Sejenak Menahan Lisan




Seorang teman pernah berkata bahwa ketika ia memasang sebuah earphone di telinga, pada waktu yang sama sebenarnya ia tengah menggunakan bahasa sosial kepada orang-orang di sekitarnya. Yaitu sebuah bahasa tanpa kata, sebuah isyarat yang menyampaikan bahwa ia sedang tidak ingin diajak berbicara karena ia yang juga sedang tidak ingin berbicara.

Karena sebagian besar dari kita manusia memang sangat senang berbicara. Kegemaran ini seolah-olah membuat dinding di sekitar kita mampu mendengar. Begitu senangnya berbicara sampai-sampai tidak ada di antara kita yang mau menjadi pendengar. Fakta lidah tak bertulang seakan wholesale football jerseys china membuat kita yakin bahwa kita selalu mudah  menggerakkannya untuk mengucapkan kata-kata.

Namun, meskipun demikian ternyata ia lebih tajam dari sebilah mata pedang istana. Ia mampu merobek dan membentuk bekas luka. Bukankah kata-kata yang keluar darinya mampu memicu rasa? Rasa yang kemudian bisa memberikan makna berharga, atau sebaliknya, makna hina. Mungkin Cheap Jordan Shoes inilah mengapa Sang Pencipta menghadirkan pihak untuk selalu mengawasinya.




Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS. Qaf [50]: 18)

Lalu mengapa kita sering luput menjaganya? Kita terus menerus berbicara tanpa berpikir akibat dan dampaknya. Bukankah kepada diri sendiri seharusnya kita sering bertanya, apakah lisan yang bergerak ini akan melahirkan penghargaan? Atau sebaliknya, melahirkan penghinaan yang menyesakkan?

Kita sudah melihat bagaimana lisan-lisan yang tak terjaga membuahkan penghinaan yang berujung pada kebencian. Bahkan luka di jutaan hati manusia mampu digores oleh hanya tak terkendalinya satu lisan. Tidak heran jika Rasulullah shalallahu ‘alahi wa salam bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba bisa jadi berbicara dengan suatu perkataan yang tidak ia pikirkan (terlebih dahulu), padahal justru dengan sebab perkataannya itu ia akan dapat tergelincir ke neraka sejauh antara jarak antara timur dan barat.” (HR Bukhari dan custom jerseys Muslim)

Meski itu sulit, marilah kita berupaya menjaganya. Bahkan jika masih saja sulit, bagaimana jika kita mencoba sejenak untuk menahannya?

Kalaupun kita selalu ingin terus berbicara, marilah untuk coba sejenak menahan lisan kita sebelum keluarnya kata-kata. Kepada diri sendiri, berhentilah sejenak untuk bertanya dan merasa. Jika yang keluar akan menciptakan makna berharga, ucapkan. Namun jika yang akan tercipta adalah makna hina, maka diamlah.

Barangsiapa yang beriman kepada Allah Cheap Jerseys dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam. (HR Bukhari & Muslim)

Lalu teman tersebut berkata, “Tanpa memasang ini orang-orang akan mengajakku berbicara dan aku pun harus balik berbicara pada mereka.  Aku tidak menyetel musik atau apapun. Aku oakley sunglasses for men tetap bisa mendengar suara en mereka. Ya, mungkin aku sedang sekedar ingin mendengar.”

Maka untuk sejenak menahan lisan, bukankah seharusnya tidak begitu sulit?

Allahua’lam.

 

oleh: An Nisaa Gettar

Leave a Reply