Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya. (QS. Al Qiyamah [75]:14)

Para penganut Al Qur’an tak ragu sedikitpun akan kesempurnaannya. Ia cahaya terang dan jalan lurus yang mengantar kepada keselamatan dunia dan kebahagiaan akhirat. Ia bashirah yang begitu jernih, tajam, dan akurat mewartakan keadaan yang sesungguhnya, kemenangan yang terbentang dan bahaya yang mengancam, dengan segala syarat, sebab dan penawarnya. Ia memuat sejarah lampau, gambaran depan, dan keadaan sekarang.

Namun apa yang didapat orang yang menutup rapat-rapat matanya sendiri, dari cahaya terang di sekitarnya? Terik mentari ditingkahi ribuan lampu sorot, tak menyelamatkannya dari terjerembab ke pelimbahan. Sebaliknya, lihatlah tuna netra yang Cheap Jerseys From China berjalan di gelap malam, dapat selamat dan beroleh rezeki mereka.




Allah Maha Adil, yang mengangkat  sebagian orang dengan kekurangan fisiknya dan menjatuhkan lainnya walaupun berjasad sempurna. Tak ada makna kajian tema apa pun dalam kitab suci, sementara hati pengajinya berjelaga. Ada tikus mati dalam kandang, ada orang kehilangan tongkat dua kali atau terpagut ular dua kali di liang yang sama. Atau singa-singa mati lapar di padang dan daging pelanduk dilahap serigala. Ada budak tidur di tilam sutera, ada bangsawan berbaring di hamparan tanah.

Bila Nurani Bergetar

Berbahagialah pejuang yang tak mengkorupsi kemenangan masa depannya, walaupun hanya dengan sekedar rintih sesal didera lelah. Atau menumpang popularitas dengan nikmat tanpa rasa malu kepada-Nya. Mereka yang berhati nurani tak lagi melampirkan kesedihan, kesusahan, dan kelelahan ke dalam neraca laba-rugi. Hati nurani mereka selalu hidup dan berbinar. Begitulah kiranya ketika Alkhalil Ibrahim ‘alaihissalam meminta agar nabi yang dibangkitkan kelak dari keturunan Ismail ‘alaihissalam bertugas, “… membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka…” (QS. Al Baqarah [2]:129).

Allah ray ban sale pun mengijabah doanya. Namun ia menginginkan langkah kedua sesudah membacakan ayat-ayat-Nya dan sebelum mengajarkan Kitab dan Hikmah, satu kata kunci bagi keberhasilan dakwah ini, yaitu ‘menyucikan mereka’.

Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. (QS Al Baqarah [2]:151)

Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab Fake Oakleys dan Al Hikmah.  (QS Ali Imran [3]:164)

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan Cheap Ray Ban Sunglasses ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS Al Jumu’ah [62]:2)

Nurani yang hidup mampu menjembatani perbedaan dan meredam perpecahan. “Ulama akhirat tak saling berbenturan, karena akhirat sangatlah luas. Ulama dunia selalu bertikai dan bermusuhan karena dunia terlalu sempit untuk mereka perebutkan.” (Imam Ghazali)

Allah menyebutkan perumpamaan ulama buruk (suu’) yang berhati nurani mati, seperti Bal’am sebagai anjing, yang bila dihalau menjulur dan bila didiamkan tetap menjulur (QS. Al A’raf [7]:176). Anjing akan lari Köfte mengejar tulang dengan sedikit daging segar. Dan tak akan tertegun memandangi perhiasan di tangan nfl jerseys cheap pelempar seharga 1 milyar. Dan ketika melewati telaga, sang anjing segera menerkam bayangan dirinya, karena mengira ada anjing lain yang menggigit tulang. Ia ingin menguasai semua tulang. Alangkah rakusnya!

     siapa yang telah rasakan dunia
     aku pun telah mengenyamnya
     telah digiring kepadaku pahit getirnya
     aku tak melihatnya selain bangkai yang membusuk
     dikepung anjing-anjing dengan hanya satu semangat: cabik dan tarik

bersambung…

oleh: KH Rahmat Abdullah Rahimahullah

sumber: Majalah Tarbawi Edisi 45 kolom Dirosat