Resensi: And The Mountains Echoed




And The Mountains Echoed diungkapkan oleh Khaled Hosseini sebagai judul yang terinspirasi dari sebuah puisi lama berjudul Nurse’s Song milik William Blake. Puisi yang bercerita tentang seorang pengasuh (nurse) memanggil anak-anak yang masih asyik bermain di luar untuk segera pulang karena malam telah datang. Khaled Hosseini mengambil lirik akhir dari puisi tersebut, ‘and all the hills echoed’, yang menggambarkan bukit-bukit di sana bergema oleh suara lompatan, teriakan, dan tawa anak-anak tersebut selepas mereka pulang.

Khaled Hosseini seolah mengikat puisi tersebut di pembuka cerita. Seorang ayah bernama Saboor menceritakan sebuah dongeng tidur kepada Cheap nfl Jerseys dua anaknya—Abdullah dan jordans for sale Pari—tentang seorang raksasa yang tinggal di balik bukit. Raksasa tersebut rutin untuk meminta kepada salah satu keluarga di desa-desa untuk menyerahkan salah satu anak mereka untuk dibawanya ke atas bukit. Namun, tanpa disangka ternyata anak-anak yang dibawa oleh raksasa tersebut tidak dimangsanya, melainkan dibawa ke sebuah ray ban outlet istana yang indah di mana mereka bisa senang dan riang bermain.

Cerita pun dimulai. Kisah dalam dongeng harus dialami oleh Saboor sendiri ketika ia memutuskan menyerahkan putri kecilnya Pari kepada keluarga Suleiman dan Nila Wahdati. Keluarga kaya raya di Kabul di mana kakak iparnya yang bernama Nabi bekerja sebagai supir pribadi. Nabi adalah kakak dari Parwana, seorang wanita yang dinikahi Saboor beberapa tahun setelah istri pertamanya—ibu dari Abdullah dan Pari—meninggal selepas melahirkan Pari.




Pari adalah segalanya bagi Abdullah. Namun kenyataan membuat keduanya terpisah. Kisah kedua karakter utama inilah yang kemudian mengangkat tema cerita, yaitu persaudaraan dalam keluarga. Keluarga tampaknya masih menjadi tema favorit Khaled Hosseini, sama seperti yang dilakukannya untuk dua buku yang telah lebih dulu lahir, The Kita Runner dan A Thousand Splendid Sun. Kisah persaudaraan juga diceritakan melalui karakter lain. Parwana dengan saudara kembarnya Masooma, serta kakaknya Nabi. Timur dan Idris, saudara sepupu yang merupakan tetangga depan rumah keluarga Wahdati. Markos—dokter dari Yunani yang mengabdi di Afghanistan—dengan Thalia, putri sahabat ibunya yang menjadi adik angkat. Juga Isabelle, Alain, dan Thierry, anak-anak Pari.

Dibandingkan dua karya sebelumnya, Khaled Hosseini telah menciptakan alur yang berbeda di novelnya satu ini. Sebuah alur yang sangat menarik. Berawal di tahun 1952, pembaca akan di bawa ke masa yang lebih lampau dan tanpa mengetahui kapan, pembaca pun akan di bawa ke masa-masa berikutnya. Pembaca akan diajak melompat dari waktu ke waktu, juga dari satu cerita ke cerita yang lain. Saat mengikuti cerita dari karakter-karakter di dalamnya, pembaca pun akan dibawa mengembara dari Shadbagh—sebuah desa tandus di Afghanistan—ke Kabul, ke Paris, ke San Fransisco, lalu ke pulau Tinos Yunani. Meski memiliki cerita masing-masing ada titik di mana semua karakter yang ada berkaitan satu sama lain, yang kemudian menciptakan ‘rasa mengerti’ pada setiap peristiwa yang terjadi.

Khaled Hosseini juga begitu pandai membuat kejutan. Ia Cheap Oakleys menggambarkan bagaimana di dalam kehidupan kita pun sering dikejutkan oleh orang-orang terdekat. Emosi pembaca akan dibuatnya bergejolak. Seorang karakter yang tampak antagonis akan menarik simpati pembaca di masa berikutnya. Pembaca akan diajak memahami bahwa di balik keburukan atau kelemahan seseorang ada sebuah peristiwa yang melatarbelakanginya. Pembaca akan dapat mengambil pelajaran dari sebuah pengorbanan, penghianatan, penerimaan, menjaga kehormatan, dan sifat manusiawi lainnya.

Kesamaan novel ini dan dua buku sebelumnya adalah hubungan antara Afghanistan dengan dunia luar. Khaled Hosseini masih konsisten untuk menghadirkan budaya dan sejarah Afghanistan. Dari sini pembaca dapat merasakan bagaimana rasanya menjadi orang-orang yang mengalami secara langsung cheap jerseys konflik yang pernah terjadi di sana.

Cerita ditutup oleh dua karakter utama. Beberapa review mengatakan add-money bahwa cerita berakhir dengan setengah menggantung dan sulit diterima. Tapi bagi saya justru menjadi hal menarik ketika di sana tertulis, ‘they are children once more’.

Versi asli diterbitkan oleh penerbit Riverhead Books setebal 446 halaman. Kita juga bisa membaca versi terjemahan bahasa Indonesia yang telah diterbitkan oleh penerbit Mizan.

Lalu, apakah Abdullah dan Pari kembali bertemu?

Selamat membaca!

Leave a Reply