kaget dan cemas, dan Khubaib yang sedang memegang pisau cukur tahu aku merasa cemas melihat kejadian itu. Dia berkata, ‘Apa kamu takut aku akan membunuhnya? Insya Allah, aku tak akan melakukannya.”

bersambung…

(Sumber: The Great Episodes of Muhammad Baratas Ray Ban karya Dr More Info. Al Buthy)

Leave a Reply