Di Bawah Naungan Al Qur’an – Quraisy (Bag 2)




Allah mengingatkan mereka dengan berbagai karunia ini agar mereka merasa malu karena menyembah selain Allah. Padahal Allah ray ban outlet adalah Tuhan Pemilik Ka’bah yang mereka hidup di sekitarnya dengan aman dan sentausa, serta dapat melakukan perjalanan pulang pergi dengan penuh wibawa dan tanpa gangguan.

Allah berfirman kepada mereka, karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan bepergian pada musim dingin dan musim panas, maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah), yang telah menjamin NFL Jerseys Cheap keamanan mereka dan menjadikan jiwa-jiwa mereka terbiasa melakukan perjalanan. Dan dari perjalanan itu mereka mendapatkan apa yang mereka dapatkan:

“Maka hendaklah mereka menyembah Rabb Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar…” (3-4)




Pada dasarnya–sesuai dengan kondisi geografis–mereka mengalami kelaparan. Lalu Allah memberi makanan kepada mereka wholesale nfl jersyes dan mengenyangkan mereka.

“…dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (4)

Pada dasarnya–sesuai dengan kelemahan diri mereka dan kondisi lingkungan di sekitar–mereka ketakutan. Lalu Allah memberi rasa aman dari ketakutan ini.

Ingatan ini seharusnya mampu membangkitkan rasa malu di dalam jiwa dan rasa segan di dalam hati. Orang-orang Quraisy mengetahui dengan baik bahwa nilai Ka’bah dan pengaruh kehormatannya dalam kehidupan mereka. Pada saat-saat cheap oakleys genting dan sulit, mereka tidak berlindung kecuali kepada Rabb pemilik Ka’bah semata.

Karena itu, Abdul Muthalib tidak menghadapi Abrahah dengan pasukan atau kekuatan, tetapi ia menghadapinya dengan berserah diri kepada Tuhan Ka’bah yang pasti melindungi rumah-Nya. Abdul Muthalib tidak menghadapinya dengan berhala maupun arca. Tidak juga mengatakan padanya, “Sesungguhnya tuhan-tuhan itu akan melindungi rumah mereka.” Namun, ia berkata kepada Abrahah:

“Aku adalah in pemiiki unta sedangkan Ka’bah itu punya Tuhan yang akan melindunginya.

Namun, penyimpangan jahiliyah tidak mengikuti logika, tidak kembali pada kebenaran, dan tidak pula merujuk pada akal sehat.

Dari segi topik dan suasananya, surat ini tampak sebagai kelanjutan dari surat Al-Fiil sebelumnya. Meksipun surat ini berdiri sendiri dan diawali dengan basmallah. Berbagai riwayat menyebutkan bahwa antara turunnya surat Al-Fiil dan turunnya surat Quraisy disela oleh sembilan surat. Namun kedua surat ini di dalam Mush-haf diletakkan secara berurutan, serasai dengan topiknya Fake Ray Bans yang berdekatan.

(Sumber: Tafsir Fi-Zhilalil Qur’an karya Ustadz Sayyid Quthb)

Leave a Reply