Dan, Tidurlah dengan Tenang (bag. 1)




Di Madinah yang tenang, hari itu. Siang berlalu setengah perjalanan. Serombongan orang yang nampak asing berjalan memasuki kota suci Islam kedua itu. Ternyata itu rombongan Hurmuzan, Panglima dan Pangeran Persia yang telah ditaklukkan pasukan Muslim, yang ingin bertemu dengan Amirul Mu’minin Umar bin Khattab.

Dengan ditemani Anas bin Malik, Hurmuzan datang dengan kebesaran dan kemegahannya. Dengan diikuti pemuka-pemuka terkenal dan seluruh anggota ray ban sunglasses keluarganya, Hurmuzan memasuki Madinah dengan menampilkan keagungan dan kemuliaan seorang raja. Cheap Ray Ban Sunglasses Perhiasan yang bertahta permata melekat di dahi. Sementara mantel sutra yang mewah menutupi pundaknya. Sementara itu, sebilah pedang bengkok dengan hiasan batu-batu mulia menggantung pada sabuknya. Ia bertanya-tanya di mana Amirul Mu’minin bertempat tinggal. Ia membayangkan bahwa Umar bin Khattab yang kemasyhurannya tersebar ke seluruh dunia pasti tinggal di sebuah istana yang megah.

Sampai di Madinah, mereka langsung menuju ke tempat kediaman Umar. Tetapi mereka diberitahu bahwa Umar sudah pergi ke Masjid sedang menerima delegasi dari Kufah. Mereka pun bergegas ke Masjid. Tetapi tidak juga melihat Umar. Melihat rombongan itu, anak-anak Madinah mengerti maksud kedatangan mereka. Lalu diberitahukan bahwa Amirul Mu’minin sedang tidur di beranda kanan Masjid dengan menggunakan mantel-nya sebagian bantal.




Betapa terkejutnya Hurmuzan, ketika ditunjukkan bahwa Umar adalah lelaki dengan pakaian seadanya, yang sedang tidur di Masjid itu. Hurmuzan beserta rombongannya nyaris tak percaya. Tetapi, memang itulah kenyataannya. Di Masjid itu tidak ada orang lain kecuali Umar.

Maka, dalam riwayat lain dikatakan, sambil berdecak heran Hurmuzan bergumam, “Engkau, wahai Umar, telah memerintah dengan adil, lalu engkau aman, dan engkau pun bisa tidur dengan nyaman.”

Setelah itu terjadi dialog panjang lebar. Juga kesepakatan-kesepakatan penting. Tetapi sepenggal kisah di atas, adalah kisah tentang kebesaran orang-orang terbaik sepanjang sejarah –seperti Umar– yang mengajarkan arti sesungguhnya dari rasa aman dan tenang. Bisakah dibayangkan, seorang pemimpin tertinggi, yang kekuasaannya bergema ke seantero bumi, dengan ringan dan tanpa rasa takut sedikitpun tidur-tiduran di emperan Masjid?

Tak bisa dipungkiri, ada hubungan erat antara tidur seseorang dengan rasa aman. Meski indikator rasa aman tidak semata hanya kenyamanan waktu tidur. Tetapi, yang pasti, orang yang sedang mengalami gangguan fisik maupun psikis, umumnya akan susah tidur. Gangguan susah tidur, dalam terminologi kedokteran atau psikologi sering disebut dengan insomnia (in = tidak, sommus = wholesale football jerseys tidur). Ada yang sementara, ada yang kronis.

Setiap orang perlu nfl jerseys cheap tidur. Meski lamanya waktu tidur yang diperlukan orang berbeda-beda. Dengan tidur, seseorang discount football jerseys melakukan pembersihan diri dari ‘sampah penyebab kelelahan’ sehingga saat bangun tubuh terasa segar. Karenanya, pada masa Rasulullah, menjelang perang Badar saat menanti pasukan musuh, salah satu kenikmatan besar yang dirasakan kaum muslimin adalah turunnya hujan dan datangnya rasa kantuk. Allah Saw berfirman, “(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai sesuatu penentraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan Music kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguarkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kakimu.” (QS. Al Anfal: 11)

bersambung…

sumber: Majalah Tarbawi April 2002, Kolom Dirosat

 

Leave a Reply