Orang-orang yang menawan Khubaib menyangka Khubaib akan memanfaatkan dan tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk membalas penghianatan mereka dengan penghianatan serupa. Memang bagi orang yang berpikir on ingin bertahan hidup dan membalas dendam, kesempatan tersebut akan dimanfaatkan sebaik-baiknya. Namun, tidak bagi Khubaib bahkan dia yang mengetahui dan merasakan ketakutan luar biasa sang ibu, berusaha menenangkan sang ibu, “Kamu takut aku membunuhnya? Insya Allah, tak akan aku Cheap Jerseys lakukan.”

Lihatlah betapa Islam telah mendidik mereka. Bandingkan antara Khubaib dan orang-orang musyrik pendengki yang telah membunuhnya secara kejam dan aniaya. Mereka sama-sama orang Arab, dilahirkan di negeri yang sama, dan tumbuh di tengah tradisi dan lingkungan yang sama pula. Namun, Khubaib memeluk Islam dan Islam telah membentuknya menjadi pribadi yang lain. Sementara orang-orang cheap nfl jerseys shop musyrik tetap bertahan dalam kesesatan yang memenjarakan mereka dalam tabiat yang buas dan suka khianat. Begitulah cheap jerseys kehebatan Islam yang telah berhasil mengubah dan mengganti tabiat manusia.

Keempat

Tragedi Raji’ dan Bir Ma’unah mengajarkan bahwa seorang muslim yang ditawan musuh tidak diperbolehkan menerima jaminan perlindungan dari mereka, meskipun ia diancam untuk dibunuh. Agar ia tidak terjerat hukum-hukum yang diberlakukan orang-orang kafir. Itulah yang dilakukan ‘Ashim.




Namun, meminta jaminan perlindungan juga diperbolehkan sembari mencari kesempatan untuk menyelamatkan diri. Inilah rukhshah (keringanan) yang diambil, Khubaib dan Zaid.

Seorang tawanan muslim yang mempunyai kesempatan untuk melarikan diri, menurut pendapat paling sahih wajib melarikan diri, sekalipun ia mampu menjalankan ajaran agamanya di tengah-tengah musuh. Karena, tawanan muslim akan selalu ditindas dan dinistakan di tangan orang-orang kafir. Maka, wajib baginya membebaskan diri dari nistanya penahanan dan perbudakan.

Kelima

Jawaban Zaid cheap jerseys wholesale bin Al-Datsnah kepada Abu Sufyan sesaat sebelum ia dieksekusi mati, menunjukkan kepada kita betapa dalamnya kecintaan para sahabat kepada kita betapa dalamnya kecintaan para sahabat kepada Rasulullah Saw. Tak diragukan lagi, kecintaan seperti ini menjadi salah satu faktor terpenting yang mendorong mereka rela berkorban apa saja demi menegakkan agama Allah dan demi membela Rasulullah Saw. Setinggi apapun iman seseorang Cheap nba Jerseys tanpa dibarengi kecintaan mendalam kepada Rasulullah Saw imannya tetap dianggap kurang dan belum sempurna. Kebenaran inilah yang dinyatakan tegas oleh Rasulullah Saw lewat sabda, “Tidak dianggap sempurna iman seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.”

bersambung…

(Sumber: The Great Episodes of Muhammad karya Dr. Al Buthy)