Adalah Djenne, biasa disebut Dienne atau Jenne, merupakan kota penting yang bersejarah di Republik Mali, Afrika Barat. Kota Djenne terletak di sebelah barat Sungai Bani. Berbicara tentang kota Djenne, tidak terlepas dari arsitektur bangunan berlumpurnya. Ya, kota Djenne sangat identik dengan arsitektur bangunan yang dibangun dari bahan dasar lumpur. Salah satunya adalah Masjid Raya Djenne, masjid ini dibangun dengan bahan baku utamanya adalah lumpur. Masjid Djenne dibangun pertama kali pada tahun 1220, dan dibangun kembali pada tahun 1907 . Mengusung gaya arsitektur Sudano-Sahelian tanpa meninggalkan ciri khas ornamen islamnya, masjid ini menjadi satu-satunya masjid lumpur terbesar di dunia. <img class="wp-image-3069 size-full aligncenter" src="http://zonamasjid.com/wp-content/uploads/2017/01/mosque.jpg" width="900" height="460" Cheap Oakleys srcset=”http://zonamasjid.com/wp-content/uploads/2017/01/mosque.jpg 900w, http://zonamasjid.com/wp-content/uploads/2017/01/mosque-300×153.jpg 300w, http://zonamasjid.com/wp-content/uploads/2017/01/mosque-768×393.jpg 768w” sizes=”(max-width: 900px) 100vw, 900px” />

Masjid Raya Djenne dibangun dengan bahan baku yang disebut dengan istilah ‘ferey’ yang kemudian dikeringkan MELEĞİ!! dibawah sinar matahari, kemudian diplester dengan batu untuk menghaluskan permukaannya. Memiliki tinggi  mencapai 3 meter, Masjid ini memiliki ketebalan dinding 41-61 cm. Hemm cukup tebal ya. Agar lebih kuat dan tidak mudah roboh, bangunan Cheap nfl Jerseys masjid Djenne diperkuat dengan kayu-kayu pohon kurma, cheap oakleys yang juga berguna untuk menjaga keretakan akibat cuaca panas dan lembab. Kayu-kayu dari pohon kurma itu juga berguna untuk menopang kekokohan masjid saat direhab atau diperbaiki.

Bahan baku utama lumpur pada dinding masjid berguna untuk menahan masuknya hawa panas panas di siang hari, dan hawa dingin di malam hari. Jadi, bahan baku lumpur sangat berguna untuk menjaga suhu di dalam masjid. Di masjid ini, air wudhu dialirkan melalui pipa pada atap masjid bukan pada dinding masjid, agar menjaga kualitas dinding dari kerusakan.




<img class="wp-image-3070 size-full aligncenter" src="http://zonamasjid.com/wp-content/uploads/2017/01/masjid-djenne.jpg" width="786" height="448" srcset="http://zonamasjid.com/wp-content/uploads/2017/01/masjid-djenne.jpg 786w, http://zonamasjid.com/wp-content/uploads/2017/01/masjid-djenne-300×171.jpg 300w, http://zonamasjid.com/wp-content/uploads/2017/01/masjid-djenne-768×438.jpg 768w" sizes="(max-width: 786px) 100vw, 786px" cheap nfl jerseys />

Mengingat bahan baku utama masjid Djenne adalah lumpur, tentu bangunannya tidak akan bertahan. Nah, hal ini lah yang menjadi dasar penggerak tradisi melumpuri Masjid Djenne tiap tahunnya, khususnya saat musim panas. Masjid Djenne direnovasi setiap tahunnya oleh masyarakt dengan cara melumpuri kembali bangunan Masjid.

<img class="wp-image-3073 size-full aligncenter" src="http://zonamasjid.com/wp-content/uploads/2017/01/tradisi-djenne.jpg" width="624" height="351" srcset="http://zonamasjid.com/wp-content/uploads/2017/01/tradisi-djenne.jpg 624w, cheap nfl jerseys http://zonamasjid.com/wp-content/uploads/2017/01/tradisi-djenne-300×169.jpg 300w” sizes=”(max-width: 624px) 100vw, 624px” />

Kegiatan melumpuri atau merenovasi Masjid menjadi seperti sebuah festival menarik bagi warga Djenne yang juga di dampingi pengawasan dari 80 ahli bangunan senior. Kegiatan ini hampir saja punah, mengingat para ahli bangunan sulit mencari dukungan pemuda-pemuda dalam festival melumpuri ulang Masjid Djenne. Dimana banyak pemuda Djenne memilih mencari pekerjaan sebagai pamandu turis meninggalkan kota Djenne menuju Kota Bamako.

Alhamdulillah, kini masyarakat Djenne melakukan perbaikan dan pemeliharaan masjid cukup baik setelah cukup lama masjid Djenne di abaikan. Yakni dengan menetapkan beberapa tahun sekali secara bersama masyarakat bergotong royong melumpuri kembali Masjid ini dengan perayaan khusus. Oh ya, pada tahun 1988, Masjid Raya Djenne resmi dijadikan sebagai cagar alam budaya warisan dunia oleh UNESCO.