Memahami Tentang Rezeki dari Fenomena Supir Bajaj




Pagi itu saya sedang dalam perjalanan menuju sebuah tempat, menaiki sebuah mikrolet. Di sebelah saya duduk sepasang suami istri setengah baya yang tampak sedang bertanya-tanya sebuah alamat kepada penumpang lainnya, seorang ibu yang duduk di sudut paling belakang.

Udeh nanti ibu sama bapak turun aje di jembatan Pasar Baru, dari situ naik bajaj. Paling lima belas ribu,” ujar sang ibu di sudut mikrolet, dengan gaya Betawi tapi berlogat sedikit Jawa dalam suaranya. Lalu sang bapak yang bertanya, kembali menambahkan pertanyaannya, “Dari situ berarti sudah dekat ya?”

Udeh, Pak. Turun aje di jembatan Pasar Baru. Terus naik bajaj,” jawab sang ibu yang ditanya, masih dengan informasi yang sama.




“Gimana, Bu?” kali ini sang bapak bertanya kepada sosok di sebelahnya—yang tampaknya adalah sang istri. Istri dari bapak tersebut pun mengangguk-angguk, dan kini gilirannya bertanya masih tentang bahasan yang sama kepada sang ibu di sudut tersebut. “Jadi gitu ya, Bu. Naik bajaj aja?”

Iye. Naik bajaj limabelas rebu. Tapi ditawar ye, jangan kagak ditawar. Kalau kagak ditawar nanti duapuluh rebu. Kemahalan.” Kalimat sang ibu-ibu direspon dengan anggukan oleh pasangan tersebut.

Selanjutnya saya tidak tahu topik percakapan ketiganya, karena saya sudah sampai tujuan dan harus turun.

***

Di kesempatan lain, pada malam sebelumnya, saya sedang dalam perjalanan dari Bogor dengan menggunakan KRL. Karena sudah malam maka kereta pun tidak terlalu penuh. Saya duduk bersama rombongan sekeluarga. Ada sekitar tujuh orang dewasa dan anak-anak, serta tiga bayi masih dalam gendongan. Mereka sedang dalam perjalanan ke stasiun Gambir. Saya tahu karena mendengar percakapan telepon salah satu di antaranya—salah satu bapak berusia limapuluhan. “Iya, ini masih di KRL. Nanti turun di Gondangdia, terus ke Gambir pakai bajaj.”

***

Pernah juga pada suatu malam yang lain, saya yang sedang membeli nasi goreng melihat seorang ibu-ibu mengejar sebuah bajaj karena mungkin sedang terburu-buru. Pada waktu yang sama saya pun melihat beberapa bajaj melintas. Ada yang berpenumpang, ada pula yang masih mencari penumpang.

***

Pada ketiga peristiwa berbeda tersebut, tanpa sengaja, selalu melintas sebuah pikiran yang sama di benak saya. Sebagai seorang pengguna jasa transportasi online, ada sesuatu yang menggilitik dalam pikiran saya. Di tengah banyak kelebihan dari model transportasi online dibandingkan dengan bajaj, namun ternyata bajaj masih memiliki banyak peminat. Subhanallah, begitulah Allah subhanahu wa taála mengatur rezeki untuk seluruh mahluk hidup. Begitu pula dengan para supir bajaj tersebut, Allah subhanahu wa taála sudah menjamin rezeki untuknya.

Sekitar dua tahun yang lalu, saat transportasi online belum marak seperti sekarang, saya pun salah satu pelanggan setia bajaj. Ketika itu ada sebuah kegiatan per pekan yang mengharuskan saya naik bajaj di setiap perjalanan pulangnya. Karena sulit menemukan taksi, ojek, apalagi taksi/ojek online. Tapi sekarang, saya hampir-hampir tidak pernah naik bajaj. Transportasi online menjawab segalanya.

Leave a Reply