Sudahkah Kita Memaknai Hakikat Kematian? (bag. 2)




 

Kedua, adalah mazhab sekuler yang tidak peduli dan yakin adanya kehidupan setelah mati. Mereka tidak memperdulikan kehidupan akhirat dan senantiasa menjadikan hidup ini sebagai sarana agar mereka bisa abadi dan dikenang sepanjang masa. Mereka berusaha meninggalkan nama baik agar dikenang sejarah. Banyak para dermawan membangun berbagai sarana pendidikan atau ibadah agar namanya tetap hidup. Sebaliknya, ada juga di antara mereka yang kemudian menjadi pemuja hedonisme. Mereka beranggapan selagi mereka masih hidup di dunia, maka nikmatilah sepuas-puasnya tanpa peduli dengan adanya hari pengadilan di akhirat kelak.

[baca sebelumnya: Sudahkah Kita Memaknai Hakikat Kematian? (bag. 1)]




Kesadaran akan kematian biasanya muncul secara tidak sengaja dan dalam situasi tertentu. Kita biasanya akan ingat mati manakala ada di antara keluarga, saudara, teman atau tetangga kita yang meninggal; saat secara tidak sengaja melihar iring-iringan jenazah; mungkin saat melintasi tempat atau prosesi pemakaman; atau saat kita menjenguk seseorang yang sakit parah. Tetapi seberapa lama kita dapat mempertahankan kesadaran akan kematian tersebut? Biasanya segera setelah kita menyaksikan itu semua, sesegera itu pula kita kembali lupa akan kematian tersebut.

Setiap tarikan napas kita pada hakikatnya adalah semakin mendekatkan pada kubur kita. Perjalanan kehidupan yang kita lewati tanpa memberi makna, justru akan menyebabkan munculnya ketakutan yang besar pada kematian. Bagaimana seseorang memaknai suatu kematian, akan sangat ditentukan oleh bagaimana mereka memaknai hidupnya.

Perhatikanlah sekeliling kita. Ketika kita mulai memerhatikan tiap perjalanan hidup kita, niscaya kita akan tercengang dibuatnya. Dimana hampir setiap hari mungkin, kita akan bertemu dengan simbol-simbol yang berhubungan dengan kematian. Entah itu bendera kuning atau bendera putih, keranda, kuburan atau kabar kematian. Terlebih lagi jika diantara kita ada yang tinggal di dekat area tempat pemakamam umum.

Kabar kematian terkadang seperti tak pernah bosan menghampiri kita. Baik berita kematian Cheap Jordan Sale dari keluarga, tetangga nfl jerseys cheap ruman, teman, keluarga teman atau bahkan berita kematian dari para public figure.  Jika saja kita mau sedikit merenung, sesungguhnya berita atau kabar kematian itu adalah laksana alarm 2 bagi kita agar senantiasa terjaga kesadaran kita bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah sementara. Dan juga sebuah peringatan, bahwa tidak ada di antara kita yang sudah mengetahui jadwal kematiannya masing-masing.

Marilah kembali kita ingat bersama, apa yang Allah subhanahu wa ta’ala sampaikan dalam Al Qur’an.

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun oakley sunglasses cheap yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Luqman cheap nfl jerseys [31]:34)

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan. cheap jordans online (QS Al Ankabuut [29]:57)

Firman ini jelas menunjukkan kepada kita bahwa semua makhluk hidup, baik hewan, tumbuhan maupun manusia akan mati. Kematian yang merupakan sebuah keniscayaan justru seringkali hanya menjadi suatu yang dipikirkan dengan sambil lalu, atau bahkan tidak pernah terpikirkan sama sekali.

Jangan sampai kita berpikiran here and now (disini dan saat ini)Sehingga kita berpikiran untuk melakukan hal yang bisa di lakukan saat ini, dilakukan dengan sebebas-bebasnya. Sehingga kita cenderung melupakan kematian atau bahkan tidak memikirkannya sama sekali. Naudzubillah.

 Ingatlah, bukankah kematian itu masa depan kita semua  

bersambung…

sumber: buku ‘Panduan Praktis Agar Selamat Di Alam Kubur’ karya Ustadz Manshur El-Mubarok

Leave a Reply