Pemandangan Sejuk di Sela ‘Muslim Ban’ AS




“Sekarang masih kondusif. Doakan semoga semua baik-baik saja,” ujar seorang teman beberapa bulan yang lalu ketika ditanya kabar pasca terpilihnya Donald Trump sebagai presiden. Ia seorang Muslimah berjilbab dan tengah menempuh studi magister di Universitas Nebraska, Lincoln, Amerika.

Semoga Allah ta’ala selalu menjaganya. Juga saudara-saudara Muslim lainnya yang berada di negeri Paman Sam sana. Mereka yang sedang Allah uji iman dan kesabarannya. Terlebih mereka yang berasal dari 7 negara mayoritas Muslim—Suriah, Yaman, Libya, Somalia, Sudan, Irak, dan Iran—yang telah ditetapkan presiden Trump dalam kebijakannya–yang tidak bijak–bernama ‘Muslim Ban’.

Sejak diresmikannya peraturan baru tersebut pada 27 Januari lalu, Amerika terus menerus bergemuruh oleh langkah ribuan warganya yang turun ke jalan melakukan aksi protes di berbagai wilayah. Chaos terjadi di banyak bandara dan pelabuhan. Para pelajar imigran terancam harus meninggalkan Amerika dan sekolah mereka. Perusahaan-perusahaan pun terancam kehilangan pegawainya yang berstatus imigran. Simbol Liberty tampak sedang goyah karena kebijakan baru yang dipandang sangat tidak-Amerika, diskriminatif, dan menciderai nilai kebebasan yang mereka junjung.




Umat Muslim di Amerika tengah diuji. Dan ini mengingatkan kita pada masa kenabian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, di mana beliau dan para sahabat yang telah ber-Islam dimusuhi dan didzalimi oleh masyarakat kafir Quraisy. Namun, intimidasi yang dialami oleh para pendahulu sungguh jauh lebih menyakitkan dan begitu luar biasa.

Rasulullah—sosok yang mulia di hadapan Allah—pernah dililit lehernya saat sedang mendirikan shalat di Hijir Ismail oleh Uqbah bin Abu Mu’ith. Beliau juga pernah dilempari jeroan unta ketika sedang sujud di sekitar Masjidil Haram. Belum lagi bentuk siksaan dan penindasan lainnya seperti cemoohan, umpatan, hinaan, dan sebagainya, yang juga dialami oleh para sahabat di sekitar beliau.

Jika yang terjadi di Amerika saat ini adalah baru sebatas problematika politik, maka hal tersebut tidaklah seberapa dibandingkan dengan ujian para pendahulu kita yang memperjuangkan aqidah. Sebagaimana Abu Bakar pernah berseru wholesale nfl jersyes saat Terms membantu Rasulullah, “Apakah kalian membunuh orang hanya lantaran dia mengatakan, cheap jordans for sale ‘Tuhanku adalah Allah?’”

Dr. Al Buthy dalam buku sirah-nya The Great Episodes of Muhammad menuliskan bahwa oakley outlet sudah sepatutnya seorang Muslim menyingkirkan sikap putus asa ketika menghadapi suatu kesulitan atau ujian. Ia harus memahami bahwa ujian adalah sesuatu yang sesuai dengan karakteristik agama ini. Kabar gembira sesungguhnya menanti setelah ia mengalami suatu cobaan.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan (dengan aneka cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang beriman bersamanya, “Bilakah datangnya pertolongan Alah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. Al Baqarah [2]: 214)

Bahkan sekalipun kericuhan atas polemik yang terjadi bertebaran di banyak tempat, kita masih bisa menemukan pemandangan sejuk di sela-sela situasi yang memanas. Jika biasanya seorang Muslim harus mencari secuil sudut atau ruang untuk mendirikan shalat saat berada di tempat publik, maka saat ini kita dapat sering melihat barisan para Muslim shalat berjamaah di sana.

Misalnya para imigran Muslim yang tertahan di bandara karena peraturan baru ‘Muslim Ban’, mereka mendirikan shalat berjamaah dan dipagarbetisi oleh warga Amerika yang turut serta dalam aksi penolakan sekaligus menyerukan agar mereka dibebaskan. Sebagaimana yang terjadi di Denver International Airport, Detroit Metro Airport, John F. Kennedy Airport, Dallas/Fort Worth Airport, dan sejumlah tempat wholesale nfl jerseys lainnya.

Maka pemandangan sejuk ini bisa jadi adalah setitik dari pertolongan Allah yang amat dekat tersebut.

Allahu’alam

 

oleh: An Nisaa Gettar

 

Leave a Reply