Dan, Tidurlah dengan Tenang (bag. 2)




Setiap kita perlu rasa aman. Bahkan rasa Elche aman merupakan salah satu kebutuhan penting manusia dalam hidup. Tanpa rasa aman, apalah artinya dunia dan segala gemerlapnya. Karenanya, Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa di antara kalian mendapati paginya dalam keadaan aman, di keluarganya dan di perjalanannya, sehat badannya, memiliki apa yang ia makan hari itu, maka sungguh ia seperti dilingkupi dunia.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

[baca sebelumnya: Dan, Tidurlah dengan Tenang (bag. 1)]

Kunci dari semua kenyamanan terletak pada kenyamanan jiwa. Sedang kenyamanan jiwa bersumber dari rasa aman yang diberikan Allah Swt kepada hamba-Nya. Dengan jelas, Allah Swt mengatakan, “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang taubat kepada-Nya. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. Orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka mendapat kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.” (QS. Ar-Ra’d: 27-29)




Pengaruh iman dan amal shalih terhadap rasa nyaman sangat besar. Ada kontribusi signifikan yang diberikan kenyamanan hati cheap nfl jerseys wholesale terhadap kenyamanan fisik. Apa yang ada di hati akan ‘bersuara’ pada fisik kita.

Bahkan, kadang kala, kadar keimanan dan keshalihan itu tidak saja memberi rasa aman pada pemiliknya. Seringkali keshalihan seseorang berimbas kepada munculnya rasa aman pada orang-orang yang ada di sekitarnya. Seperti sosok Umar bin Abdul Aziz, khalifah kelima yang terkenal keshalihannya itu.

Malik bin Dinar mengisahkan, ketika Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah, para penggembala kambing di puncak gunung berkata, “Siapakah khalifah yang shalih yang sedang memerintah manusia saat ini?” Padahal para penggembala itu tidak tahu menahu tentang peristiwa di kota, termasuk diangkatnya Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Ketika hal itu ditanyakan kepada mereka, para penggembala itu menjelaskan, “Bila pemerintahan dipegang oleh seorang khalifah yang shalih, serigala dan singa tidak mengganggu kambing-kambing kami.”

Riwayat lain yang menguatkan kisah tersebut, adalah apa yang dituturkan oleh Hasan Al-Qasshar, “Aku bekerja sebagai pemerah susu kambing pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Pada suatu ketika, aku melewati para penggembala, sedangkan di tengah-tengah gerombolan kambingnya terdapat sekitar tiga puluh serigala. Karena sebelumnya aku belum pernah melihat serigala, aku mengira serigala itu cheap jerseys adalah anjing. Akupun bertanya kepada para penggembala itu, ‘Wahai penggembala, untuk apakah anjing sebanyak itu?’ Mereka menjawab, ‘Wahai anak muda, ini bukan kawanan anjing, tetapi kawanan serigala.’ Aku berkata heran, ‘Subhanallah, apakah mereka tidak membahayakan kambing-kambing engkau?’ Penggembala itu menjawab, Cheap Oakleys Sunglasses ‘Wahai anak muda, apabila kepala sudah sehat, maka badan tidak rusak.” Maksud dari kepala adalah kepala pemerintahan, yang waktu itu dimpimpin oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Begitulah keshalihan Umar bin Abdul Aziz. Maka, ketika Umar bin Abdul Aziz telah tiada, keadaannya pun berubah. Musa bin Ayyan mengisahkan, “Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, demi Allah, kami menggembalakan kambing bersama serigala di suatu tempat. Hingga pada suatu malam serigala menyerang seekor kambing kami. Dengan adanya peristiwan ini kami memperkirakan bahwa laki-laki shalih yang diangkat menjadi khalifah itu telah wafat. Ternyata, keesokan harinya, memang Cheap Jordans benar, kami mendengar kabar bahwa Khalifah Umar bin Abdul Aziz telah NFL Jerseys Cheap meninggal dunia.

Atas dasar semua itu, mengertilah kita, mengapa orang sekelas Umar bin Khattab bisa dengan ringan tidur di masjid seorang diri. Karena masalah utamanya bukan terletak pada soal tidurnya itu sendiri, tetapi pada sesuatu yang ada di balik tidur tersebut. Sesuatu itu adalah jiwa yang penuh suluh keimanan. Bersinar terang memenuhi relung hati yang lapang. Yang cahayanya melahirkan rasa tentram, rasa damai dan aman, bahkan untuk orang-orang yang ada di sekitarnya. Tetapi itu tak berarti bahwa orang-orang besar seperti Umar bin Khattab atau lainnya lantas banyak mengisi hidupnya dengan tidur. Umar justru jarang tidur karena banyaknya urusan. Tetapi ia bisa tidur di mana saja, tanpa sedikit pun rasa takut, kecuali kepada Allah Swt.

Betapa banyak orang bergelimang kemewahan dan pangkat. Tetapi untuk sekedar memejamkan mata saja tak bisa. Sebaliknya, tidak sedikit orang yang tampilan lahirnya biasa-biasa saja. Namun di dalam jiwanya terdapat samudera ketenangan yang luar biasa. Di dalam jiwanya terletak mata air iman yang segar dan menyegarkan.

Kini segalanya menjadi jelas. Dalam jenak-jenak istirahat tidur yang kita lakukan, sesungguhnya kita sedang bertaruh, apakah kita seorang mukmin yang baik atau tidak. Karena, di sana, di dalam cahaya iman itu, letak rasa aman dan nyenyak tidur kita yang sesungguhnya.

 

sumber: Majalah Tarbawi April 2002, Kolom Dirosat

Leave a Reply