Mujahid adalah Orang yang Berjihad Melawan Hawa Nafsunya dalam Ketaatan Ray Ban Outlet Kepada Allah

Tidak diragukan lagi, Islam mensyariatkan kepada kita untuk berjihad melawan dan melatih hawa nafsu agar kita bertaqwa kepada Allah dan berbuat baik kepada orang lain.

Sebagaimana dalam hadits riwayat Ahmad, dari Fadhalah ibn ‘Ubaid, bahwa pada Haji Wada’, Rasulullah Saw bersabda, “Apakah aku belum mengabarkan kepada kalian tentang mukmin? Dia adalah orang yang menyebabkan orang lain merasa aman, baik harta maupun jiwanya. Muslim adalah orang yang membuat orang lain selamat dari lidah dan tangannya. Mujahid adalah orang yang berjihad terhadap dirinya dalam  menaati Allah. Dan muhajir ialah orang yang meninggalkan kesalahan dan dosa.”

Di dalam hadits ini, beliau mendefinisikan konsep-konsep tersebut, selain definisi yang sudah dikenal sebelumnya, untuk mengingatkan arti yang dilupakan dan tidak dihiraukan oleh orang-orang, padahal kepentingan dan nilai sangat berarti pada agama Allah. Karakteristik terpenting dari iman adalah menjadi sumber keamanan bagi orang lain. Yakni, ketika seseorang bisa memberikan keamanan terhadap harta dan diri orang lain. Karakteristik terpenting dari Islam adalah menjadi sumber perdamaian bagi setiap Muslim dan sekitarnya, sehingga orang lain selamat dari lidah dan tangannya. Seorang Muslim pun tidak boleh menyiksa orang lain dengan salah satu dari kedua anggota cheap football jerseys tubuh tersebut.




Adapun karakteristik terpenting ray ban outlet dari jihad adalah seseorang berjihad melawan hawa NFL Jerseys Cheap nafsunya, dan tidak merasa cukup hanya dengan melawan musuhnya dari kelompok non-Muslim, tetapi dengan melalaikan nafsu yang selalu membujuknya dengan berbagai kenikmatan sesaat. Dan karakteristik terpenting dari hijrah adalah berhijrah dari perbuatan jelek dan dosa, bukan hanya berhijrah meninggalkan negeri.

Adapun hadits lain yang diriwayatkan oleh Al-Tirmidzi dari Fadhalah, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, ‘Mujahid adalah orang yang berjihad melawan hawa nafsunya.’” Al-Tirmidzi berpendapat bahwa hadits ini hasan shahih.

Hadits yang serupa diriwayatkan oleh Ibn Hibban dalam shahih-nya dengan lafaz, “Mujahid adalah orang yang berjihad melawan nafsunya di jalan Allah.” Tambahan ini sangat penting, karena setiap jihad tidak akan diperhitungkan dan tidak mendapat pahala di sisi Allah kecuali hanya dilakukan di jalan Allah. Hal ini sebagaimana diungkapkan dalam firman-Nya, “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad NFL Jerseys Cheap yang sebenar-benarnya.” (QS. Al-Hajj [22]: 78)

Fi sabilillah  (di jalan Allah) bermakna mengharap keridhaan-Nya dan meminta ganjaran-Nya. Karena itu, tidak termasuk jihad orang yang merelakan dirinya untuk menjadi kaum fakir di India, memiliki pandangan Stoicisme, para pendeta dari kalangan Kristen, atau untuk menjelaskan kepada orang-orang tentang kesabaran dan tingkat penguasaan dirinya, selama jihadnya tidak ditujukan untuk Allah semata. Firman Allah Swt, “Katakanlah: Sesungguhnya 01 shalat, ibadah, hidup, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya.” (QS. Al An’am [6]: 162-163)

bersambung…

(Sumber: Kita Fiqih Jihad oleh Ustadz Yusuf Qardhawi)