Sudahkah Kita Memaknai Hakikat Kematian? (Bag 3)




Tidak hanya kita tak sering sekali memikirkan kematian, atau seakan melupakan sesuatu yang pasti itu dengan sengaja. Tak jarang kita sering sekali berpikir, “Bagaimana nanti”, jarang sekali kita berpikir “Nanti bagaimana”. Ya, Day ketika kita berpikir bagaimana nanti, maka kita akan cenderung mengabaikan masa depan kehidupan yang abadi, termasuk kematian. Kita akan terfokus pada hal-hal yang sifatnya duniawi semata, misal bagaimana mempunyai uang sebanyak-banyaknya, rumah yang besar, jabatan yang tinggi, keluarga yang bahagia, atau lainnya. 

[baca sebelumnya: Sudahkah Kita Memaknai Hakikat Kematian? (bag. 1)]

[baca sebelumnya: Sudahkah Kita Memaknai Hakikat Kematian? (bag. 2)]




Namun ketika cheap nfl jerseys ditanya tentang kematian, bagaimanakah reaksi kita? Adakah kita akan sangat terfokus memikirkan persiapan apa yang telah kita buat untuk menghadapinya, atau kita buru-buru mengalihkan pembicaraan, menutup rapat telinga, marah atau bereaksi negatif lainnya?

Janganlah sampai kita menganggap bahwa kematian adalah milik mereka yang berusia lanjut, sakit-sakitan, dan orang susah. Ingat, sekalipun kita dalam keadaan sehat, bugar, berkecukupan, kita tetap tidak akan bisa lari dari kematian. Sebab, kematian itu bukan kita yang menjemput, melainkan kematianlah yang akan menjemput kita.

Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), nfl jerseys shop yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-Jumu’ah [62] : 8)

Itulah firman Allah yang mengabarkan bahwa sehebat apapun kita, sekuat apapun kekuasaan yang kita miliki, dan sebanyak apapun pengawal yang melindungi kita selama di dunia, kematian tidak akan pilih kasih. Sungguh, kematian akan menjumpai semua yang bernyawa. Tanpa satu pun yang terlewati.

Lain halnya jika kita mencoba berfikir “Nanti bagaimana”. maka kita pasti akan mempersiapkan segala sesuatu untuk masa depan yang bahagia, termasuklah di dalamnya mempersiapkan dan cheap jerseys berbekal dengan amalan-amalan yang dapat menjadi sebab untuk cheap jordans online kita mendapatkan kebahagian saat kematian mendatangi kita ataupun saat menjalani kehidupan di akhirat kelak.

Pemikiran seperti ini selalu mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia tidaklah abadi. Segala kenikmatan dan kebahagiaan yang di alami di dunia hanyalah sementara. Ada satu kehidupan yang lebih abadi, di mana segalanya abadi, baik kenikmatan maupun siksaannya. Kehidupan abadi itulah yang disebut alam akhirat. Dan kubur merupakan pintu menuju alam keabadian itu.

Agar tidak kita lupa, ingatlah bahwa kehidupan dunia ini hanyalah ibarat, “Mampir ngombe” (singgah untuk minum dan istirahat sebentar). Inilah filsafat Jawa yang sarat makna.

Didunia ini kita hanya sekedar singgah untuk mengumpulkan perbekalan dan mempersiapkan diri, biar kita siap untuk meneruskan perjalanan yang wholesale nfl jerseys lebih panjang lagi dan layak menikmati kebahagian dalam perjalanan yang panjang tersebut. Agar perjalanan kita lancar dan tidak banyak hambatan, maka kita harus mempersiapkan bekal sebanyak-banyaknya. Dan, sebaik-baiknya bekal adalah iman dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Dengan pemikiran dan pemahaman seperti ini, maka kematian hanyalah satu peristiwa pindah tempat tinggal dari alam dunia ke alam barzah. Sesungguhnya antara kehidupan dan kematian itu letaknya berdampingan dan hanya dipisahkan oleh satu pintu. Bahkan lebih dari itu, jika kita telah berbekal dengan bekal yang banyak berupa ibadah dan ketakwaaan, maka kematian bagi orang-orang seperti itu, adalah laksana pay day, hari gajian atau hari dimulainya Allah subhanahu wa taála memberikan bayaran atas segala perjuangan kita untuk tetap beribadah dan istiqamah membela kebenaran.

 

sumber: buku ‘Panduan Praktis Agar Selamat Di Alam Kubur’ karya Ustadz Manshur El-Mubarok

Leave a Reply