Jika kita berjalan kaki menyusuri jalan Ganesha yang teduh di kawasan kampus ITB, maka kita akan menjumpai bangunan yang merupakan masjid kampus pertama di Indonesia, yaitu Masjid Salam ITB. Di sana kita tidak akan menjumpai kubah sebagaimana layaknya sebuah masjid, tetapi justru sebuah atap berbentuk seperti buku terbuka yang jelas jika dilihat dari atas serta dikatakan sebagai simbol dengan makna ilmu pengetahuan. Tidak adanya kubah menjadikan masjid dapat dibangun tanpa tiang-tiang penyangga di tengah bangunan. Bentuk arsitektur yang demikian pun memiliki tujuan yang luar biasa, yaitu agar shaf shalat tidak terputus oleh tiang-tiang penyangga.

Gagasan tersebut tidak lepas dari peran sosok arsitek yang membuatnya, yaitu Ahmad Noeman. Gaya masjid yang unik karena tanpa kubah dan tiang penyangga sempat diperdebatkan karena mengubah pola dan tradisi bangunan masjid pada umumnya. Namun filosofi yang ia gunakan tidak melanggar prinsip Islam dan justru menegakkannya, yaitu agar shaf shalat rapat dan tidak terputus. Ahmad Noeman juga menghadirkan garis-garis vertikal pada bangunan yang menunjukkan hubungan antara manusia dan Tuhan, serta garis-garis horizontal yang menggambarkan hubungan antara manusia dengan sesamanya.

Masjid kampus pertama tersebut dibangun sejak dekade 1960-an dan lahir atas prakarsa para aktivis kampus ITB saat itu, seperti T.M. Soelaiman, Muhammad ‘Imaduddin ‘Abdulrahim, Ahmad Noeman, Ahmad Sadari, Adjat Sudrajat. dan beberapa nama lainnya. Ketika itu gagasan untuk membangun masjid kampus ditentang oleh rektor ITB Prof. Ir. O. Kosasih, dengan alasan: jika yang Muslim minta masjid, nanti yang komunis minta Lapangan Merah. Meskipun demikian mereka tidak menyerah. T.M. Soelaiman, Ahmad Noeman, dan dua orang kawannya berinisiatif untuk pergi ke Istana Negara dan meminta persetujuan dari Presiden Soekarno. Sebelumnya mereka juga mengundang Jenderal A.H. Nasution dan Alamsjah Ratu Perwiranegara untuk shalat Jumat di aula ITB dalam rangka menggalang dukungan.




Keempatnya pun bertemu menghadap Presiden Soekarno dan berhasil memperoleh izin pembangunan masjid kampus. “Siapa itu sahabat yang menggali parit pada saat Perang Khandaq?” tanya Presiden Soekarno pada sosok di sampingnya, Saifuddin Zuhri, Menteri Agama RI. Pertanyaan tersebut terlontar dalam pertemuannya bersama T.M. Soelaiman dan kawan-kawan. Sang menteri yang juga pimpinan NU dengan sigap menjawab, “Salman Al-Farisi.” Kemudian, “Nah itu, masjid ini saya namakan Salman!” ujar Sang Presiden.

Sebelumnya mereka pun memperoleh dukungan dari seorang dosen Planologi beragama Kristen bernama Drs. Woworuntu dan Prof Roemond, seorang Belanda yang merupakan ketua Jurusan Arsitektur. Pembangunan masjid pun dimulai. Hingga kemudian pada tanggal 5 Mei 1972 untuk pertama kalinya Masjid Salam ITB dipakai untuk shalat Jumat, setelah sebelumnya diresmikan oleh Rektor ITB Prof Dr. Ir. Doddy Trisna Amidjaja. Pada momen bersejarah tersebut, khutbah Jumat dipimpin oleh T.M. Soelaiman dengan imam shalat, Abdul Latif Aziz, serta muazzin, Endang Saifuddin Anshari.

Masjid Salman ITB telah berjasa membina dan melahirkan para teknokrat muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT serta membentuk kader-kader pejuang umat yang tangguh. Saat ini Masjid Salman tidak hanya menjadi pelopor masjid kampus pertama, tetapi juga telah menjadi wadah pembinaan mahasiswa ITB dan masyarakat sekitarnya, termasuk para mahasiswa dari kampus lain. Kegiatan di dalamnya pun berkembang dari masa ke masa, seperti kajian ilmu pengetahuan, taman baca, rumah amal, penanggulangan bencana, dan sebagainya.

Referensi: