Mengulang Makna Toleransi




“Pernikahan maen kami Felicia Tobing di gereja Katolik Katedral Jakarta. Puji Tuhan kami bisa sampai dengan melewati kerumunan demo di depan Masjid Istiqlal, di mana pendemo yang mayoritas adalah umat Muslim turut membantu kamu melwati kerumunan demo…”

“…Akhirnya kami dapat sampai dengan bantuan wholesale football jerseys china para pendemo yang keseluruhannya adalah umat Muslim…”

Demikian penggalan yang ditulis oleh akun Facebook Monika Tobing, keluarga dari saudari Felicia Tobing yang pada tanggal 11 Februari lalu menikah di Gereja Katolik Katedral, bertepatan dengan aksi 112 umat Muslim di Masjid Istiqlal. Sebuah ungkapan jujur dalam merasakan kehangatan toleransi yang dilakukan oleh peserta aksi 112. Maka mengapa masih ada yang mengatakan bahwa agama kami Islam bukanlah agama yang toleransi?




Tentu ini sebuah kesalahan besar. Entah itu merupakan kekeliruan persepsi, atau sebuah kebenaran yang tidak mau diterima oleh orang-orang yang berkeras hati. Sebagaimana John F. Kennedy mengatakan, “The great enemy of the truth is very often not the lie, deliberate, contrived, and dishonest, but the myth, persistent, persuasive, and unrealistic.” Bahwa musuh kebenaran seringkali bukan kebohongan, namun persistensi. Ternyata memang tidak dipungkiri masih banyak orang-orang di luar sana—bahkan ada pula yang mengaku diri bahwa mereka pun Muslim—persisten bahwa agama ini kurang memiliki nilai toleransi. Sebuah persistensi yang mungkin ditarik hanya atas dasar pengaruh media dan pemikiran yang keruh.

Bagaimana jika kita sejenak kembali ke masa lampau, pada masa kenabian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Ada begitu banyak kisah beliau yang mengajarkan kepada kita arti nilai toleransi. Termasuk bagaimana makna toleransi sebenarnya terhadap non-Muslim.

Dulu hijrah Rasulullah ke Madinah menandai terbentuknya wilayah Islam (dar al-islam) pertama di muka bumi. Salah satu pilar untuk mengokohkannya adalah menyusun Piagam Madinah, yaitu sebuah konstitusi yang di dalamnya juga mengatur bagaimana hak dan kewajiban masyarakat non-Muslim.

Beberapa butir Piagam Madinah yang terkait dengan hal ini di antaranya:

  • Orang Yahudi dan kaum Muslim harus memikul biaya bersama-sama selama semuanya berperang (mempertahankan Madinah).
  • Orang Yahudi Bani Auf satu umat dengan kaum mukmin. Bagi kaum Yahudi agama mereka dan bagi kaum Muslim agama mereka, kecuali orang yang berbuat aniaya atau dosa maka dia tidak membinasakan kecuali dirinya dan keluarganya.
  • Orang Yahudi wajib mengeluarkan biaya perang mereka sendiri, begitu juga orang Muslim. Mereka semua harus saling bahu-membahu menghadapi orang yang memerangi pendukung piagam ini.

Ini tidak semua, tapi dari tiga butir di atas kita dapat mengerti bahwa konstitusi pertama wilayah Islam pun telah memahami nilai toleransi dan menyadari rasa cinta tanah air. Kita pun melihat bahwa pada masa pemerintahan pertama negara Islam masyarakat Muslim telah menyadari adanya perbedaan dalam kepercayaan adalah salah satu aspek yang harus diatur dan dilindungi oleh negara. Sebuah bentuk penjunjungan nilai toleransi yang memenuhi nilai keadilan dan hak asasi manusia.

Demikian pula yang dilakukan oleh sahabat Rasulullah NOEL Umar bin Khattab ketika membebaskan Jerussalem dari kekuasaan Bizantium. Ia membuat perjanjian dengan Uskup Sophronius—pimpinan Jerussalem ketika itu—yang didalamnya menyebutkan bahwa Umar menjamin keamanan penduduk Jerussalem. Sebagai khalifah, Umar pun akan memberikan jaminan jiwa mereka, harta, gereja-gereja, salib-salib, orang-orang lemah dan mereka tidak akan dipaksa meninggalkan agama mereka. Tidak seorang pun dari mereka diusir dari Jerussalem.

Di sinilah nilai toleransi dalam pribadi seorang Muslim melekat. cheap nfl jerseys Untukmu agamamu, dan untukku agamaku. (Al Kaafiruun [109]: 6) Letak toleransi ada pada bagaimana kita menghormati perbedaan. Bukan ada pada bagaimana kita melebur terhadap perbedaan.

Karena perlu diingat pula adalah bahwa sebagai Muslim kita pun memiliki tugas-tugas kita sebagai hamba. Berdakwah menyebarkan nilai-nilai Islam adalah kewajiban. Menegakkan aqidah tauhid adalah kewajiban. Mengajak dan mengingatkan kebenaran kepada sesama Muslim adalah kewajiban. Karena itu, jangan memutarbalikkan bahwa kewajiban-kewajiban tersebut adalah ajakan pada anti-toleransi. Pun kalaupun ada aturan-aturan yang tampak atau seakan menyudutkan non-Muslim, bukan berarti inipun anti-toleransi. Karena ini adalah ketentuan yang wajib kita yakini dan kita tegakkan.

Toleransi antar umat beragama tidak terletak pada sikap mengaburkan ajaran agama kita, atau membenarkan ajaran keyakinan lain. Namun, terletak pada sikap menghormati, tidak memaksakan, dan bersikap santun kepada penganutnya. Karena itu jangan mencampuradukkan dua hal yang ada pada posisi berbeda.

Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab, kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barangsiapa yang ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat perhitungan-Nya. (QS. Ali Imran [3]: 19)

Bersikap toleransi tidak dilakukan dengan mengendurkan aturan yang Allah tetapkan, atau menyesuaikannya sekehendak kita atas dasar nama toleransi. Hal ini yang perlu sama-sama kita pahami dengan belajar lebih banyak tentang aqidah dan mendekatkan diri pada Allah yang Mahaesa.

Perkara toleransi antar umat beragama juga pernah ditulis oleh Buya Hamka cheap jordans for sale dalam salah satu artikelnya.

Sebagai putra Indonesia, saya setia pada Pancasila, apalagi dasar pertama ialah percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Bukan saja saya, apalah arti saya. Namun, seluruh umat Islam dan pemimpinnya yang belum bisa dibeli oleh bujukan dunia, akan tetap menegakkan toleransi dalam negeri ini. Namun, saya dan seluruh kaum cheap jerseys Muslimin akan menentang seluruh aksi dam seluruh kecurangan yang dilancarkan dengan nama agama.

Allahua’lam.

Oleh: An Nisaa Gettar

Leave a Reply