Emosi merupakan bagian alami dalam tubuh kita sebagai manusia. Manusia tercipta bersama dengan emosi yang melekat di dalamnya. Emosi juga sebuah hal yang dinamis karena ia selalu berganti tergantung pada situasi seperti apa yang kita hadapi. Ada bahagia, sedih, antusias, marah, lega, kecewa, dan sebagainya. Baik kebahagiaan maupun cobaan yang menghampiri kita, keduanya melahirkan emosi.

Al Qur’an telah mengatakan pada kita:

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqarah [2]: 155)




Lalu, bagaimana kita menyertai emosi-emosi tersebut?

Saya bukan seorang ahli psikologi, tapi sebagai Muslim saya mencoba berbagi tentang satu hal yang bisa kita sertakan jika diri kita berada dalam emosi tertentu.

Bagi saya, pertama kita perlu menyadari bahwa emosi dan penyebabnya adalah bagian dari dalam hidup kita yang tidak mungkin terelakkan. Dan sebagai Muslim, berbagai cara rupanya butuh kita upayakan agar iman kita terjaga, agar kita senantiasa menyadari bahwa ada Dzat yang Mengatur segala sesuatu di muka bumi ini, di mana manusia tidaklah terkecuali. Semoga ayat Al Quran berikut dapat kembali mengingatkan:

Dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu). Dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis. Dan bahwasanya Dialah yang mematikan dan menghidupkan. (QS An-Najm [53]: 42-44)

Jangankan emosi diri, hidup dan mati kita pun telah ada yang Mengatur dan Menentukan. Maka demikian pula dengan kekayaan, kesehatan, dan orang-orang di sekitar kita. Mereka semua adalah milik Allah subhanahu wa ta’ala yang tanpa kita tahu kapan akan kembali pada-Nya. Jangankan mereka, kita sendiri pun suatu saat bahkan akan kembali pada Sang Pencipta.

Keimanan ini yang diharapkan dapat mengantarkan kita pada sikap bersyukur dan bersabar di setiap emosi yang kita rasakan. Sebagaimana hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berikut:

Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin. Jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya; dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya. (HR Muslim)

Sikap bersyukur dan bersabar ini juga yang kemudian diharapkan dapat mengantarkan kita pada ketaqwaan. Ketaqwaan yang membuat kita menjadi hamba yang semakin taat. Bukankah di sisi Sang Pencipta, mereka yang bertaqwa adalah yang mulia?

…Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al-Hujurat [49]: 13)

Tidak hanya disebut mulia, dengan menjadi taqwa Allah pun akan membukakan suatu jalan keluar atas kesulitan yang kita hadapi. Sebagaimana firman-Nya dalam ayat berikut:

“… Barangsiapa betaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. At-Talaq [65]: 2)

Bukankah ini seperti sebuah siklus? Ketika kita mengembalikan segala sesuatunya kepada Allah, maka Allah akan meneruskan apa yang telah kita kembalikan melalui sebaik-baiknya cara? Saat bahagia, sedih, bangga, kecewa, dan berbagai emosi diri lainnya yang kita rasakan kita sadari semua dari Allah, lalu mengembalikan semuanya pada Allah dengan syukur dan sabar yang kita harapkan dapat mengantarkan kita pada ketaqwaan, maka Allah pun akan memberikan jalan keluar atas segala sesuatu yang di awal tadi kita rasakan.

Baiklah, ini mungkin bukan sesuatu yang dapat kita hitung secara matematis. Namun mencari makna di tengah-tengah kehidupan kita dan menyertainya dengan apa yang telah Allah firmankan dalam Al Qur’an bukankah salah satu cara yang bisa kita upayakan agar menjadi hamba yang taat dan tetap berada di jalan-Nya?

 

Allahua’lam bi shawab.