Sudahkah Kita Memaknai Hakikat Kematian? (bag. 1)




Bayang-bayang adanya kerugian, kehancuran, kesakitan, dan bahaya yang mengiringinya membuat kematian menjadi sesuatu yang begitu menakutkan bagi banyak orang. Segala hal yang berhubungan dengannya sebisa mungkin dihindari, baik percakapan, diskusi maupun pengkajian tentang kematian tersebut.   

Reaksi setiap orang terhadap pembicaraan tentang kematian memang berbeda-beda. Namun tak sedikit orang yang akan bereaksi negatif ketika ada seseorang yang mencoba mengingatkan tentang kematian atau sekedar berbicara tentang kematian. Reaksi berupa ekspresi kaget, takut, cemas, cemooh, bahkan marah adalah beberapa reaksi yang biasanya di perlihatkan seseorang.

Tidaklah berlebihan jika dikatakan, pandangan nfl jerseys cheap tentang kematian yang seperti itu, merupakan kondisi umum. Ya, kondisi umum yang terjadi di tengah masyarakat kita. Padahal, kenyataannya kematian cheap nfl jerseys itu merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari oleh seluruh makhluk hidup, termasuk kita, manusia.




Kematian itu sendiri adalah termasuk dalam bagian mata rantai yang tak bisa terpisahkan dari kehidupan itu sendiri. Kehidupan dan kematian berada dalam satu siklus yang menyertai kehidupan semua makhluk. Bukankah sesuatu itu ada karena kehadiran lawannya? Pria ada karena ada wanita. Sehat ada karena ada sakit. Orangtua ada karena ada anak. Suami ada karena ada istri. Maka, kehidupan ada karena kematian.

Keengganan untuk membicarakan kematian mungkin terkait dengan munculnya persepsi yang menakutkan tentang situasi setelah mati. Persepsi itu muncul tidak terlepas dari penggambaran kematian yang negatif, menyeramkan, menyedihkan, dan mengkhawatirkan. Perwujudannya bisa dilihat dalam bentuk tempat pemakaman umum yang cenderung menyeramkan walau ada juga tempat pemakaman umum yang ditata dengan rapi dan ray ban sunglasses sale jauh dari kesan menyeramkan. Ditambah, cerita-cerita horor tentang arwah gentayangan jika mati tidak secara wajar. Hal itu semakin memperkuat rasa takut seseorang akan kematian.

Rasa takut akan kematian juga tidak lepas dari rasa gelisah yang muncul sebagai reaksi kekhawatiran akan tertimpa sesuatu yang menghancurkan, membahayakan, bahkan menyakitkan. Demikian pula, dengan kematian. Bayang-bayang Pufferbar! adanya kerugian, kehancuran, kesakitan, dan bahaya yang mengiringinya membuat kematian menjadi sesuatu yang menakutkan.

Ternyata, ketakutan terhadap kematian ini juga berkaitan dengan bagaimana seseorang memaknai kematian. Jika pemaknaan terhadap kematian ini mempunyai konsekuensi negatif bagi individu, maka sangat mungkin dapat mengakibatkan munculnya berbagai macam bentuk ketakutan terhadap kematian.

Pemaknaan terhadap kematian nfl jerseys cheap akan mempengaruhi bagaimana seseorang memaknai hidupnya dan pada akhirnya berpengaruh terhadap cheap oakleys bagaimana menjalani hidup di dunia. Menurut Komaruddin Hidayat (2005), sedikitnya ada dua mazhab dalam masalah kematian ini. Yaitu :

Pertama, sebut saja mazhab religius, yaitu mereka yang menjadikan agama sebagai rujukan bahwa keabadian setelah mati itu ada dan untuk memperoleh kebahagiaan abadi tersebut, seseorang yang religius menjadikan kehidupan akhirat sebagai objek dan target paling tinggi dalam hidupnya.

Kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir dari kehidupan. Apapun yang dilakukan di dunia dimaksudkan sebagai tabungan kejayaan di akhirat. Bagi mereka yang beriman, keabadian hidup akan selalu dikaitkan dengan janji Allah akan balasan di akhirat, sehingga mendorong untuk selalu berbuat baik dan menjalani hidup dengan optimis serta positif.

bersambung…

sumber: buku ‘Panduan Praktis Agar Selamat Di Alam Kubur’ karya Ustadz Manshur El-Mubarok

 

Leave a Reply